
Satria
"Anak mas tri dimana?" pertanyaan itu muncul dari mulut sri, aku memang belum menceritakan masa lalu ku kepada sri, kami memang belum pernah saling terbuka satu sama lain.Tapi aku sudah tau semua tentang sri, aku selalu mencari tau informasi apapun tentangnya, tentang makanan favoritnya, warna apa yang dia suka, hobinya dia, hingga cita-citanya yang ingin menjadi guru. Ya dia ingin melanjutkan kuliahnya untuk mengejar cita-citanya menjadi guru. Aku seperti penggemar rahaasianya.
"ih bengong aja, ditanyain juga, yaudah kalau gak mau cerita, gak maksa" kata sri membuyarkan lamunanku
"kita tuh belum kenal lebih jauh, aku belum tau apa-apa tentang mas, belum pendekatan, jadi aku mau semua tentang kamu mas, dari kamu sendiri, bukan dari orang lain. Aku cuma tau status kamu dulunya duda anak satu, tapi aku gak pernah lihat anak kamu mas" lanjut sri mengeluarkan unek-uneknya panjang sekali
"Kamu tahu gak sayang" aku mulai berkata-kata, panggilannya ku rubah jadi sayang, pipinya bersemu merah tersenyum malu. Dia imut sekali kalau seperti itu rasanya aku mau menciumnya berkali-kali, apa aku lanjutkan yang tadi tertunda gara-gara ibu, saja ya, dari pada banyak omong,, tapi aku takut nanti dia malah takut, sabar saja deh aku.
"Dari dulu banget, dari aku masih kerja di toko bapak kamu, aku udah suka banget sama kamu, sayang" aku meneruskan perkataanku, ku colek hidungnya yang mini.
"Masak sih, gak percaya ah, udah lama banget itu, mas kerja di toko bapak kan aku masih smp. Terus mas udah nikah duluan juga. Ah bohong banget" jawabnya dengan wajah tak percaya
"beneran sayang" aku menekankan lagi
"terus kenapa nikah sama orang lain, gak nungguin aku" petanyaan lagi dari sri
"ceritanya panjang, nanti aku ceritain kalau kamu jawab jujur pertanyaanku" aku menarik ulur
"ih cerita tinggal cerita aja, pake syarat segala" protesnya sambil mengerucutkan bibirnya, ingin ku cium saja rasanya bibir itu, hah sungguh berat cobaan ini tuhan.
"ya mau gak?" aku menawar lagi
"iya, tanya apa? aku gak mau ya itu itu dulu kalau mas belum terbuka sama aku" dia menyengarai padaku
"ya emang kan harus dibuka dulu bajunya, kalau gak kan susah jadinya" aku menggodanya, dan lemparan bantal yang ku dapat
"oke oke, kamu sudah suka kan sama mas, sayang? udah cinta kan? gak kepaksakan menikah sama mas?" aku menggenggam tangannya, dia mendongak menatap mataku,
"aku udah sayang banget sama kamu sri, cinta banget sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu, bertahun-tahun aku memendam perasaan ini, aku berharap kamu juga mencintaiku, sri" aku mengungkapkan perasaanku yang selama ini aku pendam
"iya, sri juga sayang sama mas, cinta banget juga sama mas, gak tahu dari kapan, gak mau kehilangan mas" dia membalas cintaku, aku bahagia sekali, seperti ada banyak bunga berterbangan di atas kepalaku, aku memeluknya erat sekali enggan rasanya melepaskannya
"tapi,, kenapa mas malah nikah dulu sama orang lain, gak nungguin aku, mas jahat" ujar sri menangis dipelukanku sambil memukul punggungku
Akhirnya aku menceritakan semua yang ku alami di masa laluku, menjawab semua pertanyaannya. Dia mendengarnya dengan terus menangis, aku jadi merasa amat dicintainya. Hingga dia tertidur di pelukanku nyenyak sekali, ku pandangi wajah damai dalam tidurnya, cantik sekali, akhirnya aku bisa memeluknya semalam, tanpa melakukan apa-apa. Hah malam pertama yang gagal.
.
.
.
Author
Hari berganti hari, hingga tiba hari dimana mereka akan berangkat ke kota. Sri, Satria dan Bu.eni (ibunya sri) mereka diantar Ridho dan nur sampai dikota.
