SRI

SRI
27. Merubah


"Pagi ma pa" sapa ku pada mama papa yang sudah duduk di ruang makan, ku cium pipi mama lalu duduk disebelah sarah


"pagi" balas mama dan papa bersamaan


"eh dek, kok kamu nggak bangunin kakak sih, malah jadi dia kan yang bangunin, rese banget tauk dia" gerutuku pada sarah dan menunjuk sigit dengan kesal karena membangunkanku dengan air


"sarah kira kakak mau bangun siang, semalem nggak bisa tidur kan kamu kak, kayak nggak tenang gitu tidurnya. Hampir aja aku juga nggak bisa tidur gara-gara kakak gerak-gerak terus" sarah menjelaskan, aku memang tidur sekamar dengan sarah, sebenarnya ada satu lagi kamar dirumah sigit yang kosong, kamar tamu. Tapi sarah mau aku tidur dengannya, aku juga setuju dengan ajakannya, biar berasa punya saudaranya.


"dia bangunin pake air, rese banget" ucapku ke arah sigit dengan kesal


"situ kebo" balasnya santai dengan makanan penuh dimulutnya


"bodo" aku lalu mengambil nasi goreng sebagai sarapan ku


"kenapa nggak bisa tidur sri? sakit?" tanya papa


"iya pa, sakit hati" sarah yang menjawab sebelum aku


"sakit jiwa pa" timpal sigit, padahal aku sudah membuka mulutku untuk menjawab


"sarah, sigit" mama menegur dengan tegas, mereka berdua melengos


"sri mau kuliah aja ya ma pa, cutinya udahan" ucapku menatap mama dan papa nya sigit bergantian


"iya, harusnya memang begitu, kamu harus ada kegiatan, nanti papa yang urus" papa menghentikan makannya


"kamu tinggal kuliah aja yang bener, sekarang mama sama papa yang jadi wali kamu. Nggak usah pikirin yang lain, fokus dengan kuliah mu saja ya" lanjutnya lagi, semua yang disana diam mendengarkannya


"ini buku tabunga sri pa, dari ibuk buat biaya kuliah sri, papa atau mama aja yang bawa" ku letakkan buku tabungan diatas meja depan mama, papa dan mama saling pandang


"buat biaya kuliah sri, sri nggak mau ngrepotin papa mama kalau soal kuliah, pasti mahalkan" aku menjeda kalimat ku lagi


"sri juga mau cari kerja, masak mau minta mama terus uang sakunya, he he he" lanjutku terkekeh


"ya nggak apa-apa sayang, kamu kan juga anak mama, ya kan pa?" ucap mama dengan senyum manisnya, papa hanya mengangguk


"tapi sri rasanya nggak enak, mama papa udah nampung disini aja sri udah bertrimakasih sekali, udah anggap sri seperti anak sendiri, memperlakukan sri sama seperti sarah dan sigit nggak beda-bedain, sayang banget sama sri, sri bersyukur banget bahagia banget punya keluarga lagi. Kebaikan kalian sungguh sudah banyak sekali, sri nggak akan mampu membalasnya, jadi mohon ijinin sri kerja ya, sri harus bisa mandiri mulai sekarang" ku ungkapkan keinginanku dengan sendu


"kakak.... jangan gitu, sarah jadi ikut sedih, hati sarah itu kayak okijelidring lembek, nggak kuat kalau denger yang melow-melow gini" sarah yang duduk disamping, memelukku,


"t4i lo tuh yang lembek kebanyakan minum okijeli" sigit manyahut


"udah jangan mulai lagi" papa memberi peringatan


"yang pasti harus kamu tahu sri, papa sama mama tulus melakukan itu buat kamu, dan nggak usah terbebani dengan semua yang kami berikan untukmu, soal kerja nanti papa pikirkan lagi. Tabungan nya kamu bawa dulu, dipakai aja dulu buat jalan-jalan" papa tersenyum pada ku, lalu beranjak dari tidurnya


"ayo berangkat sarah sigit" lanjutnya.


.


.


.


