My Husband Hates Me

My Husband Hates Me
Aku tidak menginginkan anak ini


Radit masih setia menggenggam tangan istrinya "you now babby, i'm so happy, aku sangat sangat bahagia sayang" ucapnya sambil mencium tangan istrinya.


Namum Kaira langsung menarik kembali tangannya dan naik ke lantai atas menuju kamar mereka, Radit yang heran dengan sikap istrinya langsung menyusul ke dalam kamar, saat masuk iya tidak mendapat istrinya di ranjang tapi iya mengarahkan pandangan ke pintu balkon melihat Kaira sedang berdiri termenung disana, Radit langsung menghampiri dan memeluk istrinya dari belakang, "kamu kenapa Sayang, apa kau tidak bahagia hari ini, apa kau tidak bahagia dengan kabar kehamilanku hm!" sambil mendaratkan dagunya di bahu Kaira.


"Diam..diam..diam..apa kamu tidak bisa diam? kamu dengar baik-baik, aku tidak menginginkan anak ini" ucapnya sambil membalikkan badannya menghadap ke arah Radit dengan nafas yang naik turun menahan amarah.


Radit membelalakkan matanya terkejut mendengar perkataan Istrinya dan mencekam bahunya "Sayang apa kamu sadar dengan ucapan mu barusan hah"


"Iya sangat sadar, selama ini kamu hanya memikirkan keinginanmu tanpa memikirkan apa yang aku inginkan" tunjuknya tanpa sadar didepan wajah suaminya


Radit mengeraskan rahangnya dan menghembuskan nafasnya kasar.


"jadi benar pil yang selama ini kamu simpan di laci nakas, yang kamu bilang vitamin itu adalah pil KB, kamu sengaja tidak mau punya anak dari ku hah" sambil mengguncang bahu Kaira dengan mata yang memerah menahan amarah.


"Iya benar" jawabnya yakin dengan memalingkan wajahnya kearah samping karena tidak mau menatap raut wajah suaminya yang tampak menakutkan.


"Hanya karena mau menjaga bodymu kamu tega mengatakan tidak menginginkan anakku" Radit langsung pergi menyambar kunci mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari rumah untuk mencari tempat yang bisa menenangkan pikirannya.


Sedangkan Kaira hanya bisa berteriak histeris sambil menangis setelah kepergian Radit, sebenarnya iya tidak tega menyakiti perasaan suaminya dengan mengatakan tidak menginginkan anaknya, tapi karena egonya iya menepis rasa itu.


Saat Radit kembali iya melihat istrinya sudah terlelap, Radit duduk di tepi ranjang dan mengambil foto pernikahan mereka, dan mengusap lembut wajah istrinya tidak terasa air matanya terjatuh begitu saja mengigat kehidupan bahagia mereka dulu.


💫💫💫💫💫


Tidak terasa hampir satu bulan hubungan Radit dan Kaira semakin renggang, tidak ada lagi canda tawa yang menghiasi rumah tangga kecil mereka seperti biasanya.


Kaira selalu menghindari Radit karena tidak ingin membicarakan masalah anak lagi, sedangkan Radit masih berusaha berbaikan dengan Kaira, berharap setelah melihat anaknya lahir ke dunia Kaira bisa berubah pikiran dan bisa mencintai anaknya seperti ibu lainnya.


Seperti hari ini Kaira sedang mengupas Apel untuk dirinya, "Sayang sini biar aku bantu" tawarnya memberikan bantuan, Karena ini adalah akhir pekan jadi Radit tidak pergi keluar dan memilih menemani istrinya di rumah


"Tidak perlu" jawab singkat Kaira


"Mm apa sayang mau makan sesuatu biar aku Carikan untuk mu"


"Tidak usah, aku bisa pergi cari sendiri kalau aku mau" ucapnya sambil berlalu meninggalkan Radit begitu saja


Radit hanya bisa menghela nafasnya, dan memandang kepergian Kaira dari balik pintu kamar mereka. Hampir satu bulan ini hubungan mereka semakin renggang "apa yang harus aku lakukan supaya bisa membuatmu kembali seperti dulu" karena sekarang tidak ada lagi senyum ceria yang menghiasi wajah cantik istrinya, tidak ada lagi sikap manja yang ditujukan padanya.


