
*Senyuman mu
Yang indah bagai kan candu
Ingin trus kulihat walau dari jauh
Skarang aku pun sadari semua hanya mimpiku
Yang berkhayalah kan bisa bersamamu
(Febi~Halu*)
Sigit baru saja sampai di depan rumah sakit saat sri dan satria keluar dari sana dengan bergandengan tangan dan tertawa bersama terlihat beberapa kali sri bersikap manja pada satria. Dada sigit bergemuruh tak karuan melihatnya, sesak dia rasakan. Mungkin ini yang dinamakan sakit tapi tak berdarah, perih tanpa luka. Dia menelan ludah tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Dia membalikkan tubuh nya menghadap stand satpam ketika mobil yang ditumpangi sri melewatinya.
Tadi dia dan novi sempat berkirim pesan, dia menanyakan apakah satria datang, novi membalas tidak, dan novi memberitahu rumah sakit tempat sri memeriksakan kandungannya. Dia yang sedang rebahan dirumah beranjak mandi dan bersiap-siap ke rumah sakit. Meminjam mobil papa nya, dia pergi berniat untuk menjemput sri. Karena saat berangkat tadi sri, novi dan bu eni menggunakan taksi online.
Sungguh cepat tuhan mengubah keadaan, tadi hatinya serasa berbunga-bunga saat mendapat pelukan tak terduga dari sri, dan membuat cemburu satria. Sekarang terbalik, dia yang merasa cemburu.
Senyuman mu
Yang indah bagai kan candu
Ingin trus kulihat walau dari jauh
Skarang aku pun sadari semua hanya mimpiku
Yang berkhayalah kan bisa bersamamu
(Febi~Halu)
Alunan lagu dari radio di mobilnya, terdengar seperti sedang menggambarkan isi hatinya.
"damn it" dia mengumpat.
.
.
.
"mas, maaf" ucap sri ketika sudah di tempat tidur bersama satria
"stt" satria menggelengkan kepalanya
"udah, nggak usah dibahas, mas juga minta maaf ya" lalu mencium kening sri
"aku nggak gitu lagi, janji" sri menyerukan wajanya ke dada satria, lalu saling berpelukan
"istirahat ya, dengar tadi kata dokter? kamu jangan lelah dan sters, sekarang ada dia yang juga harus kamu jaga" satria mengelus perut sri, dia tersenyum
Saat periksa tadi dokter memang memberikan nasehat-nasehat tentang kehamilan pada mereka. Saat dokter melakukan tindakan USG pada sri, satria takjub melihat makhluk kecil dilayar monitor, semakin bahagia perasaannya ketika dokter juga memperdengarkan detak jantungnya. Rasa kesal dia pada sri menghilang semua, menjadi rasa cinta yang mendalam.
Satria juga sudah menjelaskan alasan dia tidak juga mengabari sri kemaren. Karena rasa cinta dan sayang nya pada sri yang mendalam dia membuang egonya untuk tak membahas sigit, yang sebenarnya dia masih tidak suka pada sigit. Untuk mengirangi rasa bersalahnya pada sri karena mungkin kelak dia juga tidak akan mampu mendampingi sri setiap saat dalam proses kehamilannya, satria membiarkan saja sri tetap dekat dengan sigit. Karena dia juga percaya pada sigit yang akan selalu menjaga sri.
"mas nggak suka aku masih temenan sama sigit?" sri membuka suara setelah hening beberapa saat
"asal jaga sikap, nggak apa-apa" jawab satria
"aku percaya kamu, udah ayo tidur" dia menarik selimut lalu memeluk sri.