"kak, besok sarah libur" ucap sarah ketika kita sedang berada dikamar, aku sedang main game dari ponselku dan dia telah selesai membuat PR nya. Sarah masih kelas dua SMA, dia amat feminim sekali, sangat manja, dan cerewet tapi dia juga baik hati.


"kenapa" tanya ku


"tanggal merah lah, makanya jangan jadi pengangguran mulu, jadi nggak tau tanggal" gerutunya


"bodo" jawabku cuek


"ke salon yuk" ajak nya


"ih ogah, males" tolak ku masih fokus dengan game ku


"ayo dong kak, sarah udah lama nggak ke salon, rambut udah kusut, wajah udah banyak komedo nih" dia menggoyangkan tubuh ku


"ihh sarah, jadi mati kan gue" gerutuku kesal karena jadi tidak fokus di game


"sukurin, lagian kaka nggak mau dengerin sarah si" jawabnya


"dengerin ih dari tadi, kakak kan udah jawab nggak mau" ku letakkan ponsel ke meja


"habis ke salon kita jalan-jalan, mau belanja nggak?" rayunya lagi


"nggak, lagi kere" tolak ku lagi


"nanti sarah mintain papa"


"malah semakin nggak mau!"


"pakek uang ditabungan kakak gimana?, banyak isinya kan, sekali-sekali nggak apaapa lah kak, nggak banyak juga dipakeknya, nanti disalonnya sarah yang traktir deh, tapi kalau belanjanya bayar sendiri, gimana" dia menggerakkan alisnya naik turun, memberiku saran, aku masih diam berpikir


"kakak takut kalau keluar rumah ketemu lagi sama manta, gagal deh move on" cerita ku


"ya nggak apa-apa ketemu, orang kita masih sama-sama didunia. Kalau ketemu cuekin aja lagi, pura-pura nggak kenal"


"kalau dia nyapa?"


"cuekin aja, pura-pura budek, tunjukin ke dia kalau kakak masih hepy-hepy aja tanpanya. jangan lemah didepannya, mantan itu tempatnya disampah jangan dipungut lagi"


"kayak pengalaman, omonganmu" aku terkekeh mendengar sarannya


"ya gitu deh, hahaha..."


Jarak umur sarah dengan ku tak terpaut terlalu jauh, hanya selisih beberapa tahun saja, menjadikan kita mudah akrab dan dekat, walau aku sering menjahilinya.


"gimana kak? mau ya? ajak kak novi sekalian, tapi jangan kak sigit" rengeknya lagi


"iya deh mau, telfon novi dulu ya" aku akhirnya setuju, ku pikir-pikir aku juga sudah suntuk berada dirumah terus, mama sering mengajak ku untuk menemaninya belanja, novi dan sigit juga sering menawari untuk sekedar jalan-jalan, tapi aku selalu menolaknya, ya aku masih takut bertemu mas tri diluar sana, apalagi melihatnya dengan wanita lain.


.


.


.


Esok harinya aku dan sarah sudah siap-siap untuk pergi, lalu pamit dengan mama papa, novi tidak ikut semalam ku telfon dia, katanya dia mau pulang ke kampungnya, sudah lama tidak pulang dia rindu dengan orang tua dan saudaranya. Saat akan memesan taksi online, sigit datang dan memaksa untuk ikut pergi dengan ku dan sarah, padahal kita akan ke salon tapi dia tetap memaksa mau ikut, akhirnya kita ajak dengan syarat dia harus diam tidak boleh bawel banyak protes saat mengikuti kemanapun kita jalan.


