
Sesampainya dirumah aku dikagetkan dengan situasi dirumah, barang barang semua berantakan tapi tidak ada satu orang pun disana, ku pikir ada rampok atau maling yang masuk. Aku memanggil ibu dan bapak namun tidak ada yang menjawab, aku mencari mereka kedalam kamar, tidak juga kutemukan bapak dan ibu. Aku mulai takut terjadi sesuatu pada mereka, aku terus berteriak memanggil ibu dan bapak.
Saat aku sampai dikamar mandi, aku mendengar suara gemercik air yang keluar dari kran. Ku putar hendel pintunya ternyata tidak dikunci, ku buka perlahan karena aku takut ada orang jahat sedang mandi disana.
"Ya Allah.... ibuk" aku kaget ternyata yang di dalam kamar mandi adalah ibu ku
"ibuk kenapa begini?" aku mengambil handuk yang tergantung dibelakang pintu, menutup kran air, membantu ibu berdiri sambil menghanduki ibu yang basah kuyup masih berpakaian lengkap.
Ku peluk ibu dengan erat, setelah aku menggantikan pakaiannya dan merebahkan tubuhnya dikasur kamar ibu. Banyak sekali pertanyaan dalam otak ku tentang apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ibu jadi seperti ini. Tapi aku tak sanggup menanyakan itu pada ibu melihat kondosi ibu yang seperti ini, ibu masih saja menangis sampai dia ketiduran. Setelah ibu tidur aku menelfon tika untuk ijin tidak bisa mengajar les hari ini karena ibu sakit. Selain itu aku juga menelfon mas ri, mengatakan kejadian ini dan menyuruh dia untuk kesini.
Aku menelfon bapak tapi nomornya tidak aktif, akhirnya aku juga menelfon mas tri. Untuk apa ya aku menelfon dia dan menceritakan semua kejadian ini. Apa aku sudah mualai akan bergantung pada dia, apa aku sudah se bucin ini sih. Sambil membereskan rumah yang berantakan aku meneliti barang apa saja yang hilang kalau benar dugaan ku ada perampok pasti ada barang yang hilang. Tapi ternyata tidak ada semua barang masih ada, lalu apa yang terjadi?
Tok tok tok....
"Asalamualaikum...ndhuk, kamu gak apa apa? ibuk dimana?" suara mbak nur istri mas ridho terdengar mencemaskan ku
"waalaikum salam, aku gak papa mbak. ibuk ada dikamar, temui dulu ibuk mas mbak, aku mau selesai in beberes" jawabku
"bapak masih belum bisa ditelfon?" tanya mas ri pada ku
"belum mas, ada ditoko pasar gedhe gak mas?"
"gak ada juga, aku udah telfon semua toko bapak, gak ada yang tau juga ada dimana. yaudah mas naik dulu"
"iya"
Saat aku akan membuang sampah di depan rumah, ada suara motor berhenti, aku menoleh ku kira bapak ternyata mas tri.
"Ngapain kesini lagi, ini udah mau maghrib" ku hampiri mas tri dan membukakan gerbang untuknya.
"Aku kawatir sama kamu dan ibu, kalau beneran ada rampok, gak ada laki-laki dirumahkan" dia memasukan motornya ke halaman rumahku
"udah ada mas ri sama mbak nur, we...." ku tutup gerbangnya kembali dan berjalan ke teras rumah
"oh dia udah dateng, syukurlah.
kamu kenapa kok kayak habis maraton, kringetan begitu"
Aku langsung menoleh ke kaca jendela melihat keadaan ku, ternyata dekil kucel lusuh kringetan begini sudah dijamin ada bau bau ketinya juga ini.
"habis beres-beres rumah tau,
aku kan tadi udah cerita kalau rumah berantakan kayak habis hajatan sunatan anaknya mas ri" ku duduk kan tubuhku diteras rumah, mas tri masih duduk diatas motornya
"apa an tuh, kamu bawa makanan ya mas? ada es teh gak? aus banget nih" melihat kresekan besar dimotor mas tri mataku langsung berbinar
"ada, tapi bekas ku, aku cuman beli makanan buat kalian aja, kalau air kan ada di kulkas" mas tri turun dari motornya membawa kresekan tadi.
"nih.. sedotannya bekasku, pas nih biar beresa kayan ciuman sama aku kamunya" goda mas tri memberikan sisa esteh nya padaku sambil alisnya digerakkan naik turun
"apa an sih, gak ngaruh kalik, ilmu dari mana coba, pengarangan" jawabku menerima es teh pemberiannya dan meminumnya
"didalam udah ada ridho kan" mas tri ikut duduk di sebelahku
"iya, tadi kan aku udah bilang"
"ini makanan, nanti kamu makan ya sama ibu dan mbak nur, aku cuma beli tiga. gak tau kalau ridho udah dateng juga. dikira cuma mbak nur aja yang dirumah" mas tri menyerahkan bungkusan kresek berisi makanan ke pada ku, dan mengusap kepalaku, jadi berantakan deh rambutku
"makasih ya mas, habis maghrib aku langsung makan" ujarku bertrimakasih
"sama sama... ehm ndhuk, tadi siang kan kamu bilang sudah ada hati diantara kita, apa itu artinya kamu juga suka sama aku? gak bertepuk sebelah tangan kan cintaku?" dia menatapku dengan tersenyum, matanya berbinar memancarkan kebahagiaanya, haduh jantungan lagi kan aku.
