SRI

SRI
32. Dipecat


Rambutnya acak-acakan, riasan diwajahnya masih tersisa walau sudah bercampur keringat, bibirnya masih merah bak cabai. Celana jeans panjang berwarna gelap dengan robekan dipaha dan lutut serta kaos oblong gelap oversise milik sigit yang ia klaim menjadi milik bersama. Tak ketinggalan tas besar ber isi laptop dan teman-temannya, seragam kotor juga ada disana, bertengger dipunggung kecilnya.


Sri berjalan menyusuri trotoar dengan malas-malasan, sendiri satelah ia selesai mencari nafkah malam itu. Tidak berniat untuk mencari angkutan umum atau ojol, tidak juga mencari tumpangan atau memanggil jemputan.


Ia hanya ingin sendiri, menikmati kesendiriannya. Menghirup oksigen malam yang tak banyak bercampur asap kendaraan.


Memuja malam yang sepi, menatap bulan yang bersinar bersama bintang-bintang disisi-sisinya.


Bolehkah ia berharap adanya bintang jatuh, lalu menimpa tubuhnya, dia akan meledak bersama bintang jatuh itu menjadi berkeping-keping, dan nyawanya terbang kelangit, enatah itu ke surga atau ke neraka sekalipun dia tidak apa. Asal dia bisa pergi dari bumi.


Sepertinya sri amat sangat putus asa. Untuk ke sekian kalinya.


Sebesar apa sih masalah dia sekarang, sampai terpikir untuk mati saja. Hanya pertemuan dengan satria tempo hari kan, yang bahkan hanya beberapa menit bukan berjam-jam atau seharian penuh. Bukan masalah perkataan satria yang masih mencintai dia atau satria yang menanyakan hatinya yang sudah jelas masih ada satria diseluruh bagiannya.


Hanya saja.. hanya, pertemuan itu diketahui oleh Tata wanitanya satria, pemilik outlet kosmetik tempat dia bekerja.


Well sudah dipastikan bencana apa yang terjadi setelah Yang Mulia Ratu itu mengetahuinya.


"****.... kalian ber dua, going to the HELL" Tata dengan amarahnya didalam toko dan masih dengan para calon pembili disana, mengumpat pada sri dan satria. Dia sengaja datang bersama satria di mall itu menemui sri.


Bukan hanya menemui, tapi juga membuat keributan dan mempermalukan sri, dengan tuduhan-tuduhannya.


"Oke, selesaikan masa kerjamu sampai akhir bulan, saya akan gaji kamu full bulan ini seperti pegawai reguler, bukan part time. Tapi setelahnya pergi dari sini" ujung dari kemurkaan sang ratu.


Dia terkekeh ketika teringat kejadian tadi sore itu, amsyong sekali nasibnya, akhir bulan tinggal beberapa hari lagi saudara kalau kalian mau tahu. Dan sri akan menjadi pengangguran lagi.


Next, setelah ini dia akan kerja diamana? seberapa jauhnya hubungan mereka? seberapa ruginya dia dengan adanya pertemuan sepasang mantan ini? Dia wanita tua itu maksudnya.


Hingga sampai teganya memecat pegawai tercantik dan terbanyak menjual produk melebihi targetnya setiap hari. Bukan kah dia diuntungkan dengan adanya sri disana, pundi-pundinya akan mengembang biak.


Dasar gila memang wanita tua karbitan itu. Kalau saja sri mau membalas ucapannya. Membalikkan semua tuduhannya. Bukankah yang jadi pelakor disini dia sendiri, yang menghancurkan rumah tangga orang lain dengan kejinya. Membuat seorang bayi kecil yang belum saatnya menghirup oksigen bumi ini, terpaksa dikeluarkan dari tempat penghidupannya, dan harus meninggalkan dunia ini dengan cepat.


Dia yang antagonis disini. Tapi sri tak mampu melawannya, karena memang dia bos besarnya, apalah sri disana, sri hanya sedang mencari aman, tapi sia-sia, dia, sri tetap dipecat. Bukan hanya itu alasan sri diam dan tidak melayani amarahnya.


Tatapan orang-orang yang melihat dan mendengar drama itu, seakan mengintimidasinya. Menyudutkannya, seperti sedang berkata "wanita jahat" "pelakor" "wanita ular" pada sri.


Dan yang paling menyakitkan, satria diam saja, tidak membelanya, tidak menjelaskan apapun, tidak membenarkan atau membantahnya. Diam yang sialan. Tentu saja diamnya itu sudah pasti diasumsikan oleh para nitijen sama seperti meng iya kan semua tuduhan itu.


Ternyata kata masih cintanya waktu itu hanya semu, bukankan bila kita mencintai seseorang rela melakukan apapun demi cintanya, membela cintanya, melindungi cintanya. Sri benar-benar tolol jika percaya omong kosong satria.