"dasar jomblo akut, adeknya mau ke salon aja diintilin, sana cari cewek biar nggak ngerecokin kita terus" ucap sarah dengan wajah kesal pada sigit saat kita memasuki mobil


"kayak kalian nggak jomblo aja, gue tu mau jagain kalian, bahaya cewek-cewek pergi tanpa kawalan, harusnya bertrimakasih tauk kalian, dengan suka rela kakak kalian yang ganteng ini meluangkan waktunya" jawab sigit, bau-bau peperangan akan dimulai nih


"bacot lo kak, bilang aja emang lo gabut, alesan mau ngawal. gue sama kak sri mau kesalon ya, awas lo kalo rese, jangan bikin ulah, jangan gangguin cewek disana" sarah kalau diluar rumah bar-bar juga ya ke sigit


"ye.. nggak ada kamus gue gangguin cewek, yang ada cewek yang minta digangguin sama gue, sigit sang primadona, idola kampus.....(menyebut nama kampus)"


"wekkkk" aku dan sarah bersamaan


"idola primadona? kok nggak laku, jomblo dari orok" ejek sarah


"lo nggak tau aj..." sigit hendak membalas ejekan sarah lagi tapi aku memotong ucapannya


"BERISIK" teriakku, sarah dan sigit serentak menutup telinganya.


.


"nggak nginep aja lo disini dek, ngapain aja sih lama banget nyalon kayak emak-emak, masih utuh juga tu muka, hidung mata mulut masih ada" kudengar suara sigit memprotes sarah yang duluan keluar menuju ruang para penunggu


"apa an sih lo, udah gue bilang kan jangan banyak ina ini mulutnya kalau mau ikut" jawab sarah


Lalu aku keluar berjalan menuju sofa dimana sigit dan sarah berada


"udah, lanjut lagi nanti debatnya, makan dulu yuk laper" kata ku menegur mereka, sigit mengalih kan pandangan nya dari sarah menuju ke arah ku, aku tersenyum padanya, eh dia bengong melihatku, tambah cantik kalik aku ya jadi dia terkesima melihat tampilan baru ku, hehehe pede sekali aku.


"hey kang siomay, jaga tuh mata, ngelihat sampai sebegitunya" bentak sarah mengagetkan sigit


"apa sih, gue cuman sedang mengagumi ke indahan ciptaan Tuhan" jawabnya gombal


"idih gombal, pelangi kalik ciptaan tuhan" balasku tersipu dengan gombalannya


"pelangi itu agung yang ngelukis, nggak usah kemakan sama rayuan gombal tokek musholah kak" sarah menimpalinya


"tokek musholah mah soleh, rajin ibadah" sigit tak mau kalah


"yok keluar lah, katanya laper" lanjutnya dan kita bertiga keluar dari salon.


.


Kini kita sedang makan di foodcor . Ku lihat jam sudah menunjukakan siang menjelang sore, ternyata aku dan sarah menghabiskan banyak waktu di salon tadi, benar saja sigit sudah mengeluarkan taringnya tadi. Kulihat kini sigit dari tadi melirik ke arah ku.


"kenapa git? ada yang aneh dengan penampilan ku? dari tadi gue perhatiin lo lihatin gue muluk, nggak fokus makan" aku menegurnya, dia terlihat salah tingkah


"nggak" bantah nya


"nggak apa, gue juga dari tadi mata lo kemana aja kak" tambah sarah


"lo kelihatan fres sri, cocok banget gaya begitu, tambah cantik lebih feminim. Sakit jantung dah abang neng, deg deg an ui" ucapnya membuatku tersipu lagi-lagi.


"elah gombal lagi dah tu tokek, awas lu naksir beneran ntar sama kak sri, habis ini mau gue rubah semua style pakaian nya, biar nggak norak kayak dulu"


"emang gue norak ya?, pantes aja temen-temen kampus sering manggil udik" keluh ku


Aku merubah penampilan ku sesuai arahan sarah tadi waktu disalon, rambut panjanku dirapikan dan diganti warna, wajah ku difacial lalu di tambah make up tipis, kuku-kuku ku di meni pedi dan dicat. Tinggal pakaiannya yang harus diganti kata sarah si. Dan sekarang aku sedang berbelanja pakaian, tentu saja semua yang memilih adalah sarah, aku seperti anak kecil yang menurut dan mengikuti semua baju pilihan ibunya. Oh astaga aku akan menjadi mainannya sarah ini, dan akan dia dandani seperti yang dia mau. Aku pun pasrah saja, karena memang aku pikir harus mulai merubah hidup ku mulai dari tubuh ku.