
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, sore itu setalah sri pulang dari kuliahnya, ia berjalan dengan cepat menuju tempat bekerjanya. Mendung hampir gerimis langit kala itu. Sri dengan tergesa memasuki area mol tempat ia bekerja. Loker dan ruang ganti tujuan utama nya. Baju kuliah yang dia pakai sudah berganti setelan seragam yang cantik dan berkesan seksi.
"Sore mbak" sri menyapa rekan kerjanya saat sampai di stan kosmetik tempatnya bekerja
"sore sri, udah makan belum? dari kampus langsung kesini kan?" jawab Rini dengan perhatian, senior yang paling dekat dengannya
"sore sri, sini duduk" Disty juga menyambutnya
Sore ini dua orang yang menjadi teman satu shift nya, total tiga orang dalam stan tersebut. Biasanya sore hari hingga malam tempat itu akan ramai pengunjung dibandingkan dengan siang hari.
"Belum makan nih mbak, laper banget. Tadi kelasnya selesai mepet banget jamnya, jalanan macet juga. Jadi pengen beli helikopter, biar nggak berasa kalau macet" keluh sri sambil memposisikan diri di dekat disty.
"ada ketoprak tuh diloker mbak, tadi mbak beli buat kita bertiga, tinggal kamu yang belum ambil. Makan dulu gih, disini biar kita dulu yang jaga, masih sepi juga kok" Mbak rini adalah Peri cantik dewi pelipur lapar mulai saat ini yang sri predikatkan pada dia.
"makasih mbak cantik ku" sri berdiri dan memeluk temannya yang telah menyelamatkannya dari kelaparan
"sana makan cepet, habis itu jangan lupa benerin make up, pakai lipstik" Disty menambahinya
Dengan riang dia berlari menuju loker milik Rini, dengan kuncinya yang dia genggam ditangannya. Sambil makan ia bersyukur sekali mememiliki teman yang baik-baik. Teman kerjanya semua baik padanya, teman kampusnya pun kini mulai banyak, karena penampilan yang dia rubah membuatnya jadi lebih terlihat diantara ratusan mahasiswa lainnya, diapun menjadi salah satu mahasiswa tercantik dan populer sekarang. Walaupun kini dia sudah banyak teman tetap yang paling dekat dengan nya hanya Novi dan sigit, apalagi sigit sudah menjadi abang angkatnya, kemana-mana mereka selalu pergi bersama.
Sri merasa dunianya saat ini sedang berpihak padanya, semua terasa lancar dan nyaman. Setelah beberapa kejadian buruk yang menimpanya dia menjadi seseorang yang lebih tenang. Lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan menyikapi masalah.
"Sri buruan ke depan, ada sidak dadakan" Suara disty yang terbata-bata karena ia datang sambil berlari, membuat sri mempercepat acar makannya.
"iya"
Disty meninggalkannya, lalu sri merapikan mak up nya dengan cepat. Berlari menuju tempat kerjanya.
"Maaf, saya tadi habis dari toilet. Kebelet" sri segera merapatkan diri, berdiri di sebalah rekan kerjanya, dengan kepala menunduk ia tak berani melihat wajah para atasannya yang pasti sudah seperti mak lampir juteknya, karena dia datang terlambat.
"Angkat wajahnya" suara salah satu dari atasannya yang datang
"Kamu yang baru datang" ucap lagi suara wanita itu, menyuruh sri
"Kamu" sri mengangkat wajahnya, melihat kearah asal wanita yang menyuruhnya tadi
Oh aku ingat sekali wajah itu, wajah yang tak pernah bisa aku lupakan walau hanya baru beberapa detik aku melihatnya
Batin sri
"Kamu?" ucap wanita itu dengan kesal
"kamu akrab dengan ku? nggak sopan sekali saya ini pemilik toko ini, apa artinya itu buat kamu" dengan sedikit emosi dia menunjuk sri
"saya nggak kenal, tapi saya tahu anda" jawab sri masih dengan menatap erat wanita itu
"siapa emang?" tantang sri, tangan disty menarik-narik baju sri, tanda dia harus diam jangan melawan, tapi sri tetap menatap lekat-lekat lawannya yang sudah pasti itu majikannya pemilik tempat itu
"Beb, kok lama si briefing nya, aku ada kerjaan lain bentar lagi" suara lain menginterupsi mereka
"Sini beb, aku kasih lihat pegawai ku paling cantik disini" wanita itu memanggil kekasihnya mendekat
"apaan ss..." laki-laki itu mendekat dan kaget melihat sri disana, sri terlihat sedikit syok juga namun segera dia mengatasi diri dan ekspresi wajahnya menjadi datar lagi
"yang itu" tunjuk wanita itu kearah sri
"paling muda, paling cantik kan" sambung nya lagi mengejek sri dan satria
Wanita itu pemilik outlet kosmetik lokal merek terkenal memiliki banyak cabang outlet hampir menyeluruh di penjuru negeri ini. Dan salah satunya adalah tempat dimana sri bekerja disana. Dan laki-laki yang dia panggil Beb tadi, apa? beb? bebek? oh astaga kenapa sri harus ada disituasi ini. Mendengar panggilan sialan diantara mereka, oh menjijikan sekali. Yang satu wanita tua walaupun tetap terlihat cantik dengan wajah glowing, shimer ing, semriwing, karena efek skincare dan make up mahal, ya pasti dia menjual produk itu, tapi wajahnya tetap menunjukkan ke dewasaan, kelakuannya saja yang masih kekanak-kanakan.
Yang satunya lagi Laki-laki dewasa ah paruh baya pantasnya, siapa yang sering disebut pedofil dalam berita kriminal kalau bukan laki-laki sepuh. Sekarang sudah berganti selara rupanya, wanita matang karbitan dalam karung yang disimpan dikolong tempat tidur simbah.
"E maaf bu, apa masih ada lagi? karena sri bekerja dibawah pimpinan saya, nanti saya akan memberi teguran padanya karena kurang displin" manager sri memberanikan diri membuka suara memecah keheningan yang tercipta karena sosok satria muncul
"pak, saya disiplin kok, tadi cuma kebelakang sebentar, sial aja pas sidak" sri membela diri
"sri" tegur pak budi manager sri
"ish" sri bergumam
"biar dia ikut saya sebentar budi, ada yang mau saya selesaikan" Tata memberi titah
"buat apa beb, udah ayo kita pergi, biar mereka kerja bentar lagi pasti rame" satria mencoba mencegahnya
Beb? apa itu beb lagi, muak sekali harus mendengar drama murahan, batin sri bermonolog
"kita harus selesaikan sekarang, kamu kan cari-cari dia terus, ternyata dia jadi kacung ditempatku, hemm tambah cantik dari sebelumnya" tata tetap pada pendiriannya, sedangkan beberapa orang disana menonton dan tercengang mendengarnya
"udah ya bu, yang mulia ratu. kita udah selesai dari lama, udah nggak ada yang harus diselesaikan, yang mulia ratu tenang ya, itu kasian pujaan hatinya kalau disini lama-lama nanti sia-sia move on nya" dengan tenang sri menolak ajakan tata
"kamu kali yang gagal move on, sampai nggak mau diajak saya sama satria" balas tata
sri hanya tersenyum simpul, malas menanggapi ucapan tata
"giman bu? sepertinya mulai banyak pengunjung, kami layani dulu customer dulu ya bu, masalah pribadi nanti bisa dibicarakan lagi dengan sri di luar jam kerja" budi menengahi lagi
"ayo" satria menyeret tata meninggalkan tempat itu
"kita belum selai ya" peringatan tata pada sri