
Sri
Ku buka mata ku perlahan, pusing yang kurasakan. Kulihat disekeliling ku, aku dimana sekarang ini. Novi dan sigit terlihat sedang tidur disofa, apakah aku dirumah sakit? ah iya tangan ku diinfus. Bagaimana dengan bayi ku, ku raba dan ku lihat perut ku. Hah mengecil dan aduh sakit, apa aku sudah melahirkan anak ku? dimana sekarang dia?
"nov,nov... nov" ku coba membangun kan novi dengan memanggilnya
"sigit, git, sigit..." novi tidak juga bangun, ku panggil sigit
"hemm" sigit membuka matanya
"sri, kamu sudah bangun?" dia menghampiri ku
"kamu mau apa? haus? mau minum?" lanjutnya lagi, mengambilkan aku air lalu membantu ku minum
"ehmmm.." suara novi meregangkan badannya
"sri! sudah bangun" novi terkejut
"aku panggil dokter" dia menekan tombol panggilan pada perawat
"mana anak ku?" ucap ku bertanya pada mereka yang sedang heboh
"em...em.." novi mencoba menjawab
"selamat malam" dokter dan perawat masuk ke ruangan ku
"selamta malam dok" novi dan sigit kompak menjawab
"apa kabar ibu sri" dokter menyapaku dengan senyuman
"wah masih muda ternyata cantik lagi padahal bangun tidur ya, saya kok panggil ibu, ganti ya, saya panggil nona sri aja ya" masih dengan senyumnya yang cantik dokter itu mendekati ku
"eh, sri aja dok" balas ku
"baik, apa yang sekarang yang dirasakan sri?" dokter memeriksaku
"masih pusing dok, anak saya mana dok?"
"kamu baru bangun, sebaiknya minum dulu, kamu tahu berapa lama kamu tidur? nyenyak sekali tidur mu" aku menggeleng menjawab pertanyaannya, dia mengambilkan aku minum
"kamu tidak lapar? kamu tidur 6 hari loh, berapa hari nggak tidur, capek ya? sampai malas untuk bangun? hemm" aku menutup mulut yang terbuka dengan tanganku, terkejut mendengar ucapan dokter
"kamu nggak percaya?"
"selama itu aku tertidur?" kutoleh sigit dan nova mencari jawaban
"iya, dan kamu, membuat semua orang kacau" jawab novi
"lalu dimana anak ku?"
"dimana mas tri?"
"apa dia meninggalkan ku?" banyak pertanyaan di benakku, lalu tiba-tiba bayangan mas tri yang bergandengan dengan seorang wanita muncul, mata ku buram, air sudah terkumpul, dan jatuhlah hujan dari mataku
"sstt, tenang dulu ya, semua baik-baik saja" dokter memeluk ku, aku semakin terisak
"suami kamu lagi kerja sri" ucap novi
"anak ku mana?... aku bilang anak ku mana?" aku mengeraskan suara ku, melihat semua orang diam saat ku tanya dimana anak ku dari tadi
"apa dia masih tidur di ruangannya? apa aku tidak boleh melihatnya sebentar saja?" ku lepaskan pelukan dokter, menatap semua orang dengan penuh iba
"yang sabar sri" novi memelukku, diapun ikut menangis, membuat ku semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi
"apa maksudmu?" aku mendorong novi, menatapnya
"dia menunggu mu disurga" ucap dokter
dan
duar
duar
duar
apa?
apa dia salah bicara?
apa aku salah dengar?
Seperti disambar petir rasaku
Aku tak mampu berucap apapun lagi, lemah rasanya tubuh ku.
Siang aku terbangun lagi, kulihat cahaya matahari dari jendela yang tak tertutup korden. Mas tri tidur terduduk disamping ku, bersandar pada tempat tidurku, tangannya ia gunakan sebagai bantalan kepalanya. Ku pandangi wajahnya, kantung matanya menghitam, pipinya terlihat makin tirus. Mungkin dia kelelahan malam dia bekerja dan siang harus menjagaku disini.
Tapi aku teringat dia bersama wanita lain membuat gemuruh dihatiku muncul lagi, dan teringat ucapan dokter malam tadi semakin membuat ku tak karuan. Aku menangis terisak.
"sayang,, kamu sudah bangun" tangisan ku membangunkan dia
"aku kangen banget sama kamu" dia memelukku
"sstt,, maaf, maaf, maafkan aku" dia mengeratkan pelukannya, aku tak membalas pelukannya. Sesungguhnya aku pun merindukannya.
"maafkan aku sayang" dia memeluk perut ku
"sakit" ucap ku
"maaf" dia melepaskan pelukan nya
"dimana anak ku" todong ku
"kamu kemanakan anak ku?" aku semakin emosi
"KAMU JAHAT, AKU BENCI KAMU" bentak ku
krek...
