SRI

SRI
21. Kerja dimana?


"Kamu suka cek cek HP ku mas? gabut banget kayaknya sampai sempet buka-buka privasi orang, aku aja nggak sempet tuh lihat HP kamu" ku balas perkataan menuduh dari suamiku


Sebel banget denger omongannya pakek nyindir-nyindir padahal kalau aku chatingan sama sigit selalu aku kasih tahu dia,kadang malah dia yang bales. Sekarang kok jadi kayak aku ketahuan selingkuh. Emosi masalah lain malah sigit di bawa-bawa.


Iya emang aku sering minta-minta sama sigit, kalau sigit nawarin duluan kayak gini


"sri, aku lagi beli martabak, kamu mau sekalian nggak" isi pesan sigit yang tentunya aku balas dengan kata 'iya' atau 'aku mau' kadang juga sering tiba-tiba udah datang kerumah sama novi dengan membawa seabrek makanan, terus aku harus nolak gitu, nggak baik kan kan nolak rejeki.


"ya nggak kenapa sekalian aja kamu minta belanjain keperluan bayi nya sama dia" mas tri meninggikan suaranya membalas sindiran ku tadi


"aku lagi bahas buka-buka privasi" aku mengingatkan pembahasan ku


"aku lagi bahas kedekatan kamu sama sigit" mas tri semakin nge gas


"dari dulu aku juga udah deket sama sigit, kamu biasa aja" ku tekuk muka ku tanda emosi


"iya, sudah punya suami tapi masih peluk-peluk laki-laki lain? mana harga diri kamu?" mas tri menujukku, rasanya seperti dia menamparku. Dia merendahkan ku


"aku jual sama om om nggak jelas" jawab ku, aku berdiri, pergi meninggalkan meja makan dengan menggebrak meja, aku sungguh tak terima dia berkata seperti itu, hati ku sakit mendengarnya. Mas tri benar-benar sudah berubah.


Aku pergi ke kamar, ku kunci pintunya, aku menangis lagi, tersedu-sedu lagi, meluapkan semua rasa kesalku.


Ibuk... aku rindu ibuk, aku rindu pelukan ibuk, aku rindu bersama ibuk, sekarang aku harus mengadukan keluh kesah pada siapa, ibuk sudah tidak ada. Kenapa jadi begini saat ibuk tidak ada.


"aku pergi dulu sri, nggak usah nunggu aku pulang, langsung tidur saja nanti malam, aku pulang malam" suara mas tri didepan pintu kamar berpamitan padaku, tak ku jawab. Aku menangis sampai tertidur.


.


.


.


Malamnya aku tidak menunggu mas tri pulang seperti yang ia katakan, setelah makan malam sendiri ku tutup semua jendela dan pintu tidak lupa menguncinya. Ku rebahkan tubuh lelahku dikasur favoritku, aku sangant lelah, lelah fisik dan mental. Seharian hari ini ku sibukan diriku dengan melakukan semua pekerjaan rumah, walaupun agak kesusahan dengan perutku yang besar tapi tak urung kulakukan beberes rumah, dari mencuci mengepel, menjemur, menyetrika, memasak semua mua kulakukan agar teralihkan semua pikiran menyebalkan ini yang selalu teringat perkataan mas tri tadi pagi.


Ku coba memejamkan mata untuk tidur tapi tak bisa, berguling sana berguling sini masih saja rasa kantuk tak datang-datang, ku ambil ponselku dimeja, kulihat ada sebuah pesan dari novi


Novi


"kangen😢"


Sri


"sama 😥"


Novi


"gue sibuk nugas muluk"


Sri


"gue sibuk menyibukan diri"


Novi


"jangan terlalu capek beb"


Sri


"capek ati"


Novi


"why?"


Sri


"laki gue berubah"


Novi


"jadi ultraman?"


Sri


"serius"


Novi


"kerius malah"


Sri


"bodo amat, dia sekarang sering marah- marah nggak jelas"


Novi


"terus"


Sri


"gue sebel, suka ngata- ngatain juga"


Novi


"besok gue ke rumah lo ya"


Sri


"tunggu sampai suami gue pergi, lo ntar baru sini ya"


Novi


"iya"


Sri


Novi


"kalau inget"


Setelah seledai berkirim pesan ku taruh lagi ponselku dimeja, bersamaan dengan terbukanya pintu kamar


"belom tidur sri" tanya mas tri setelah melihatku yang masih terjaga


"belum bisa" jawab ku pendek


"mau dipeluk?" tawar mas tri, membuat ku tersenyum mengangguk kan kepala, seharian aku tak bertemu dengannya setelah kejadian ribut-ribut dimeja makan tadi, membuatku merasa rindu bau tubuhnya sekarang