Paginya sri tetap mengali morningsicknes
"kamu nggak papa?" satria memijat tengkuk sri
"hemm" sri menggeleng
"minum dulu" satria memberi teh hangat
"setiap pagi, kamu begini?" lanjutnya lagi
"sudah empat harian" sri melangkah menuju tempat tidur, satria mengolesi minyak kayu putih di kaki, perut, hingga leher istrinya yang menutup matanya
" maaf" ujar satria
"untuk?" sri membuka matanya, menatap satria
"hemm" sri tidak ada mood untuk berbicara
Tok tok tok....
pintu diketuk dari luar
"ibuk boleh masuk?" bu eni yang mengetuk pintu, satria berjalan membuka pintu
"iya buk"
"kamu nggak papa ndhuk? obat mual, vitamin, sudah diminum?" tanya bu eni pada anaknya
"sudah semua, makan juga, minum susu juga, tapi keluar semua" suara sri terdengar lemas
"nggak papa, nanti makan lagi" bu eni mengelus pelan rambut sri
"tadi mas mu telfon, ngasih tahu, tadi malam anaknya udah lahir" bu eni bercerita dengan wajah berbinar
"alhamdulillah" satria dan sri kompak menjawab
"perempuan, ah akhirnya ibuk punya cucu" raut wajah bu eni berubah sendu
"kenapa buk" satria menyadari
"ibuk merasa bersalah, nggak nemenin mereka disana" bu eni terisak, satria memeluknya
"ibuk mau pulang? mau lihat anak mas ri?" tanya sri, bu eni menggeleng
"pulang lah buk, tengok dulu anak mas ri, nanti mas kecewa kalau ibuk nggak kesana" lanjut sri
"tapi kamu masih kayak gini kondisinya, satria juga harus jagain bapaknya sambil kerja pula" bu eni memberi alasan
"ada novi, nanti sri minta novi nginep sini sampai ibu pulang"
"jangan, nanti ngrepotin novi, kasian kalau dia harus urus kamu"
"sri bisa urus diri sendiri buk, cuman kalu pagi aja suka gini, siangnya seger an lagi kok" sri menarik baju satria memberi kode untuk membantunya meyakinkan bu eni
"kamu ikut aja sri, sekalian juga kamu tengok ponakan" satria memberi usul
"nggak mau, aku nggak mau perjalanan jauh, membayangkan saja aku sudah mual" sri bergidik membayangkan akan naik mobil dengan waktu yang lama, tiba-tiba perutnya mual lagi membuatnya berlari ke kamar mandi diikuti satria
"ibuk nggak usah pergi aja deh, nggak tega kalau harus ninggalin kamu" ucap bu sri ketika anak dan menantunya keluar dari kamar mandi
"sri nggak papa buk, wajar kan kalu orang hamil kayak gini" sri duduk ditempat tidur samping bu eni
"ada alasan lain?" lanjut sri, bu eni cepat-cepat menggelengkan kepala
"ada yang di tutupi ibuk?" sri bertanya lagi, bu eni menundukkan kepala
"gara-gara ada bapak disana, mungkin?" sri memojokkan bu eni
"sayang" satria mencoba menghentikan sri,
"ibuk sama bapak kenapa sih, kalau aku pikir-pikir nggak banget deh alasan cerai kalian, kok kayak sri yang jadi penyebab kalian berpisah? aku jadi selalu merasa bersalah, hampir setiap malam aku susah tidur memikirkan itu, apalagi kalau nggak ada kamu mas, kalian pikir keadaan ini membuatku bahagia?" sri menumpahkan semua isi hatinya
"jauh dari bapak, tiap hari lihat ibuk nangis kalau habis sholat, punya suami jarang pulang, tiap pulang ngajakin ribut mulu, di kampus dikatain udik, kampungan, culun. untung ada novi sama sigit. mereka yang selalu baik sama aku, selalu ada buat aku, jadi penghiburku, perhatian sama aku, kamu ingat mas, aku pernah cerita kalau sigit yang udah nolongin aku dari preman yang mau bertindak jahat sama aku, harusnya kamu bertrimakasih sama dia, bukannya curiga" sri menggebu gebu menumpahkan emosi
"kalian pikir aku bahagia?" sri membentak
"aku tersiksa, huaaa...." sri menangis tersedu-sedu, satria mendekatinya memberi pelukan sedangkan bu eni ikut menangis
"maafin ibuk , ndhuk, maaf " bu eni terisak
"maafin mas juga ya, mas nggak tahu kalau kamu begitu tersiksa" satria memeluk dan menciumi pucuk kepala sri
"ibuk akan ceritakan semua pada kamu, tapi nanti"
"aaghhh..." sri merintih memegangi perutnya bersamaan suara pintu di ketuk dari luar
Tok tok tok
"assalamualaikum"