"kita tinggal dimana mas? kok main berangkat aja kan kita belum cari-cari kontrakan" ujar sri pada satria ketika mereka masih dalam perjalanan
"aku belum cerita ya, kalau aku ada rumah di dekat kampus....(menyebut nama)" satria menjawabnya
"ih belum, aku belum denger yang itu, oh iya mantan kan dulu kuliah dikampus itu juga ya, jadi tinggal dibekas mantan dong, sekalian nostalgia" sindir sri
"aduhhh sakit" sri memukul lengan satria
"ge er,, mau bangent dicemburuin" sambung sri sambil mengelus pipi yang dicubit satria
"udah udah, brisik kalian ya, ibuk sama nur lagi tidur awas ganggu" sahut ridho yang sedang menyetir
"mas ri udah tau rumahnya mas tri yang di deket kampus?" tanya sri pada ridho
" tau lah, aku pernah kesana dulu pas jenguk mantannya satria lahiran" jelas ridho menekankan kata mantan
"mas ri juga udah tau kalau anak mantannya itu bukan anaknya mas tri" sri bertanya lagi pada ridho
"baru aja tadi pagi dia cerita, dasar kunyuk satu nih, dia anggap aku apa coba, gak bilang masalahnya dari dulu" riho menjawab dengan bersungut-sungut
"udah selesai masalahnya bro, gak usah diungkit-ungkit lagi" satria membela diri
"itu rumas mas tri beli sendiri apa dikasih manatan" tanya sri pada satria
"rumah aku beli sendirilah sayang, masak aku minta-minta, udah ah gak usah dibahas yang lalu-lalu, aku kan juga udah cerita semua sama kamu sayang, aku juga cerita kalau aku sama dia juga pernah ada apa-apa" satria menjelaskan pada sri, sri dan ridho diam tak memberi tanggapan, mobil pun sunyi hingga mereka sampai ditujuan
Mereka pun menurunkan semua bawaannya, memasukka kedalam rumah, membereskan barang-barang dan ber istirahat.
"rumahnya siapa yang nempatin kemaren-kemaren satria" tanya ibu saat makan bersama sore itu
"dulu dikontrakan buk, pas banget sebulan yang lalu selesai kontraknya, untung nya belum ada yang mau ngontrak lagi jadi kita bisa pakai buk, ini kemaren anak-anak yang ngirim ayam potong saya suruh mampir sekalian bersih-bersihin dulu rumahnya" jawab satria menerangkan dengan panjang
"oh pantesan udah siap huni aja, semoga kita betah ya disini, enak rumahnya, lokasinya strategis banget" ujar ibu seraya beranjak pergi ke dapur
"aminn, semoga disini sri bisa meraih cita-cita, dan harapannya, aku akan berusaha sekuat mungkin selalu membuatnya bahagia" gumam satria berjanji pada dirinya sendiri.
.
.
.
Sudah beberapa minggu mereka tinggal dikota, sri pun sudah mendaftar kuliah, dia mengambil jurusan PGSD karena dia bercita - cita menjadi guru sd di kampungnya, kelak ia akan kembali ke kampungnya untuk mengabdikan dirinya sebagai guru di sekolah sd nya dulu. Itulah ke inginannya , ntah apa yang akan terjadi kelak di masa depannya, untuk sekarang itu yang ia inginkan.
Satria pun sibuk menjalani bisnisnya, dia menyerahkan pengurusan toko sayur mayur dan buah-buahannya dikampung pada pegawai kepercayaannya, dia sendiri harus disibukkan dengan bisnis hewan potongnya yang semakin maju, sudah banyak rumah makan dan restaurant yang memilih supliyer bahan bakunya dari dia.
Sedangkan ibunya sibuk dengan pekerjaan rumah, dan mencoba membuat kue-kue tradisional, dia berniat akan berjualan kue-kue di sini untuk menambah pendapatannya, dia malu harus selalu meminta pada menantunya.
" masss...ibuk...." teriak sri berlari masuk kedalam rumah
"sri diterima, yess yesss, sri jadi anak kuliahan" teriak lagi sri di dalam rumah, satria yang berada didalam kamar pun sontak keluar, begitu pun dengan ibunya yang tadinya berada didapur, keluar menuju arah suara teriakan sri
"selamat ya sayang, belajar yang rajin, jangan jadi mahasiswa tukang demo" ujar satria seraya memeluk sri
"masss... su'udhon aja" jawab sri sambil memukul lengan satria
"nanti malam udah bisa dong, kan udah jadi mahasiswa" goda satria mengerlingkan matanya pada sri. Sri memang belum menjalankan kewajibannya sebagai istri, dia beralasan masih takut dan belum siap, dan menjajikan nanti kalau dia diterima menjadi mahasiswa dikampus yang ia inginkan, ia akan memberanikan diri memberikan keistimewaannya pada suaminya. Satria pun tidak menolak keinginannya itu, menurut satria apapun yang bisa membuat sri bahagia dan nyaman akan dia lakukan.