
"Linda, mantan?" aku terkejut mendengar cerita mas tri, pikiran negative ku muncul seketika, dalam bayangan ku si Linda itu akan menggoda mas tri dan merebut mas tri dari ku. Ku hentikan acara memijat badan mas tri dan keluar menuju dapur, aku harus mengalihkan pikiran jelek ku dengan menyibukan diri, pekerjaan rumah lah yang ku lakukan. Saat aku keluar mas tri tidak mencegah ku, atau apalah begitu, mengejar dan menjelaskan kalau dia tidak akan tertarik dengan si mantan itu. Dasar memang laki-laki tidak peka.
Siangnya saat aku menyiapkan makan siang, ku dengar ponselku berdering dari dalam kamar, saat aku akan mengambilnya ternyata sudah diangkat mas tri
"hallo"
.......
"lagi sibuk, ada apa?"
......
"boleh"
.......
"tapi elo doang, sendiri, gak usah ajak sigit"
......
Mas tri mematikan panggilan itu, meletak kan ponselku ke meja lagi. Siapa yang telfon ya? aku masuk ke dalam kamar
"siapa mas?" tanyaku
"novi"
"kenapa nggak kasih ke aku?" sahut ku sewot
"dia mau kesini nanti sore" mas tri berjalan menuju kamar mandi
"terus kenapa mas nyebut-nyebut sigit tadi, aku denger"
"kalau nama pujaan hatinya aja langsung denger" dia menutup pintu kamar mandi
"apa maksudnya? hah" aku meneriakinya
"aku nggak ngijinin si gitai itu kesini" teriakan balik mas tri dari dalam kamar mandi, lalu terdengar suara gemercik air, aku keluar dari kamar dengan menggebrak pintu.
.
Sorenya setelah mas tri berangkat kerja novi datang ke rumah ku sendiri dengan membawa banyak cemilan yang aku sukai, aku dan novi bersantai di sofa sambil nonton tivi
"makasih ya nop, lu baik banget bawain banyak jajan, kesukaan gue lagi, lo tau banget kondisi gue ya" ucap ku sedikit murung
"hahhh" novi menghembuskan nafas beratnya
"gue mana ada duit buat beli jajan banyak begini, gue cuma beliin boba nih" novi mengangkat dua cup minuman
"terus dibeliin siapa?, kan lo yang bawa" tanyaku heran
"gita lah, siapa lagi"
"terus mana sigitnya?"
"nggak dibolehin laki lo, tadi gue telpon lo, yang angkat dia, nggak boleh ajak sigit katanya. cembokur kalik dia" novi menjelaskan
"gue sama sigit kan nggak ada apa-apa, kita juga biasa-biasa aja deketnya, sama kayak lo deket ke dia kan.
ihh nggak jelas banget tu orang, makin hari makin aneh laki gue" aku menggerutu
"emang lo nggak ngerasa, sikap sigit ke elo tuh beda?"
"sikap yang apa?, dia biasa aja ke gue, rese sih iya" aku mengangkat kedua bahu ku
"hemm" novi bergumam
"gue sebel banget sama mas tri, dia tuh marah-marah muluk kerjaannya sekarang, beda banget, gue nggak kenal dia yang sekarang, dalam keadaan begini kan mestinya kita saling menguatkan saling membantu saling menyemangati, eh dia malah marah-marah muluk kalau gue ajak ngomong" aku mulai curhat pada novi, lama tidak bertemu dengannya membuat ku ingin meluapkan semua unek-unek ku padanya
"dia tadi mau kemana?, kerja?" tanya novi menanggapi ku
"iya, tau nggak lo dia kerja dimana?