"Hahh... I need a hug" gumamnya, lalu duduk dikursi taman kota yang ia lewati, tertunduk lesu.


Srek srek srek


Suara langkah mendekat terdengar ditelinganya, namun ia tetap menundukkan wajahnya, tidak berminat melihat seseorang milik langkah itu.


"You need a hug?" seseorang duduk disebelahnya barsamaan dengan hilangnya suara langkah tadi


" I have a million hugs" lanjutnya


"every day"


"every time"


"forever"


"just for you"


Sri mengangkat wajahnya, menatap seseorang disampingnya.


"lebay" sri menanggapinya dengan terkekeh, lalu menghambur kepelukan sigit.


Sigit menjemputnya tadi, tapi dia tidak menemukan sri disana, dia sempat bertanya pada disty, disty pun tidak tahu keberadaan sri. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang, mungkin sudah naik ojek pikir sigit. Lalu dia melihat seorang wanita berjalan sendiri ditrotoar mengenakan kaos yang familiar, seperti miliknya. Itu dia seseorang yang dia cari, dia mengikutinya dengan jarak sedikit jauh agar suara motornya tak terdengar.


Dan dia melihat seseorang itu duduk di taman kota. Sigit memarkirkan motornya, mendekati sri, lalu


memeluknya.


"jaket, hodie?" sigit membuka suara usai sri melepas pelukannya


"ish.. tahu pulang malam, cuman pake kaos doang. masuk angin nanti, angin malam nggak baik buat tubuh"


"bawel"


"mau jalan-jalan?" sigit menawarinya


"boleh emang"


"boleh lah kan sama abang, aman"


"iya, abang sendiri yang lebih bahaya"


"hahaha... bisa aja, ayo naik, pake jaketnya nih, abang pake lengan panjang" sigit melepaskan jaket dari tubuhnya dan memberikan pada sri.


.


"Mau kemana lagi bang?" sri bertanya setelah menyelsaikan makannya, di rumah makan ayam goreng bertepung terkenal berlogo warna merah


"ke stadion mau?"


"ngapain? gue nggak bisa main bola, malem gini udah dikunci"


"bisalah, abang kenal sama kuncennya"


"ya nggak ada tawaran tempat lain emang?"


"nggak" sigit menjeda


"lo kayak lagi patah hati, disana lo bisa teriak-teriak sepuas lo, mau lari keliling lapangan juga boleh sampai pingsan" sigit mengemukakan ide gilanya


"idih" sri mencebik


"ya udah ayo"dan sri menerima ide itu.


.


"Mak lampir gila, medusa melenial, ratu jelmaan siluman monyet, dasar pelakor, wanita sinting, nenek-nenek plastik, gue sumpahin lo makin kaya, makin tergila-gila sama oprasi plastik sampai semua tubuh lo berubah jadi plastik, made in sampah daur ulang, kalau kena matahari sebentar langsung meleleh, tai lo.."


Sri berteriak-teriak mengumpat Tata di area berumput hijau luas tanpa atap. Mengoceh mengeluarkan semua uneg-unegnya, lalu menangis tersedu-sedu.


"namanya hidup ya banyak cobaannya, kalau banyak tagihannya itu kartu kredit" ucapan sigit setelah mendengar semua cerita sri dari umpatannya, uneg-unegnya, sampai tragedi sore tadi yang menimpanya


"lo juga si, masih aja mau diajak ketemuan, tahu kan resikonya, tolol banget lo" tanggapan bangsat dari sigit


"iya gue emang tolol, puas lo"


"bagus kalau berasa"


"gue nggak kepikiran, bakal ada yang lihat dan nglaporin ke dia, padahal itu tempat umum ya, semua orang bisa aja ada disana. Gue cuma, gak mau aja berurusan lagi sama dia, jadi gue temuin aja yang terakhir kali sekalian kasih peringatan. Elah malah amsyong, ajib bener nasib gue" sri menjelaskan maksud sebenarnya


"besok-besok lagi kalau ketemu dia dimanapun, lo harus hubungi gue, biar lo nggak ketiban sial mulu kalau ketemu dia" sigit memberi solusi


"iya"


"hapus dia dari hati lo"


"iya"


"dia udah nyakitin lo, harus nya lo udah move on dari dulu, nggak usah ngarepin dia lagi, lo sendiri yang mutisin buat ninggalin dia"


"susah"


"gampang, kalau lo emang niat, masih ada banyak cowok yang baik buat lo, yang nggak bajingan kayak dia"


"dan salah satunya elo ya bang" sri dan sigit sama-sama menoleh ke arah masing-masing, saling tatap


"bahahahaha.." lalu mereka tertawa bersama