"mas bau rokok, mas ngerokok sekarang?, mas bau aneh ih, habis darimana?" aku mencium aroma-aroma lain dibajunya saat ia sudah merebahkan tubuh disampingku ingin memeluk ku


"nggak ngerokok kok, dari kerjaan tadi banyak orang ngerokok, kamu nggak suka, mas mandi dulu lah, biar wangi lagi" jawab mas tri santai


"mas udah kerja?" tanya ku lagi


"udah, ceritanya nanti dulu ya, mas mandi dulu"


"udah makan belum?, mau aku siapin makan?"


"nggak usah, udah makan tadi, kamu istirahat saja"


Dan mas tri meninggalkan ku untuk mandi.


.


Setelah ia selesai mandi, aku masih menunggunya di tempat tidur, mata ku semakin segar saja padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Penasaran dengan pekerjaan mas tri membuatku tak mengantuk


"kirain udah tidur, masih nunggu ya, udah malem loh sri" mas tri naik ke tempat tidur, merebah kan diri didekatku, aku langsung menarik tangannya untuk mengelus perut besarku


"iya nungguin mas, aku penasaran mas kerja dimana"


"yakin mau tahu, aku kerja dimana?"


"iya"


"nggak marah?" mas tri malah semakin mengulur-ngulur


"nggak akan" aku meyakin kan


"kerja jadi pelayan di bar" mendengar jawaban mas tri aku langsung membulatkan mulutku karena terkejut


"kok bisa" tanyaku lagi


"besok aja ceritanya, aku capek mau istirahat dulu, udahan ya elus-elus perutnya" dia terlihat kelelahan lalu menurunkan tangannya dari perut ku


"nggak mau" tolak ku


"tangan ku pegal sri"


"bukan elus-elusnya, tapi ceritanya yang nggak mau besok" aku merengek padanya


"ceritanya panjang, sayang" jelasnya


"yaudah" aku merajuk ku balikkan badanku jadi membalakangi dia, ku kira dia akan memelukku dari belakang dan membujukku, tapi setelah ku tunggu beberapa menit tak kunjung juga kurasakan pelukannya atau suara bujukannya, malah terdengar suara dengkurannya. Yah gue di asinin lagi, ah sudahlah mungkin dia lelah, akhirnya aku ikut tertidur.


.


.


Ke seokan paginya ku kira mas tri akan bersiap-siap untuk berangkat kerja, tapi dia malah masih bermalas-malasan di atas tempat tidur setelah sarapan. Aku ingin menegurnya tapi kemudian aku teringat kalau dia bekerja di bar mungkin kerjanya mulai pada sore hari, oh ingat pekerjaannya jadi ingat lagi dia belum bercerita kenapa dia bisa kerja ditempat seperti itu. Ku dekati dia, ku pijat kakinya, dia tersontak lalu menoleh ke arah ku


"tumben" ucapnya melihat ku


"kan mas bilang tadi malem kalau lagi capek" jawabku mulai merayunya


"mau apa?" dia curiga


"nggak papa" jawab ku santai


"mas berangkat jam berapa?" tanya ku mulai interogasi ku


"jam empat" jawab singkatnya


"sampai jam?"


"jam satu, kalau sip satu. sip dua dari jam sembilan sampai jam lima" mas tri menerangkan


"jam empat dari rumah?"


"iya, bukanya mulai jam lima sore"


" tiap malam aku akan kesepian terus dong" eluh ku


"nggak papa, sambil mas cari kerjaan yang lain yang lebih baik, kerja seadanya dulu ya, do'a kan mas" mas tri memberi pengertian


"gimana ceritanya mas bisa kerja ditempat itu? mas biasa kesana?" cecar ku, mas tri mengerutkan dahinya


"nggak pernah sri, kemarin waktu mas selesai memasukkan lamaran di pabrik, mas istirahat di depan gedung pabrik itu di pinggir jalan, linda lagi lewat situ terus dia menghampiri mas, tanya lagi apa, mas jawab lagi nyari kerja, terus dia nawarin kerja ditempat kakaknya, mas terima, pas sudah sampai sana ternyata di bar, mau nolak nggak enak yaudah mas trima aja dulu sementara buat nyambung hidup, gajinya juga lumayan" mas tri menjelaskan dengan detail, aku belum berkomentar, tapi tunggu tunggu siapa tadi yang nawarin kerjaannya?


"linda? mantan?"