
"Assalamualaikum" suara novi terdengar mengucapkan salam dari luar.
"Waalaikum salam, masuk nak nggak dikunci" bu eni berteriak
"aaghh... sakit buk" sri terduduk memegangi perutnya
"tahan sebentar sayang kita kerumah sakit sekarang" satria menggendong sri
"sri.. kenapa.." novi panik melihat satria keluar dari kamar dengan menggendong sri
"masuk mobilku aja bang" sigit menimpali lalu ber lari untuk membukakan pintu mobilnya, satria tidak menjawabnya tapi tak menolak tawaran sigit.
Sigit datang bersama novi, untuk melihat keadaan sri pagi ini dia bisa berangkat kuliah atau tidak, sigit sampai membawa mobil jika sri memaksa berangkat dia bisa membawanya dengan mobil.
.
.
"gimana keadaan istri saya dok" stria bergegas ke arah dokter yang menangani sri ketika melihatnya keluar dari ruangan, semua yang ada disitu pun berdiri
"Syukurlah bisa ditangani, hanya butuh istirahat, janinnya juga selamat. Tolong dijaga ya pak istrinya, jangan kelelahan fisiknya dan jangan sampai stress, karena bisa mempengaruhi kehamilannya apalagi di trimester pertama ini sangat rentan, dia harus rawat inap dulu beberapa hari sampai kondisinya stabil. sebentar lagi istri bapak akan kami pindahkan ke ruang rawat. itu saja, saya permisi" dokter menjelaskan
.
"kalian nggak kuliah" bu eni menghadap novi dan sigit setelah memastikan sri tidur nyenyak di kasurnya
"sebaiknya kalian berangkat, ada saya yang jaga sri" satria menekan kan
"novi pergi dulu buk, nanti sore kesini lagi" novi menyalami bu eni, diikuti sigit
"thanks, git" ucap satria ketika sigit membuka pintu
"hemm" sigit berjalan keluar
"ibuk nggak pulang sekalian aja, mumpung mereka belum jauh" satria bertanya pada bu eni
"hemm, iya juga ya, sekalia ambil baju ganti sri sama kamu" bu eni bergegas keluar
.
.
.
Sudah 5hari sri dirawat di rumah sakit kondisinya sudah mulai membaik, hanya mual-mual dipagi hari yang masih ia rasakan dan naf su makannya yang belum kembali seperti semula. Selama ia dirawat satria dan bu eni bergantian menjaganya, novi dan sigit setiap hari datang mengunjunginya sepulangnya kuliah. Sri tidak berbicara pada bu eni dan satria selama ia dirumah sakit, hanya bahasa isyarat dari tubuhnya jika ia meminta bantuan, dia hanya berbicara pada novi dan sigit.
"sayang, ngomong dong" ucapan satria yang sudah puluhan kali hari ini sri dengar
"aku nyerah, mau diapain aja sama kamu, aku mau. asal kamu ngomong, jangan diam aja, aku nggak kuat didiemin kamu" satria mengiba, ikut berbaring disebelah sri, menciumi lehernya
"ishh apaan sih, geli tauk" sri tanpa sadar membuka suara dan memukul dada satria
"ops" dia segera menutup mulut dengan tangannya segera
"pukul aja semua badan ku yang kamu mau, aku rela" satria mencoaba menarik tangan sri yang digunakan menutup mulut sri
"mau sampai kapan kamu mogok bicara sama aku dan ibuk?" satria menatap matanya
"dosa, apa kamu tahu?" lanjut satria, sri memalingkan wajahnya lalu membalikkan tubuhnya membelakangi satria
"apa kesalahan ku begitu berat? sampai kamu menghukumku selama ini?, kamu tahukan keadaan ku selama ini, aku juga nggak mau berjauhan sama kamu, aku juga tersiksa, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan orang tuaku terlalu lama, aku harus sering menengoknya. mereka satu-satunya keluarga ku
mereka yang tulus merawatku, memenuhi semua kebutuhanku dari kecil dengan bersusah payah, memberikan kehidupan yang layak pada ku dengan tulus dan iklas, saat orangtua kandungku sendiri tidak menginginkanku, membuangku dipanti asuhan, tapi mereka mengambilku dan menganggapku sebagai anak kandung mereka, aku rasa ku harus membalas semua kebaikan mereka, kalau dengan begini kamu mau memaafkan ku, aku terima" satria menyelsaikan kalimatnya dengan memeluk tubuh sri.
Terasa pundak sri bergetar dipelukannya, dia membalikkan tubuh sri mengusap air matanya, lalu menciumi seluruh wajah sri
"maaf maaf maaf" gumam satria disela kecupannya lalu berpindah keperut sri dan memberikan ciuman bertubi-tubi juga disana.
.
.
.
