
Sri
Hari ini aku bahagia sekali, semalaman tidur ku amat nyenyak, pagi harinya pun aku tidak merasakan mual-mual lagi. Mungkin karena ada mas tri dirumah, membuat mood ku baik sekali. Aku sudah menyuruh novi pulang kembali ke kos nya, dan tidak meminta bantuan sigit lagi dipagi hari, juga sudah menelfon ibuk dan keponaka cantik ku.
"sayang, kamu udah nggak mual-mual lagi?" tanya mas tri saat kita sedang dimeja makan menikmati sarapan bersama
"nggak"
"sejak kapan?" mas tri terlihat heran
"hari ini" jawab ku yang masih menguyah makanan dimulut ku
"Hari ini mau jalan-jalan?" tawar mas tri
"mau" aku bersemangat
"kemana?" lanjutku
"kemana aja yang kamu mau" jawab mas tri dwngan lembut lalu tersenyum
"asikk" aku kegirangan
Akhir-akhir ini aku merasa bukan diriku, sejak hamil sepertinya aku semakin manja dengan siapapun, mudah ngambek kalau permintaan ku tak dituruti, mood ku juga sering ber ubah-ubah dengan cepat, mungkin karena hormon kehamilan kalik ya.
.
.
.
Berbulan-bulan telah kulewati kini usiaku menginjak 7 bulan, kondisi badan ku telah berubah, perutku membuncit dan bukan perut saja tapi hampit semua bagian tubuh ku membengkak, aku sudah mulai sering kelelahan, tidur pun sudah jarang nyenyak. Aku memutuskan mengambil cuti kuliah dua semester sekaligus, membuat aku jarang bertemu novi dan sigit sahabat ku. Tetapi mereka selalu menyempatkan datang kerumah ku dikala waktu senggang mereka.
Suami ku masih sering pulang pergi karena memang pekerjaannya masih bergantung dikampung, toko yang ia buka disini akhirnya tutup karena pegawainya tidak jujur membuat toko menjadi bangkrut.
Ibuku sering ikut mas tri ke kampung, untuk menengok anak mas ri cucu pertamanya, hubungannya dengan bapak memang sudah benar-benar berakhir. Ketika ibuk dan mas tri, novi lah yang masih setia menemaniku begitupun sigit perhatian dia semakin hari ku rasa semakin berlebihan, ku pikir itu sangat wajar dia merasa bangga akan menjadi om om karena dia memang belum memiliki keponakan. Aku harap kebahagian dan ketenangan ini selamanya dalam hidupku, menjadi ibu, memiliki suami yang baik, ibuk yang selalu sehat, sahabat-sahabat gokil.
Tapi semua harapan tinggallah harapan karena Tuhan lah yang menentukan takdir. Semua bayangan kebahagian sirna sudah, saat aku sedang santai sambil menonton tivi malam itu bersama novi, tiba-tiba saja tivi menayangkan berita bencana alam yang terjadi di daerah kampungku, gempa besar menghancurkan satu kecamatan, aku melihat semua bangunan runtuh menjadi puing-puing berserakan.
Tubuhku serasa lemas, jantungku berdebar cepat, novi dengan cepat menyangga badan ku yang hampir terjatuh dari duduk ku. Aku mencari ponsel ku, ku telfon nomor suami ku, tersambung tapi tak ada jawaban. Ku coba telfon ibuk, bapak, mas ri,bahkan mbak nur, semua sanak saudaraku, juga tika teman ku disana, tapi tak ada satupun yang tersambung. Aku menangis pilu tersedu-sedu, bayangan mereka semua kesakitan bahkan meninggal karena ditimpa puing-puing bangunan membuat ku semakin menangis tersedu, hingga aku tak sadarkan diri.
"sayang, sayang, bangun, aku ada disini" samar samar aku mendengar suara mas tri didekatku, kucoba membuka mataku perlahan
"Masss, huaaa...." ku peluk dia dengan erat saat kulihatnya tepat di depan ku
"sstt, kita berdo'a saja agar ibuk dan bapak selamat"
"mas nggak kenapa-kenapa?" aku melepas pelukanku, memeriksa seluruh bagian tubuhnya dengan panik
"nggak papa sayang, mas udah pergi dari tadi pagi, setor-setorin pesenan dulu, gempa terjadi sorenya, mas udah sampai derah sini, mas lihat beritanya pas tadi di salah satu rumah makan customer mas, sekalian maa pesen makan buat kita semua, habis itu mas langsung pulang kesini, kamu udah pingsan disofa" mas tri menjelaskan dengan suara lembutnya
"mas aku mau pulang, mau lihat ibuk bapak, hua..." aku tak tahan menahan tangisku
"kenapa mas nggak ajak ibuk pulang sekalian tadi, kenapa..." ku pukuli dada mas tri meluapkan kepanikan ku
"tadi mas udah ajak, tapi ibuk bilang masih mau sama tia dulu" jawab mas tri
"kalau mas tadi paksa pasti mau, pasti nggak gini jadinya... huuaaa..." semakin ku keraskan tangisan ku, mas tri menariku dalam pelukannya.
"Masih diperkirakan muncul gempa susulan, sayang, kita tunggu kondisi stabil dulu, mas janji kita akan pulang"
.
Seminggu berlalu setelah bencana itu, nama-nama korban meninggal semakin bertambah, sedangkan nama ibu, bapak, dan mas ri serta mbak nur dan anaknya masih dalam kolom hilang. Setiap hari ku cuba menghubungi nomor-nomor mereka berharap keajaiban muncul, salah satu saja diantara mereka menjawab telfon ku. Tapi tetap nihil, tak ada satupun yang tersambung.
"Sri, ada relawan dari kampus mau bantu evakuasi di kampung kamu, pagi ini akan berangkat, kamu mau kesana kapan?" suara novi membuyarkan lamunanku, ntah sejak kapan dia ada disini, dan sigit juga
"kalau kamu mau kesana sekarang bareng aja, aku bawa mobil" sigit melanjutkan
"bareng kemana?" mas tri yang baru keluar dari kamar menimpali
"ke kampung bencana bang, anak-anak dari kampus yang jadi relawan mau berangkat pagi ini, aku dan novi juga tapi nyusul nggak bareng mereka, kalau bisa bareng sama abang, gimana bang?" sigit menjelaskan
"oh" jawab singkat mastri, lalu menoleh ke arah ku, ku tatap mas tri dengan penuh harap, agar dia menyetujui usul sigit
"baiklah, siap-siap dulu sayang" mas tri takluk dengan tatapan ku.
.
.
Kami sampi di lokasi pada malam hari, mas tri menyuruh ku untuk beristirahat diposko darurat bencana yang didirikan disana. Aku ditemani novi menunggu disana sedangkan mas tri dan sigit sedang menyusuri posko-posko korban selamat, untuk mencari keberadaan keluargaku dan keluarganya.
Pagi harinya aku memaksa ikut ke lokasi yang dulunya menjadi rumah bapak ibuk, dan mas ri, dengan menyangga perut besar, aku berjalan menyusuri reruntuhan bangunan-bangunan yang sudah hancur, novi dengan setianya memegangi ku, sedangkan sigit dan mas tri, membuat jalan agar mudah kulewati. Satu jam lebih aku berjalan dengan beberapa kali istirahat tentunya, sampai lah dilokasi rumah ku. Aku menatap nanar pandangan didepan mataku, rumah penuh kenangan masa kecil ku yang bahagia, sudah rata dengan tanah, tak berbentuk lagi, aku tak kuasa menahan tangisan ku
"ibukk.... bapak...., sri pulang" teriakku