SRI

SRI
24. Tragedi


Ke esokan harinya mas tri tiba-tiba memberi ku uang, padahal belum jadwalnya ia gajian


"ini tambahan buat beli baju-bajunya dedek" mas tri meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu dimeja, lalu mengelus perut buncitku


"makasih papa" jawab ku tersenyum


"mas udah gajian lagi? perasaan belum ada seminggu deh" ucapku lagi, sambil menghitung uang pemberian suamiku, dan kaget lah aku


"hah, mas kok banyak, ini beneran buat sri semua?" uangnya banyak cuy yang dia kasih, kerjanya apa an sih dia


"iya bener buat kamu lah, udah nggak usah banyak tanya, sana belanja sama novi ya, mas belum bisa nganter, banyak kerjaan. nggak ambil libur juga kayak nya lagi rame terus di tempat mas kerja" mas tri rau saja kalau aku penasaran


"mas lembur lagi?"


"iya, nggak papa kan, kalau belanjanya sama novi aja, ajak sigit juga kalau dia bisa"


"boleh mas?" aku terkejut mendengar mas tri nyuruh ngajak sigit


"boleh" jawab singkatnya dan tersenyum


"makasih ya mas, mas jangan paksain buat kerja full time terus, nanti sakit" ku pindahkan duduk ku dipangkuannya, tangan ku kalungkan dilehernya, ku cium pipinya tanda trimakasih ku


"nakal ya kamu sekarang" mas tri mencubit hidung ku responnya


"kok cuma pipi aja, ini nggak" dia menunjuk bibirnya menawar


"nggak ah, masih pagi" tolak ku dengan manja


"emang kenapa kalau masih pagi?" dia mengangkat kedua alisnya menggoda ku


"ish, mas ini yang nakal jadinya" jawab ku malu-malu


"eh kok merah pipinya jadi pengen cium bibirnya" godanya lagi


"loh kok bibir...." belum sempat aku melanjutkan ucapanku mas tri sudah mencium bibir ku, dan menggendongku menuju kamar, kok kuat ya dia padahal badan aku sudah segede gajah. Dan ya tahu lah kalau masuk kamar jadinya ngapain.


.


Siangnya aku telah mengajak novi dan sigit untuk ke moll, dan mereka menerima ajakan ku, dan berencana untuk pergi pada sore hari setelah mereka pulang kuliah.


Biasanya mas tri selalu melewatkan makan siang karena ia memilih untuk tidur, dan makan disore hari sebelum berangkat kerja. Tapi hari ini tumben sekali dia, siang sudah bangun dan ikut makan dengan ku, ternyata dia sudah mau berangkat kerja, katanya ikut beberes bar untuk mendekor ulang tempat itu dan mengganti kursi-kursinya dengan model baru. Lumayan dapet lemburan katanya, aku meng iyakan saja lah, toh perginya dia untuk kerja. Lalu aku meminta ijinnya untuk pergi ke moll nanti sore.


Setelah mas tri pergi aku membereskan meja makan, mencuci piring dan gelas kotor, tiba-tiba novi menelfon ku, katanya dia dan sigit sudah tidak ada kelas lagi, dan mau menjemput ku sekarang. Aku langsung mandi dan bersiap-siap untuk shoping-shoping.


.


Sesampainya disana aku dan sahabat-sahabat ku langsung menuju toko perlengkapan bayi, aku dan novi selalu saja berdebat ketika memilih model dan warna baju, sedangkan sigit menunggu dengan santai di sofa yang memang disediakan disana. Saat aku ke kasir untuk membayar belanjaan ku, aku kaget ternyata semua sudah dibayar sigit. Aku marah padanya, aku merasa dia berlebihan sekali sampai membayar semua barang yang aku pilih, yang pasti nilainya lebih dari sejutaan lah. Kalau dia membayar sebagian pasti akan aku terima dengan senang hati, ya aku anggap sebagai kado lah dari nya untuk keponakannya. Lah kalau semua gini, kayak aku istrinya aja.


Saat aku masih mengomelinya sambil berjalan menuju foodcort tiba-tiba novi menariku dan sigit ku masuk ke dalam sebuah toko


"sttt, diem" ucap novi, matanya memberi kode untuk melihat ke arah yang dia lihat


Dua orang itu bergandengan mesra sekali, terlihat sedang bercanda dan tertawa riang, sungguh seperti pasangan yang sedang dimabuk asmara, mereka berjalan menuju ke dalam toko yang menjadi tempat ku bersembunnyi.


Kaki ku tiba-tiba terasa lemas, kepalaku seperti berputar-putar, dan perut ku


"Aahhh" perutku sakit sekali, dan aku terjatuh, membuat novi dan sigit berteriak


"SRI!!" teriak mereka bersamaan, lalu mencoba menangkapku.


Teriakan mereka ternyata membuat perhatian semua orang ke arah ku, tak terkecuali mas tri. Aku melihat dia berjalan ke arah ku. Lalu semua penglihatan ku buram dan buyar semua.


.


.


.


