SRI

SRI
8. Kesibukan


"nanti malam udah bisa dong kan udah jadi mahasiswa" sebenarnya satria berniat menggoda sri saja pada saat itu


"bisa deh, sekarang juga bisa kalau mas gak sibuk" respon sri yang tak terduga, membuat satria membelalakkan matanya karena terkejut


"hah, oke let's go" satria mengangkat tubuh sri dan berjalan menuju kamarnya, ibu sri melihat adegan itu hanya geleng- geleng kepala lalu pergi ke arah dapur.


Sri membuka pintu kamar dengan posisi masih digendongan suaminya sedangkan satria mendorong pintu agar terbuka dan berjalan ka arah kasur, dia merebahkan sri di atas kasur, satria mulai mengusap rambut sri, membelai rahangnya, mencium keningnya dan berkata "do'a dulu ya".


Sinar matahari yang menerobos lewat celah ventilasi kamar menjadi saksi kali pertama mereka memadu kasih, mempersatukan wujud cinta dengan sentuhan memabukkan. Rasa indah bagaikan candu membuat mereka melakukan lagi dan lagi, peluh pun tak mereka rasakan, hanya kenikmatan dunia yang sedang dirasa dua insan ini. Hingga ketukan pintu dari luar membuat mereka menghentikan sejenak kegiatan panasnya


Tok tok tok.....


"Le, satria" suara bu eni terdengar dari depan pintu


"ibu kamu telfon katanya hp kamu gak nyambung di telfon, dia bilang bapak kamu sakit" sambung bu eni dengan mengeraskan suaranya berharap didengar satria


"iya buk, ini langsung mau telfon ibu" jawab satria bergegas beranjak dari tempat tidurnya menuju meja tempat dia meletakkan hp nya


"ah sial, habis batrainya" satria mendengus kesal mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan melihat hpnya yang ternyata kehabisan daya


"kenapa mas, hp nya mati? mau telfon ibu, pakai hp aku aja, ada di tas" sri memberi solusi dibawah gulungan selimutnya


"aauu... kok masih sakit sih" keluh sri saat membangunkan badannya hendak ke kamar mandi


"kenapa sayang?" satria bergegas menghampirinya


"sakit" jawab sri dengan suara manjanya


"masih sakit, maaf ya sayang, maaf, maaf" satria memeluknya mengungkapkan penyesalannya


"iya gak papa, nanti juga hilang sakitnya" sri


"aku gak tau kalau sakitnya sampai lama" satria


"iya sayang, katanya mau telfon ibu, buruan tanyain bapak sakit apa, aku akan pelan-pelan jalannya" ucap sri lalu bergerak perlahan menurunkan kakinya berjalan ke kamar mandi


"baiklah, hati-hati mandinya sayang, kalau susah, tunggu nanti mas mandiin" satria mengerlingkan matanya dibalas pelototan mata dari sri


"Assalamualaikum, hallo ibu" satria menelfon ibunya


"wa'alaikum salam,le.... bapak mu" terdengar suara ibunya menahan tangis, ibunya mengatakan kalau bapaknya satria mengalami kecelakaan tadi pagi saat sedang naik sepeda menuju sawahnya, ia di srempet motor yang dikendarai anak remaja laki-laki, dan kini sedang dirawat di puskesmas desanya.


"Aku harus pulang dulu sri, bapak kecelakaan sekarang masih dirawat di puskesmas, mau aku lihat dulu keadaannya kalau parah mau aku bawa ke rumah sakit disini" ucap satria saat sri keluar dari kamar mandi


"ya Allah, bapak kecelakaan" ucap sri dengan nada kekawatiran


"aku ikut mas" lanjut sri


"gak usah sayang, kamu nanti capek kalau bolak balik, aku belum tau kondisi bapak, belum tau jugabisa langsung pulang apa nggak" jawab satria


