
Tuhan menciptakan manusia sudah sepaket dengan takdirnya, sebelum manusia diberi nyawa, dia sudah ditawari kesepakatan, apakah dia akan setuju dengan takdirnya atau tidak, jika manusia itu memilih untuk hidup maka dia telah menandatangi kesepakatan itu. Takdir yang telah disepakati adalah takdir yang memang mampu dilalui oleh manusia itu, seberat apapun takdir itu. Jika dia tidak akan mamapu melewati takdirnya itu, maka dua akan mundur, tidak mau menanda tangani kesepakatan menjadi manusia.
Sri teringat perkataan sigit waktu ia hampir gila karena kehilangan anaknya, dan ajaibnya waktu itu, karena mendengar wejangan aneh dari sigit itu sri mulai sadar dan akan menjalani kesepakatan ini sampai akhir kontrak dengan tegar.
Tapi apa ini, takdir macam apa lagi ini, kenapa dia mau menanda tangani kesepaktan ini. Oh apa dia dihidup yang terdahulu telah menjadi seekor semut yang merasa hidupnya kurang tantangan, karena hanya berjalan lurus menuju benda manis dan pulang balik lurus ke arah sarang nya lagi, jika bertemu kawanannya berhenti sebentar sekedar say hai atau halo.
Lalu dikehidupan yan ini dia dengan suka rela mananda tangani perjanjian dan bersepakat untuk menjalani takdir yang rumit dari seorang manusia. Jika itu benar sri dengan suka rela lagi mau kembali menjadi semut lagi.
Tapi dia juga tidak yakin kalau ada kehidupan yang lain sebelum yang ini. Ah kacaunya otak setelah dia dipertemukan dengan pasangan drama kolosal tadi.
"sri lo ada hubungan apa sama pacarnya big bos?"
"sri lo ada masalah apa sama big bos?"
"sri lo mantannya gebetan big bos?"
"lo dalam masalah besar"
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul setelah Tata dan Satria menghilang dari hadapan mereka, semua atasan dan rekan kerjanya membordir dengan keingintahuan mereka dan ungkapan bela sungkawa karena berhubungan dengan big bos mereka yang terkenal menyeramkan.
"kepo" dan
"bodo amat"
Jawaban sri dari semua pertanyaan dan ujaran bela sungkawa itu.
Benar dia memang bodo amat dengan yang terjadi tadi, pikiran tercepatnya hanya dia harus dengan baik lagi dan cari aman saja, serta sok enggak kenal saja pada bosnya, berperilaku sopan pada wanita itu bila dia dengan sadar dan sengaja datang kesini lagi menenuminya atau memanas-manasinya. Agar dia selamat dan tetap dibayar upahnya sesuai kontrak.
Atau pilihan kedua dia keluar saja dari tempat ini dan mencari kerjaan lain. Tapi apa?
.
.
.
"Nop, bang git, gue ketemu mas satria lagi" ucap sri kala ia sedang bersama para sahabatnya di kantin kampusnya
"Sama wanita itu" sambungnya lagi
Novi dan sigit termengu mendengar ucapan sri,
"di tempat gue kerja" sri lagi
"dia bos gue"
"wanita nya"
lagi sigit dan novi tercengang, menghentikan acara mengunyahnya
"nggak usah syok gitu, gue biasa aja kok" tak mendengar jawaban dari mereka, sri menanggapi nya sendiri
"lo baik-baik kan?" novi mengkhawatirkannya
"oh nice.." jawab sri dengan tersenyum, tapi sorot matanya menandakan dia tidak nice-nice saja
"sini abang peluk" sigit meraih tubuh sri
"gue nggak papa bang, malah seneng akhirnya gue bisa lihat wanita itu dari dekat" ucap sri dalam pelukan sigit
"ternyata dia cantik banget bang, kaya banget juga. pantes mas satria klepek-klepek, hahaha..." racaunya lagi
"apalah arti gue, nggak ada seujung kukunya juga, cantikan dia jauh, jauh banget malah, dia bidadari gue upik abu" tanpa terasa sri meneteskan air mata, hingga membasahi baju sigit
"sshh, kamu lebih dari bidadari" dalam pelukannya sigit menenangkan sri mengelus punggungnya yang bergerak
"sri" novi menghambur memeluk sri dari belakang
"padahal aku udah nggak papa, lihat mereka kemaren juga aku biasa aja, nggak papa, sumpah" suara sri mulai bergetar
"tapi apa ya ini, hu hu hu... sakit" sri terisak, menangis lagi setelah lama, setelah perceraian tepatnya
"anak ku bang, dia kepaksa lahir sebelum waktunya, gara-gara aku lihat wanita itu gandengan sama mas satria, ayah dari anak ku bang... hu hu hu hu...."
hanya elusan dan pelukan yang mampu mereka berikan saat ini pada sri sebagi penenangnya. Sebagian orang melihat drama teletubis berpelukan dikantin dengan bisik-bisik.