Suara pintu dibuka
"Sri, kamu sudah bangun lagi" novi masuk dengan senyum diwajahnya,
"mau makan? mau minum?" tanyanya tak menghiraukan mas tri
"mau aku seka tubuhmu? ganti baju? jelek banget kamu, kamu harus gosok gigi juga, aku bantu kamu ya" novi menyeka air mata ku, lalu dia beranjak mulai mengambil peralatan mandi dan baju ganti ku, aku mengangguk
" oh ya bang, itu kamu makan dulu, sudah aku belikan" novi menunjuk kantong plastik hitam yang tadi ia bawa menawarkan pada mas tri
"iya nov" mas tri bangun dari duduknya disebalahku, tak kuperhatikan dia.
Seminggu berlalu, aku telah dinyatakan pulih pasca oprasi. Tubuh ku sudah mulai pulih, luka jahitan diperutku sudah membaik, aku di bolehkan pulang. Novi bercerita, aku terjatuh tak sadarkan diri setelah melihat mas tri di moll waktu itu, dan harus melahirkan waktu itu juga. Aku lalu dioprasi secar, dan setelah itu tak sadarkan diri selama 6 hari. Karena anak ku lahir sebelum waktunya dia harus dirawat secara intensiv. Dia tidak kuat untuk menunggu ku bangun, akhirnya dia pergi meninggalkan aku lebih dulu.
"Udah selesai semua, apa ada lagi yang belum dimasukin tas?" ucap novi yang sibuk mengemas pakaian dan barang-barang lain diruangan ku.
"udah kayak nya nov, sekarang giliran kamu sigit, angkutin ini ke mobil" ibunya sigit menunjuk tas-tas yang sudah ditata novi
Sejak aku sadar dari koma ku, aku tak mau melihat mas tri lagi, rasanya aku tak sanggup, aku akan teringat penghiantannya, dan anakku yang sekalipun aku tak pernah melihatnya. Luka itu masih jelas terbuka, masih menganga lebar. Dan mas tri pun sepertinya tak pernah berusaha untyk menemui ku lagi. Itu mungkin lebih baik untuk kita saat ini
Jadi yang menemaniku disini, novi, sigit, dan mamanya sigit, terkadang adiknya sigit juga kesini kalau dia tidak sibuk sekolah, papa nya sigit juga sempat menengokku. Bahkan keluarga novi yang tinggal jauh diluar kota pun menengok ku disini walau hanya sehari. Mereka sudah seperti keluarga ku, mungkin mereka iba melihatku yang sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Mamanya sigit baik sekali, dia begitu perhatian dengan ku, sabar menemaniku saat aku depresi beberapa hari, bicaranya lembut dan menenangkan, mau mendengarkan keluh kesahku, merawatku, dia bak malaikat yang Tuhan kirim untuk ku menggantikan ibuku. Aku bersyukur sekali dikelilingi orang-orang baik.
Aku sungguh tak pernah menyangka akan menjalani takdir yang seperti ini. Aku sendirian, bahkan anak ku pun tak mau menemaniku. Suamiku saja... ah bahkan aku tak ingin menyebutnya suami. Dia satunya-sutanya yang kumiliki saat ini, yang paling ku percayai dan ku andalkan, tapi dia tega melukai ku, se dalam-dalamnya separah-parahnya.
"Ayo sayang, turun ke sini... mama dorong ya" mamanya sigit membantu ku turun ke kursi roda, dia yang meminta untuk dipanggil mama saja bukan tante, ah membuat ku rindu pada ibuku
"makasih ya mah, sigit sama novi mana?"
"sigit lagi nyiapin mobil, novi lagi ngambil obat" mama mendorongku keluar kamar, semua barang sudah diangkut sigit ke mobilnya
"mah... sri ada tabungan, tapi masih dirumah, nanti sri ganti yang buat administrasinya ya" aku sedikit ragu mengucapkan itu
"tenang sayang, administrasinya udah diselesaikan sama satria, jadi sekarang sri nggak usah mikirin itu" mamah menjelaskan
"oh, ma... sri nggak mau pulang ke rumah orang itu" aku memohon,
"iya, mau pulang ke rumah mama?" tawarnya
"ke kosnya novi aja ma" tolak ku
"ma, makasih ya, mama udah baik banget sama sri, mama udah mau direpotin sri, maaf ya ma sri belum bisa bales kebaikan mama dan sekeluarga, ternyata masih ada yang peduli sama sri, sri sayang sama mama" ucap ku sambil menangis saat kami tiba di depan loby menunggu novi dan mobil sigit, mama jongkok didepan ku dan memelukku
"mama juga sayang sama sri, kamu nggak sendirian, masih ada banyak yang sayang sama kamu, mama udah anggap kamu anak mama sendiri, mama seneng sekarang anak perempuan mama ada tiga, sarah sri sama novi, cantik-cantik lagi, papa pasti juga seneng, apalagi kalau kamu mau tinggal di rumah mama" mama membelai rambutku mengusap air mataku, diapun ikut meneteskan air mata
" ayo masuk malah melow-melow an disini, dasar perempuan" cibir sigit dari dalam mobil yang baru tiba
"ada apa lagi ini, ayo pulang" suara novi yang juga baru tiba dari apotek
"iya" jawab ku kompak dengan mama.