"buk, katanya mau kasih tahu sri alasan sebenarnya ibuk sama bapak bercerai" sri membuka pembicaraan saat mereka bertiga sedang bersantai menonton acara tivi bersama
"kalau, ibuk belum siap, biarin aja sayang, jangan dipaksa" satria membela bu eni, sejak sri masuk rumah sakit satria belum pergi menengok orang tuanya bahkan pekerjaannya semua ia serahkan pada pegawainya sementara ini
"nggak usah ikutan" sri melirik ke arah satria dan dibalas cibiran
"nggak papa, ibuk sudah siap kok" jawab bu eni
"emmm, jadi..." bu eni mulai bercerita
" dulu saat ibu masih seumuran kamu lebih muda lagi malah, ibuk dijodohin sama eyang kakung mu, padahal ibuk sudah punya calon sendiri waktu itu tapi nggak direstui, akhirnya ibuk kabur dengan orang itu, niatnya mau kekota, eh belum pergi jauh ditengah jalan udah dicegat sama orang suruhan eyang kakung, ibuk digeret pulang sedangkan orang itu dipukulin sampai babak belur. Besoknya ibuk dipaksa menikah sama orang yang sudah dijodohkan eyang kakung, ibuk belum tahu orangnya hingga saat setelah ijab kabul baru ibuk dipertemukan dan ternyata bapak kamu yang menikahi ibuk
awalnya ibuk selalu mengabaikan bapak kamu, ibuk masih mencintai orang itu, tapi bapak kamu sabar sekali menghadapi ibuk. ibuk selalu mencari kabar tentang orang itu, sampai ada yang bilang kalau dia sudah pergi ke kota, hingga ibuk terpikir untuk kabur lagi dan mencari keberadaan orang itu dikota, ibuk ngumpulin uang untuk ke kota. Suatu hari saat ibuk kerumah eyang kakung ada surat dari kota,ternyata itu surat dari orang itu buat ibuk, ibuk balas surat itu, dan memberi alamat rumah bapakmu.
kami pun bertukar kabar lewat surat itu, awalnya bapakmu tidak tahu, suatu hari saat ibuk sedang pergi bapak yang menerima surat itu, dia membacanya dan dia marah sekali, karena disitu ada tulisa alamat orang itu dikota dan, rencana kami akan bertemu, bapakmu tahu kalau ibuk sudah menyimpan uang banyak untuk menemuinya. Sampai kemaren waktu ibuk punya simpanan uang untuk kamu kuliah, dia berpikiran kalau sebenarnya ibuk masih ingin mencari orang itu dengan uang itu" bu eni mengelap sudut matanya yang berair
"ibuk masih cinta sama mantan? masih mau nemuin dia?" sri bertanya
"ennggak lah sri, kalau ibuk masih suka sama dia nggak mungkin jadi ridho sama kamu" bu eni menegaskan
"terus kenapa bapak masih nggak percaya?, itukan udah lama" sri memberi pertanyaan lagi
"mungkin bapak trauma, sayang" satria menimpali
"waktu ibuk ketahuan dulu, ibuk sempet mau kabur juga, terus bapak kamu tahu bilang, dia mau nganterin ibuk ke kota dan bilang akan merelakan ibuk ke orang itu asal si orang itu lebih sukses dari bapakmu, tapi kalau masih dibawah bapakmu, dia tidak akan rela melepas ibuk" terang bu eni
"ih co cweet bingit bapak ku " sri menyela
"dan ternyata dia lebih miskin dari bapak ya buk?" lanjutnya
"bukan, sesampainya ibuk dan bapak dialamat yang tertulis disuratnya dia, ternyata kita berhenti disebuah rumah besar, awalnya kita nggak percaya, terus kita tanya tetangganya sana, emang betul itu rumahnya dia, bapakmu sudah pucet gitu wajahnya, ibuk seneng bangetkan pasti dia lebih sukses dari bapakmu. Eh waktu gerbang rumah dibuka dia keluar, ibuk sudah mau nyamperin, tapi ditarik bapakmu. Ternyata dibelakangnya ada seorang wanita yang lagi gendong bayi juga keluar dari rumah itu, terus kita ngumpet dipohon.
pas orang itu sudah berjalan pergi menjauh, bapak tanya lagi ke tetangga nya, kata nya wanita dan bayi itu adalah istrinya, lemes banget ibuk langsung, hampir pingsan, sakit hati banget ibuk, sampai demam berhari-hari, bapak yang ngerawat ibuk, menemani ibuk, sabar banget sampai-sampai ibuk jatuh cinta beneran sama dia, jadilah ridho sama kamu" bu eni menyandarkan duduknya di sofa
"huhft" sri mebuang napas keras
"kenapa jadinya berpisah, saling menyiksa" suara sri terdengar sedih
"bapak takut kalau ibuk ketemu lagi sama dia disini, terus ibuk bakalan ninggalin bapakmu" jawab ibuk dengan lirih
"yaudah deh, besok ibuk pulang, nengokin anak mas ri sama nengokin bapak, kalau ibuk nggak bisa lupain bapak" sri memberi usul
"kalau nengokin cucu sih mau, tp..." ucapan bu eni terputus
"nggak usah tapi-tapi, ntar nyesel, baikan gih, udah pada punya cucu juga, masih aja bahas masa lalu" gerutu sri
"sayang" satria menegur
"itukan bapak mu yang masih bahas-bahas masa lalu, ibuk sih udah move on" ibuk membalas
"eh, dari mana ibuk tau move on move on" sri terkejut
"dari novi" jawab ibuk, lalu berdiri
"udah, ya dongeng sebelum tidurnya, ibuk mau istirahat dulu" ibuk pamit lalu mengelus perut sri
"kalau ibuk berubah pikiran, besok anterin ibuk ke rumah ridho ya tri" ucap ibu lalu benar-benar pergi masuk ke kamarnya
"isshh, kebanyakan bergaul sama novi ni, ibuk jadi aneh-aneh bahasanya sekarang" sri menggerutu
"hahahaha... kamu kan yang nemu in, novi" satria tertawa
"nggak jadi kenal deh kalau gitu" sri menimpali
"udah, masuk yuk, istirahat"