"sakit" gumamnya, memilukan.
Menohok hati dua orang yang memeluknya, sri kenapa kamu selalu diselimuti kepedihan.
.
.
.
Sepekan berlalu dari kejadian itu, sri menjalani pekerjaannya dengan biasa, tak ada kendala apa-apa, tak ada teguran bahkan SP dari atasannya, atau bullyan dari rekan kerjanya, mereka biasa seperti sebelum ada kejadian itu. Bukankah alam tidak suka jika hidup sri biasa-biasa saja dan damai seperti ini. Bukan bukan alam nya mbah dukun, atau alam baka. Tapi alam semesta di sekitar sri.
"Gaes ada yang nyari'in lo tuh, dideket rak lipstik" dysti memebri tahu sri, saat dia sedang membereskan barang-barang contoh yang dilihat para calon pembelinya tadi.
"siapa?" tanya sri
"cowok"
"bang sigit?"
"sejenis, tapi bukan" disty memberi jawaban ambigu yang membuat dengusan sri keluar
"ish"
Sri menemui tamunya
"apa? gila kamu ya mas, berani nemuin saya disini, mau saya dipecat?" salam sarkas yang sri berikan pada awal jumpa dengan si tamunya, satria, si mantan
"kamu tambah cantik sri" jawaban yang tak sesuai
"ish, maksudnya saya dulu jelek gitu?" sri mencebik
"dari dulu kamu sudah cantik, paling cantik, sampai sekarang"
"gombal mu rak payu mas, wis lusuh" lagi sarkasme jawaban sri
"udah sana pergi, saya masih kerja, nggak ada waktu buat ngobrol kecuali pembeli" usir sri
"kalau gitu aku beli"
"yang mulia ratu nggak perlu dibeliin, ini punya dia semua" sri sudah mulai kesal
"buat kamu aja, kamu nggak suka pakai lipstik, lip glos aja ya, yang rasa stowberi sama coklat, kamu suka yang coklat tapi lebih sering pakai yang strowbei karena aku suka yang itu, manis-manis asem. Aroma nya juga segar"
Damnd...bualan satria manis sekali, dia masih ingat favoritnya, dan apa tadi? rasanya dia juga ingat. Sri tanpa sadar menggigit bibir bawahnya dan pipinya merona, satria suka sekali melihatnya merona. Pasti kalah telak dia, hanya mendengar omong kosong si bang sat itu dia sudah merona.
"Gemes banget kalau lihat pipi kamu merah gitu, pengen gigit" lagi lah... sri dibuat salah tingkah mendengar ujaran pergombalan dari bibir manis sang ke satria. Indikasi gagal move on
"pulang jam berapa?" lalu satria bertanya
"jm 10" singkat padat tapi nggak bangsat jawaban sri
"aku tunggu di lobi ya" bukan pertanyaan dari satria tapi pernyataan
"hmm" gumamannya
"i miss you" bisik satria sebelum meninggalkan outlet kosmetik itu.
Ini alasan mengapa sri selalu menghindari satria, pertahanan hatinya akan runtuh seketika, luluh lagi mendengar bualannya. Move on setahun, gagal semenit. Kemaren dia bersyukur karena melihat satria bersama Tata, karena tak akan mungkin dia merayu sri saat bersama wanita tuanya.
Siapa tadi, wanita tuanya. Ah dia bahkan tadi lupa kalau satria masih punya hubungan dengan wanita itu. Apa jadinya nanti kalau dia ketahuan bertemu dengan satria di belakangnya. Atau satria sekongkol dengan wanita tua itu, dan menjebaknya untuk bertemu dan membully nya habisa-habisan. Dia pasti kalah dua orang dengan satu orang, janda lemah.
Itu berarti dia harus menghubungi sigit, dan memintanya untuk menjemput dia nanti, bila nanti pasangan drama kolosal itu akan membullynya dia punya sigit untuk membelanya. Oke rencana bagus sri.