"gak papa aku gak capek mas, aku mau tahu keadaan bapak" sri membujuk suaminya


"kasihan ibuk di rumah sendiri, dia belum kenal siapa-siapa disini, kamu temenin ibuk aja ya, kamu kan masih harus mengurus administrasi kuliah kamu, sayang" satria menjelaskan dengan lembut pada sri


"iya deh, tapi harus kabari aku terus ya, hp jangan mati-mati lagi, pokonya mas gak boleh lupa telfon aku bales chat aku!" sri mengajukan syarat dengan penuh penekanan


"siap nyonya" balas satria sambil mengangkat tangannya memberi hormat.


.


.


.


Hari-hari berlalu bapaknya satria telah pulang dari puskesmas dia tidak mau dibawa ke rumah sakit dikota karena dia beranggapan lukanya hanya ringan, dan kini ia sudah dirumah. Karena selalu kawatir dengan kesehatan bapak ibunya satria rela tinggal bolak balik dari rumah orang tuanya ke rumah istrinya dikota, orang tuanya tidak mau diajak tinggal bersama di kota, alhasil dia harus rela kesana kemari.


Sri pun sudah disibukkan dengan kegiatan ospek di kampusnya, hingga akhirnya mereka jarang sekali bertemu, tetapi mereka tidak lupa untuk selalu saling memberi kabar bertukar cerita lewat telfon atau chat. Bertemu pun kadang hanya setiap akhir pekan, kadang juga menyempatkan untuk makan siang bersama. Satria pun disibukkan dengan pekerjaannya. Meski begitu mereka menjalaninya dengan santai, dipikir-pikir kayak pacaran halal, setiap pertemuan selalu berkesan dan bertambah mesra, tidak dosa pula.


Kini sri sudah berstatus sebagai mahasiswi, perkuliahan pun sudah dimulai. Setiap hari mulai disibukkan dengan kelas kuliah serta tugas-tugasnya. Hari ini sri akan membuat tugasnya di kost-kostan temannya, Novi namanya. Novi adalah teman terdekatnya di kampus saat ini.


"Nov, udah malem nih, aku pulang dulu ya, udah selesai juga sih tugasnya" sri pamit pada novi untuk pulang


"iya, hati-hati ya sri, hampir jam9, nggak minta jemput suami kamu aja?" novi memberi usul


"dia di rumah orang tuanya, sekalian ambil ayam potong banyak pesnan katanya, besok paling sampai sininya" jawab sri, dia memang sudah memberitahu pada novi kalau sudah mempunyai suami, dia juga menceritakan pekerjaan suaminya


"oh gitu, hati-hati ya" ucap novi


Sri berpamitan dan keluar menaiki motor metic barunya yang dibelikan suaminya untuk memudahkan dia kemana-mana kalau tidak ada satria.


"eh kenapa ini, kok jalannya grenjel-grenjel gini motornya" angkluh sri dalam perjalan pulang kerumahnya


Sri turun dari motor untuk memeriksa ban motornya "kampret bener, kempes ban nya.... ah masih jauh lagi" eluh sri, rumah sri dengan kost-kostan novi berjarak sekitar 30menit jika ditempuh dengan motor, novi memang memilih tempat kost agak jauh dari kampus, biar ada alasan untuk telat katanya.


"mmchh.... gak ada tambal ban deket sini lagi" sri mendengus kesal, menoleh ke kanan kiri, depan belakang mencari tukang tambal ban.


dia mengeluarkan hp dari sakunya "ah.. sial lagi, mati batrenya habis" sri mendengus lagi


"eh si eneng, sendirian neng, ikut abang dangdutan yok" suara laki-laki bertato tak dikenal di sebelahnya dengan menaiki motor


"namaku bukan neng" jawab sri sambil terus berjalan menuntun motornya


"aku juga gak suka dangdutan" ucap sri melanjutkan


"gak suka dangdutan ya, gimana kalau mojok aja disana" ajak laki-laki tatoan tadi


