SRI

SRI
11. Kencan


Sri


Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya, ya karena ada mas tri suami ku, jadi aku harus menyiapkan keperluannya. Tadi malam kami sudah berbaikan, walau sebenarnya masih belum kita bahas, aku mau mengajak mas tri periksa juga sebenarnya tadi malam, tapi aku takut dia marah lagi, dan merusak acara berbaikan kita lagi.


Tadi malam dia berjanji untuk mengantar dan menjemputku kuliah nanti, hari ini hari jum'at dia libur, tidak ada jadwal mengantar pesanan atau mengecek toko-tokonya. Hari ini rencananya kita akan pergi ke mall berdua, kencan. Padahal rencana ku ingin meminta dia untuk mengantarku ke dokter kandungan, tapi aku tidak berani mengatakannya.


"kelasnya jam 9 ya mas, jangan sampai aku telat, ayo bangun" aku membangunkannya jam 7 pagi


"nanti aja, mepetan bangunnya, deket banget kampusnya kok" dia menutup telinganya dengan bantal


"ya kamu kan suka lama siap-siapnya, sarapa bareng juga, tuh ibuk udah nungguin" aku menarik bantalnya, menyibakkan selimutnya, oh dia masih telan jang, tadi pagi setelah sholat subuh kita menyempatkan untuk menunaikan ibadah wajib


"mchhh... dingin tauk ndhuk" dia menarik lagi selimutnya


"ih siapa suruh nggak pakai celana, kebiasaan benget kamu mas, tuh celana dilempar-lempar sembarangan" aku belum selesai berbicara dia malah menarik tangan ku hingga aku terjatuh diatasnya


"pagi-pagi udah bawel kamu, ini hari libur.. hari bangun siang, apa kamu mau lagi? kok buka-buka selimut" dia berbicara sambil memelukku


"emhh, bauk, nggak bisa nafas aku" aku meronta


"mau lagi nggak aku udah bangun loh" dia menggodaku, aku pura-pura tidak mengerti maksudnya


"orang mas masih rebahan, kok bilang udah bangun" aku masih dipeluknya


"jangan pura-pura,... berasa kan ada yang ngeganjel" dia masih memaksa


"nggak tuh" aku cuek


"masak?" dia menarik tanganku mengarahkan ke bawah sana, hingga aku memegangnya


"ach..." aku berteriak


"gila kamu mas, yang tadi subuh aja udah lama, dua kali, masih ada bekasnya ini ni, sampe perihnya masih berasa, nggak mau aku" aku memberontak, menunjukkan bekas-bekas di dadaku, yang benar saja, lututku aja masih berasa lemes, ini mau lagi


"nolak dosa" gertaknya


"bodoh amat, lebih dosa situ, menganiaya istri" omelku, memaksa dia melepaskan pelukannya


"ahhh... sri... terus ini gimana" dia memelas menunjuk bagian bawahnya


"bodo" aku pergi keluar kamar meninggalkannya


.


.


.


"Makasih kang ojek, nanti jemput jam 2 ya" ucapku sambil menarik tangan saumi ku untuk ku salami, mas tri menepati janjinya untuk mengantarku ke kampus dan kini kita sudah berada diperkiran kampus.


"eh dasar" mas tri mengusap kepalaku membuat rambutku berantakan lagi


"rese ahh, berantakan lagi ih" aku merapikan rambutku lagi


"biar nggak ada yang naksir" jawabnya


Aku melihat novi dan sigit turun dari motor mereka masing-masing


"woi... nop nop, git git" aku memanggil mereka, mereka berjalan ke arah ku


"mas, aku kenalin dulu temanku, kamu kan gak pernah ketemu mereka" aku mengajak maa tri berkenalan dengan novi dan sigit, mas tri tidak pernah bertemu mereka karena jarang dirumah dan baru kali ini dia mengantar ku kempus


"iya, tapi aku udah sering denger cerita tentang mereka" jawab mas tri, setiap telpon aku memang sering menceritakan kegiatanku dengan mereka pada mas tri


"yang ini novi, yang ini gita" aku meledek sigit, dia melotot ke arah ku


"novi" novi mengulurkan tangannya


"satria" mas tri membalas


"gita gutawa terbahak-bahak" sigit menyalami mas tri kulihat tangannya menggelitik telapak tangan mas tri, spontan mas tri menarik tangannya


"bang sat, jijik gue" mas tri mengibas ngibaskan tangannya


"hahahaha..." aku dan novi tertawa


Sigit yersenyum manja dan mengedip-ngedipkan matanya ke arah mas tri seperti cowok tanpa tulang , menggelikan sekali


"hahahha... becanda bang becanda" sigit tertawa berhasil mengerjai mas tri


"ya udah, aku pulang dulu sayang, belajar yang bener" mas tri menasehati ku


"makasih udah jagain istri gue ya selama ini, gue nitip lagi, awas kalau sampe ada yang kurang kalian berdua yang duluan gue cari" mas tri berbicara menatap sigit


"siap bang" novi dan sigit menjawab bersamaan, mas tri pun melajukan motornya


"emang gue barang, dititip-titipin" gerutuku sambil berjalan menuju kelas


"barang dagangan" novi menyahut


"gue beli dah lu ntar, kalau emang dagangannya juga, lumayan buat pesugihan" sigit menimpali


aku memukul bahu sigit, sembarangan aja dia ngomongnya "sia lan, gue disamain jenglot, bang ke lo"


novi tertawa "hahahaha.... ntar kalau lo udah berhasil kaya, pinjemin ke gue ya git" novi malah ikut-ikutan menambahi


"gue nggak kenal kalian" aku mempercepat jalanku


"ntar kalau nggak sibuk gue ajak kenalan" sambung sigit dia mengacak-acak rambutku dan berlari pergi ke arah yabg berbeda menuju kelasnya


"ishh, kam pret" aku meneriakinya


.