ih tambah sebel lagi deh aku... dia kerja ditempat kakak nya si mantan dia" aku melipat kedua tangan ku didada, semakin bersemangat aku ber curhat
"hah, mantan?" novi melongo
"mantan istri, jadi pelayan di bar"
"hah" novi melongo lagi
"gue kayak nggak rela banget dia kerja disana, tapi dia bilang sementara sampai dia dapet panggilan kerja dari pabrik, ya kalau ke terima ya dipanggil, kalau enggak ya nggak akan dipanggil-panggil"
"lo cemburu sama si mantan, apa nggak suka kerjaan laki lo?" novi bertanya
"nggak tau, dua-duanya kalik"
"dia kerjanya malem dong?, wah banyak cewek-cewek seksinya dong disana" novi malah memanasi ku
"iya, sampai subuh... ahh gimana dong kalau dia kecantol sama cewek sana, secara badan gue udah nggak berbentuk gini, apa lagi kalau sampai balikan lagi sama si mantan, haaahhh" aku mengeluh, kuwatir dengan nasib ku kalau ditinggal mas tri berpaling
"ya lo tinggalin dia, cari yang lain " ucap novi enteng sekali, dia pikir semudah itu
"noppiii, gue sukanya sama mas tri. Gue lagi mengandung anaknya, gimana nasib kita kalau mas tri ninggalin"
"eh sri kalau jodoh lo panjang sama si bang sat, tetep balik sama lo, nggak akan berpaling, ya kalau lo sama dia nggak jodoh, lo pertahanin mati-matian juga bakalan pisah. Suami itu emang sudah takdirnya buat diambil, kalau nggak diambil sama Tuhan, ya diambil sama pelakor, hahahah" novi menasehati ku
"syalan lo" ku lempar bantal ke arahnya
"curhat sama lo, nggak ada solusi" gerutu ku lagi.
.
.
.
Sudah beberapa hari suami ku bekerja, setiap malam aku sendirian. Yang awalnya kata dia ada pembagian sift jam kerjanya, nyatanya dia berangkat dari sore pulangnya subuh, sudah seperti semalaman saja dia kerja, apa dia sudah malas bertemu dengan ku ya, siangnya dia tidur seharian, hampir tidak pernah ada obrolan berdua, waktu kita bertemu hanya pagi saat sarapan, dan sore saat dia mau berangkat.
"hemm" dia menggeliat
"bangun, udah sore" ku goyang-goyang kan kakinya perlahan
"hemm"
"bangun mandi, nanti telat" ucap ku didekat telinga nya, bukannya bangun dia malah menarikku kepelukannya
"hari ini mas libur" jawabnya di ceruk leherku, membuat ku geli
"yang bener" aku memastikan
"iya, sayang, mau jalan-jalan?" dia mengelus-elus perutku
"mau, ke moll ya"
"boleh"
"mas, boleh tanya nggak?" aku sedikit terbata,
"boleh, kenapa?"
"kok mas kerjanya sampai subuh-subuh terus" tanya ku
"lembur sayang, katanya mau belanja-belanja" jawabnya lembut, aku rindu sekali dengan perlakuan lembutnya seperti ini
"mas, sampai lembur tiap malem, buat beli-beli keperluan bayi kita?" ku tatap matanya dengan mataku yang sudah berkaca-kaca
"iya sayang, dari dulu juga mas akan selalu bekerja keras buat kamu, anak kita juga, apapun mas akan lakukan untuk kebahagiaan kamu, agar kamu tidak kekurangan apapun sedikit pun, jadi tolong bersabar sedikit ya, kalau kamu mau apa-apa pasti mas turuti. Tadi malam mas udah terima gaji, lumayan buat belanja beberapa, sebagiannya lagi kita beli minggu depan. Nggak papa kan?" dia menangkup wajahku yang sudah berlinang air mata
"iya nggak papa" aku menganggukkaan kepala ku
"maafin aku ya mas, sudah berpikiran yang aneh-aneh, aku pikir mas macem-macem disana, udah bosan lihat aku yang mulai gendut, jelek, terus balikan lagi sama mantan mas yang cantik pasti"
"hahaha" mas tri hanya tertawa menanggapi ucapannku
"kok ketawa, nggak ada yang lucu" gerutu ku
"mas seneng aja, denger kamu ngomong gitu, kamu cemburu" mas tri mencibit hidung ku
"ah, siapa yang cemburu, pe de amat situ" bantah ku
"hahaha... nggak ngaku, mas seneng kok dicemburui artinya kamu takut kehilangan mas, udah cinta mati sama mas" mas tri memelukku
"iya cinta lah, kalau nggak cinta nggak ada nih perut membengkak"
"oh iya, boleh tengok dedeknya dulu nggak nih, sebelum mama nya diajak jalan-jalan" modusnya keluar deh
"hemm" jawab ku bergumam, dengan pipi yang sudah memerah.