Satria


Aku mendengar suara novi dan sigit berteriak menyebut nama sri, ku arah kan pandangan ku menuju asal suara itu, dan benar itu sri yang akan terjatuh, tanpa menunggu aku melepaskan gandengan tangan tante tata, berjalan kearahnya dengan cepat. Dan dia melihatku, melihatku bersama wanita lain.


Aku tidak menghianati sri, rasa cinta dan sayangku masih sama seperti dulu, malah semakin bertambah saat kehadiran buah cinta kita di dalam perutnya. Tapi setelah bencana alam yang menimpa kampungku dan memakan korban jiwa hampir seluru penduduknya, tidak terkecuali orang tuaku dan orang tua sri, membuat ku terpuruk. Semua usaha yang ku bangun dari nol juga tak luput ikut terdampak. Pikiran ku kalut sekali, aku takut sri akan meninggalkan ku dengan laki-laki kota itu, yang berkedok menjadi sahabatnya. Padahal aku sudah paham dari tatapannya pada sri saja sudah berbeda, tatapan mendamba, tapi sri yang terlalu polos itu tak menyadarinya.


Aku takut tak mampu menghidupinya dengan layak seperti dulu, dan dia akan pergi memilih sigit yang jelas lebih dari segi apapun dibandingkan aku sekarang. Karena itu aku menjadi sensitiv dan mudah emosi pada siapapun termasuk sri.


Aku memulai usaha lagi apapun, tapi selalu gagal, ku coba lagi dan lagi sampai semua aset yang tersisa ku jual semua untuk modal, kecuali rumah yang saat ini ku tempati dengan istriku. Aku mencari kerja kemana-mana tapi tak ada yang menerimaku. Sri pun menawari ku memakai uang tabungannya yang disiapkan ibuk untuk kuliahnya. Sebagai seorang suami aku merasa harga diri ku akan direndahkannya kalau aku menerimanya, akhirnya aku menolaknya.


Suatu hari aku sedang memasukkan lamaran ku di pabrik. Saat aku istirahat didepan pabrik itu, Linda melihat ku dan menawariku pekerjaan, alasnnya untuk menepati janjinya dulu yang akan membantuku di saat aku membutuhkannya.


Aku diajak ke tempat kakaknya, dan ternyata tempat itu adalah bar, aku ditawari bekerja disana sebagai pelayan, dengan gaji yang lumayan setiap minggunya, tanpa pikir panjang aku menerima pekerjaan itu, karena memang aku sangat membutuhkannya, uang ku sudah tinggal selembar.


Baru aku bekerja sehari disana, ada pelanggan wanita disana yang tertarik dengan ku, dia mendekatiku lalu memintaku untuk menemaninya minum dengan tawaran uang tips yang lumayan. Dan mas bram kakaknya linda yang juga bos ku, menyuruhku untuk menerimanya karena wanita itu pelnggan VIP nya, akhirnya aku menenamninya. Hingga aku harus lembur dan pulang sampai bar tutup


Dari hari itu, mulai lah setiap malam ada saja wanita yang mau aku temani. Wanita-wanita yang datang kesana semuanya adalah orang-orang kaya yang kesepian entah itu suaminya yang sibuk, atau wanita karir yang sibuk yang tak mau menikah tetapi butuh hiburan.


Suatu hari tante tata datang, dia melihatku dan tertarik pada ku, dia mengajak ku menemaninya semalaman di sebuah hotel, awalnya aku takut tapi dengan iming-iming bayaran jasa yang dia sebutkan membuat ku menerimanya. Sesungguhnya hatiku teramat sakit dan sedikit tidak rela harus memberi nafkah pada istri dan calon anak ku dengan uang yang ku cari dari cara begini. Aku merasa sangat hina. Tapi kebutuhan yang mendesaklah yang menglahkan pikiran itu.


Hingga saat aku pergi disiang itu janjian dengan tante tata untuk berkencan dengannya, tentu saja dengan iming-iming yang menggiurkan dia akan membiayai seluruh biaya melahirkan istriku, iya tante tata tahu semua informasi tentangku dari siapa lagi kalau bukan linda.


Sri miminta ijin pada ku untuk pergi ke moll di sore hari, aku meng iyakan. Jadi saat tante tata mengajak ku untuk makan dulu di sebuah moll itu aku mau saja, karena aku pikir sri akan pergi di sore hari atau ke moll lainnya lah. Tak kusangka disekian banyak moll di kota ini, kami pergi di tempat yang sama dan waktu yang sama, tak sesuai dengan perdugaan ku semula.


Aku melihat sri terjatuh dan tak sadarkan diri setelah tatapan kami bertemu. Sigit dan novi menangkapnya sebelum dia terjatuh kelantai, hah sukurlah setidaknya dia tidak terbentur.


"Sri, sri bangun sayang" aku mendekapnya menyingkirkan tangan nova dan sigit.


"Ayo cepat, bantu bawa dia ke rumah sakit, jangan diam saja" aku membentak dua orang itu yang berdiri terpaku diam didepan ku


"ayo bawa pakai mobil ku saja, cepat" suara lembut dari wanita di belakangku, dia tante tata.