.


.


Aku mengikuti perkuliahan ku dengan tak sabar, rasanya waktu berjalan sangat lambat. Berkali-kali aku melihat jam dengan gelisah, ini waktu yang kutunggu-tunggu, aku senang sekali akhirnya bisa jalan-jalan berdua dengan mas tri menikmati waktu berdua. Sejak bapaknya kecelakaan dulu dia jadi sering mengunjungi orang tuanya, dia selalu kwatir dengan orang tuanya, jadi dia bolak balik kampung kota- kampung kota, jadi sedikit waktu yang kita miliki untuk berdua. Sebenarnya aku agak sebel, tapi ya gimana, itu orang tuanya. Bisnis dia juga semakin maju jadi semakin menyita waktunya, ya aku terima saja untung ada ibu, novi dan sigit jadi aku tidak terlalu merasa kesepian, banyaknya tugas kuliah juga menyita energi dan pikiranku, jadi kesebelannku bisa teralihkan.


"kenapa sri? dari tadi ngelihatin jam mulu" tanya novi disaat kita dikantin


"mau kencan" jawab singkat ku


"tumben" novi terheran


"dia lagi ada waktu, udah nggak usah ditumben-tumbenin" balas ku


"takut nggak jadi ya, hahaha..." novi tertawa


"mulut lo, pukul tu mulut cepetan, ntar keburu kedenger malaikat, kalau diijabah, lo yang harus tanggung jawab" aku menggerutu, omongan novi itu kadang-kadang sering jadi kenyataan


"takut amat, udah makan dulu, biar rilex dikit" novi membagi makanannya, aku sengaja tidak memesan makan karena nanti akan makan bersama maa tri


"nggak ah, nanti aku kenyang" aku menolak "omongan mu itu nop, sering kejadian" sambung ku.


Kadang ku pikir novi itu cenayang apa yang dia omongin sekarang tiba-tiba nanti beneran jadi kenyataan, kalau dia bilang pasti nanti dosen nggak masuk, eh beneran dosen nya nggak dateng. Dia juga pernah bilang nanti malem mas tri pasti pulang, eh beneran pulang.


Ada lagi nih pas sigit mau ketemuan sama gebetannya di mall, aku dan novi ngikutin sigit diam-diam, kata novi jaga-jaga kalau gebetannya sigit nggak datang kita bisa ganti in yang ditraktir sigit, eh beneran gebetannya nggak datang. Sigit marah, dia udah pesan makanan enak-enak, eh akhirnya yang makan kita-kita juga, hahahaha. Agak kasihan sama sigit sedikit banyakan bersyukurnya, jadi dapet makan enak gratis.


"Heh, bengong aja, udah yuk masuk, bentar lagi ada kelas" novi membuyarkan lamunanku.


.


.


Sudah jam 2, aku masih membereskan buku-buku ku. Kulirik ponsel ku, tapi tidak ada notivikasi apapun, tidak ada pesan dari mas tri kalau dia udah sampai diparkiran. Ku pikir dia sudah datang dan menungguku disana. Aku bergegas untuk keluar


"nop kencan dulu ya, kalau sigit nyari'in, bilang lagi jaga lilin" aku berpamitan pada novi


"terserah lo" jawab novi


Aku berjalan riang menuju parkiran, ku edarkan pandanganku ke semua penjuru parkiran, tidak ada mas tri disana, ku coba menelfonnya. Berdering, tapi tak diangkat. Aku berjalan ke arah satpam, baraangkali mas tri menunggu disana. Nggak ada juga. Aku keluar kampus, beediri dibawah pohon besar pinggir jalan, nggak tau pohon apa. Biar cepet ketemu mas tri dan langsung cuss jalan. Lima belas menit menunggu, ku telfon lagi, berdering lagi tak diangkat lagi, mungkin lagi dijalan pikirku. Tiga puluh menit, kaki ku mulai pegel menunggunya, berdiri jongkok berdori jongkok lagi, sampai kesemutan, dia nggak datang juga. Ku telfon ibu, ternyata ibu lagi nganterin pesanan kue-kuenya ke pengajian dan dia pun ikut kepengajian itu.


HuH.... kulihat jam... sudah satu jam aku menunggu. Dan aku lapar. Aku sudah tidak berniat untuk menelfon atau mengirim pesan ke pada nya. Ku putuskan untuk jalan pulang saja, karena sudah kelaparan dan kesemutan.


Ponsel ku bergetar, ada panggilan telfon. Tampak nama mas tri di layar ponsel ku, dan ku angkat


"hemm" aku menjawab telfonnya


"maaf, sayang nggak ngabarin kamu dulu, tadi tiba-tiba ada telfon dari ibu, katanya bapak sakit lagi, aku panik langsung pergi pulang, sampai lupa ngabarin kamu, maaf"