"ihhh... gak sudi" sri menjawab dengan kesal


"nanti abang anter pulang, bocorkan motornya?" laki-laki itu menghadang jalan sri dengan motornya


"nggak usah, nanti ngrepotin, minggir ah aku mau jalan" sri semakin kesal


"nggak ngrepotin, dengan senang hati malah, tapi kesitu dulu yok kasih abang mantap-mantap" laki-laki itu mendekat pada sri tangan satunya memegang tangan sri sedangkan yang satu membelai pipi sri dan akan mencium sri, sri meberontak dan berteriak minta tolong, tapi laki-laki tatoan itu menahannya


BRUK....


tiba-tiba ada yang memukul laki-laki tatoan itu dari samping


sang penolong datang


"mantap-mantap apanya? ini yang mantap"


BRUKK....


ucap sang penolong, dan memukuli laki-laki tatoan, sedangkan yang dipukul tak berkutik tidak ada celah untuk membalas hingga dia memilih kabur membawa motornya pergi


"kamu nggak papa?" tanya sang penolong pada sri yang berjongkok ketakutan di sebelah motornya


"nggak apa-apa, makasih ya" balas sri dan beranjak berdiri


"lain kali jangan keluar sendiri malem-malem ya" nasehat penolong itu


"iya, makasih" balas sri dan berjalan menuntun lagi motornya


"motor kamu kenpa? kok nggak dinyalain" tanya sang penolong


"ban nya kempes, bocor kayaknya" jawab sri menoleh


"aku anter mau? mau pulang kan, nanti motornya biar diambil sama temen ku" tawar sang penolong


"iya mau, aku udah capek nuntun, laper lagi" sri menerima tawarannya


"eh ngrepotin nggak nih? kalau kamu buru-buru, ngggak usah aja" sri pura-pura nggak enak, padahal dalam hatinya besyukur ada yang nawarin tumpangan


"nggak kok, aku udah mau pulang juga, kalau kamu nggak mau juga nggak papa aku langsung pulang aja" jawab sang penolong lalu menaiki motor gedenya


"mau lah, kan aku tadi udah bilang MAU" balas sri penuh penekanan


"hahahaha.... makanya jangan sok nggak enak" sang penolong tertawa


"ya kan dikiranya kamu mau maksa-maksa gitu" sri menjawab lagi dengan cemberut


"aku bukan pemaksa" ujar sang penolong


"ayo naik, katanya udah laper" ujar lagi sang penolong


sri tertawa maniki motor nya.


"eh motorku gimana? ini kuncinya kan masih di aku, kalau ada yang ngambil gimana?" sri mengkhawatirkan motornya


"beli lagi" jawab singkat sang penolong


"sultan kalik situ, bela beli bela beli.... digorok ibuk sih yang ada kalau sampai rumah" sri menanggapi dengan kesal


"hahaha... bawel ya lo... udah gampang bentar lagi juga diangkut sama temen gue, tadi udah ngabarin langsung otw, gue juga udah share lok" sang penolong menjelaskan dengan mengganti panggilan


"lo... gue... kayak udah akrab aja" protes sri


"ya terus, mau aku kamu biar mesra gitu" balas sang penolong


"ye..." sri menonyor kepala ber helm sang penolong "nama lo siapa sih, bisa aja ngebales omongan gue terus" " eh kok berhenti disini, rumah ku masih lurus terus" tanya sri yang heran karena tiba-tiba motor berhenti di depan warung pecel lele


"kenalannya di dalem aja neng sambil makan, peliharaan gue diperut minta jatah" jawab sang penolong


mereka masuk dalam warung pecel lele, duduk dan memesan makanan, disela menunggu pesanan jadi mereka berkenalan


"gue Sigit, dan lo?" sang penolong mengulurkan tangannya


"Sri" jawab sri menjabat tangan yang sigit ulurkan