"hehehehe.... aku kayak mau jantungan mas, kalau aku tiba-tiba mati gimana dong, degdegkan aku mas, mana tambah gerah lagi ini, panas" sambungku sambil mengipas ngipas wajahku dengan tangan
"hahahaha..... lucu banget si kamu" mas tri mencubit pipiku
"ya sebelum kamu mati, aku kasih nafas buatan aja, bantuin kamu nafas biar nyambung lagi detak jantungnya" ujarnya lagi membalas ucapanku
"ih... kamu...."
belum selesai kata-kataku terucap, terdengar suara gerbang dibuka
"heh, kalian berdua sedang apa? sudah magrib ini, bukan nya kemasjid malah berduaan disini" suara itu dengan nada keras dan membentak dari arah gerbang
"bapak dari mana sih? ditelpon gak aktif, dicariin mas ri juga gak ada dimana-mana, tau gak pak, rumah kacau kayak kerampokan, ibuk nangis terus dari tadi" aku menyambut bentakkan bapak tadi dengan omelan juga
"masuk kalian, sholat maghrib, dan temui bapak diruang tamu setelahnya" ujar bapak yang berjalan memasuki rumah di ikuti aku dan mas tri
"baik pak" mas tri yang menjawab lalu aku masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih badan dab sholat maghrib.
.
.
.
Aku keluar dari kamar berjalan menuju ruang tamu, setelah aku selesai sholat maghrib. Ternyata disana semua orang sudah berkumpul termasuk ibu yang mukanya pucat dan sembab, mas ri dan mbak nur pun ada.
"Ada yang mau bapak bicarakan pada kalian semua" bapak memulai membuka suara setelah aku duduk di sebelah ibu
"Ibu kalian meminta bercerai dengan bapak, dan bapak akan mengabulkannya. karena sepertinya ibu kalian sudah tidak bisa patuh lagi dengan bapak, dan akan memilih jalan kebahagiaannya dengan caranya sendiri" ucap bapak, suaranya terdengar ada kesedihan dan luka yang mendalam disana.
Bak disambar petir disiang bolong akupun kaget semua orang disana juga kaget, aku hendak berdiri dan mengucapkan kata-kata protesku pada bapak, tapi tanganku ditahan ibu, matanya menatapku mengisyaratkan aku harus diam dan tenang.
"Tapi pak, kenapa?" mas ri berdiri dan menggebrak meja. mengagetkan semua orang
"Gak bisa kayak gini dong pak, apa gak ada jalan lain? apa bapak udah ada yang lain? siapa?" mas ri terlihat masih emosi
"Bapak sama ibu dari dulu baik-baik saja, kenapa tiba-tiba mau pisah, hah!" terlihat mas tri mendudukkan tubuh untuk meredakan emosinya
"Bapak minta maaf untuk itu, keputusan bapak sudah bulat, untuk kabahagiaan ibu kalian" jelas bapak dengan singkat
"Kamu mau daftar kuliah minggu depan kan ndhuk?" tanya bapak padaku
"i..iya pak" jawabku gugup sambil mengusap airmataku yang jatuh tak tertahan, inguspun dengan nakalnya ikut serta dalam acara ini
"Kalau begitu kalian sri dan satria, lenggkapi semua syarat-syarat untuk menikah kalian berdua, ini catatan persyaratannya. Besok antar ke toko bangunan bapak yang depan kantor kelurahan, biar orang bapak yang urus denga cepat. Sebelum pergi ke kota kalian harus menikah dulu" bapak menjelaskan perintahnya
"Tapi pak..." aku ingin menyanggahnya
" Bawa ibumu ke kota juga, bapak tidak akan menghalangi keinginan kalian. Perceraiannya akan bapak urus sendiri disini. Kalian jangan kawatir. Bawa semua yang kalian butuhkan, bapak juga akan siapkan rumah untuk tinggal kalian. Sesuatu semua sudah diatur Ilahi, setiap pilihan selalu ada resikonya, setiap kebahagiaan membutuhkan pengorbanan. Bahagialah dengan pilihan kalian, do'a Bapak selalu ada disetiap langkah kalian, bapak pergi dulu. karena tadi siang bapak sudah menalak ibu, tidak baik untuk bapak kalau masih disini" jelas bapak panjang lebar
Serasa duniaku runtuh, ternyata semua ini karena keinginanku untuk kuliah, ke egoisan ku malah menjadi mala petaka bagi rumah tangga ibu dan bapak. Aku tidak menyangka jika ibu benar-benar akan meninggalkan bapak demi kuliahku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya menangis dan berpelukan dengan ibu yang juga menangis.
"Bapak titip ibu dan sri pada mu satria, jaga mereka baik-baik, nanti bapak bantu memindahkan usahamu dikota, bapak percaya padamu" aku mendengar kata-kata bapak untuk mas tri
"Ridho ayo pulang, kalau kamu mau ikut ibumu juga, silahkan. Asalamualaikum" kata terakhir bapak yang ku dengar diikuti suara langkah kaki berjalan keluar
"maaf kan ridho ya buk, ri harus ikuti bapak dulu. ayo nur" mas ri meminta maaf pada ibu, mencium kening ku dan ibu bergantian lalu pergi keluar mengikiti bapak
Aku semakin kalut, aku berlari menuju kamar, maninggalkan ibu dan mas tri diruang tamu. Pikiran ku dipenuhi penyesalan