.
.
.
Kita sudah di moll sekarang, sebelum ke moll, tadi kita ke klinik terlebih dahulu memeriksakan kandungan ku, ternyata mas tri sudah mendaftarkan antrian dari kemaren, sehingga aku dapat nomor awal pemeriksaan, membuat ku semakin bersalah, telah menuduh mas tri yang aneh-aneh.
Kita sudah selesai membeli beberapa perlengkapan bayi, aku sudah ke capek an dan lapar, akhirnya kita makan di foodcort moll itu. Aku senang sekali hari itu, bayi ku sehat-sehat saja dan BB nya pun normal sesuai usianya, keadaan ku pun sehat, dan memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Keperluan perlengkapan anak kami pun sudah beberapa terbeli, sekarang sedang makan berdua dengan suami. Aku senyum-senyum nggak jelas sambil makan.
"kenapa sih, yang... kok senyum-senyum muluk, nggak minum obat ya tadi?" ledek mas tri
"ihh... apa an sih, orang bahagia, dikira gila" aku menginjak kaki mas tri
"auwww, sakit" keluh nya
"hahahaha, rasain"
"awas ya kamu, hahaha" mas tri tertawa menggelitik perut ku
"hahahaha.. ampun, ampun, stop, stop" aku pun tertawa tak tahan geli
"hai... mas satria" tiba-tiba suara seorang wanita menyapa mas tri, aku mendongak melihatnya
Tinggi semampai, putih, rambut lurus panjang, tubuh langsing, dada XL, memakai rok jeans diatas lutut dan blouse model sabrina corak bunga berwarna kuning, pundak terekspose jelas sampai leher kebawah, haduh putihnya, aku sampai terbengong melongo memandanginya, wajahnya mulus banget glowing gila. Terus apa tadi, dia panggil siapa? mas satria?
"hai Linda" sapa balik mas tri, apa? Linda? alamak muantan.
Dia ngapain? cepika cepiki sama mas tri? laki gue mau pula, haduh senyum-senyum kek gitu ke laki orang. Aku nggak percaya 100% kalau mas tri nggak ngapa-ngapain dia waktu masih jadi suami istri. Kok aku jadi inscure gini tiba-tiba. Baju cuman dres hamil, rambut kusut, tangan kasar, kulit buluk, wajah kucel berminyak.
"Mbak, mbak" suara lidya membuyarkan lamunan konyol ku, aku menelan ludah ku, tenggorokan rasa nya kering mendadak, ku minum jus strowberi milik ku, dan mencoba tersenyum pada nya
"hehe.. iya, kenapa mbak?" ku coba menghilangkan ke gugupan atau emosi ya, dengan bertanya balik padanya
"istrinya mas satria ya, wah lagi hamil, kok kamu nggak bilang sih mas kalau istri mu lagi hamil" ucapnya manja pada mas tri manja apa menyek ya,
eh tangan dia pegang-pegang lengan suami ku, mas tri hanya mengangguk-nganguk saja matanya melihat ke arahku, ku pelototi saja dia, mas tri mencoba melepaskan pegangan tangan Linda.
"eh tadi aku ketemu tata, katanya kemaren kamu oke banget, besok mau sama kamu lagi di VVIP, hahahah." apa dia bilang apa?
"eh, ops" linda menutup mulutnya seperti sedang keceplosan salah ngomong.
"eh eh, iya, hehehe" mas tri terlihat gugup menanggapi ucapan linda.
Ada yang disembunyikan dari ku, semakin ku pelototkan mataku sampai mau keluar, aku tak tahan melihat tingkah linda yang mepet-mepet mas tri, tak tahan juga mendengar perkataan wanita itu, yang menyebut mas tri oke, oke apanya? gilanya oke? suaranya oke? atau sentuhannya oke?
"aku ke toilet dulu, permisi" aku sudah mau menangis saja
"mas anter sri" mas tri menawari ku, aku pura-pura tak mendengar
"nggak usah, dia tau arah toilet, aku ada tawaran menggiurkan buat kamu" terdengar linda mencegah mas tri untuk menemani ku.
Dan iya mas tri tidak mengejar ku