Radit memutuskan untuk mengunjungi mansion orangtuanya, karena tidak ingin memaksa Kaira untuk berbicara padanya.


Kaira hanya melihat dari jendela, saat mobil Radit pergi menjauh keluar dari halaman rumah mereka, Kaira juga sebenarnya sulit bertahan situasi seperti ini, Kaira menjatuhkan tubuhnya dilantai iya meringkuk sambil menangis mengenang nasib rumah tangganya sekarang. Namun egonya mengalahkan segalanya.


Hanya butuh waktu 45 menit Radit sudah sampai di mansion besar keluarga Hermawan, dari kejauhan penjaga gerbang sudah mengenali mobil tuan muda di rumah itu, iya langsung membukakan gerbangnya dan mempersilahkannya masuk


"Eh den Radit, silahkan masuk den"


"Makasih bik, dimana Mom dan Dad bik"


"Ada den mereka sedang di ruang keluarga" Radit langsung melangkahkan kakinya menuju keberadaan orangtuanya.


"Mom..Dad sapa Radit saat sudah sampai didepan orangtuanya


"eh sayang tumben kamu mengunjungi kami, mana Kaira? tanya Mom Sofia sambil mengedarkan pandangannya kebelakang Radit namun tidak mendapatkannya.


"Radit datang sendiri mom, sebenarnya ada hal mau saya sampaikan Mom..Dad.." ucap Radit sambil menundukkan wajahnya


"Ada apa nak, kenapa kamu terlihat sedih, apa yang bisa kami bantu sayang" ucap mom Sofia sambil mengelus bahu anak semata wayangnya.


"Kaira hamil 4 bulan sekarang, tapi..."Radit ragu menyampaikan Maslah rumah tangga nya kepada orangtuanya


"Tapi apa sayang? sudah 4 bulan kenapa baru memberitahu kami sekarang! dengan wajah cemberutnya karena baru dikabari tentang kehamilan menantunya.


"Cepat katakan mom pasti akan bantu" desaknya karena Radit masih diam, sedangkan Dad Senjaya masih setia menunggu tanpa mendesak Radit harus segera menjeskan.


"Kaira tidak menginginkan kehamilannya, dia tidak mau menerima kehadiran anak kami" jelasnya dengan suara beratnya sambil mengelap air mata yang menetes membasahi pipinya dengan ibu jari nya dengan kepala yang tertunduk. Hatinya sakit memikirkan akan seperti apa perasaannya anaknya saat tau dia tidak diinginkan oleh ibu yang melahirkannya ke dunia ini.


"Apa.."ucap Mom Sofia sambil berdiri dari duduknya.


"Bagaimana bisa?, Kaira adalah anak yang baik" sambung Dad Senjaya angkat bicara


"Aku juga taunya begitu Dad, tapi ini adalah kenyataannya


"Mungkin Kaira perlu waktu untuk berpikir, kamu harus bisa memahaminya selama yang iya lakukan masih dalam batas kewajaran, mungkin karena mood ibu hamil sering beeubah-ubah, perasaannya sangat sensitif" Ucap mom Sofia berusaha memahami sikap menantunya.


"Benar kata Mommy mu, mungkin kamu harus memberinya waktu, dan lebih hati-hati bertindak dan berbicara supaya tidak menyinggung perasaannya" Jelas Dad Senjaya membenarkan ucapan istrinya.


"Mm..baiklah, setelah memberitahukan masalahnya kepada orangtuanya Radit pamit undur diri karena tidak mau meninggalkan istrinya di rumah sendirian terlalu lama. Iya hanya memberitahu mertuanya melalui telpon karena tidak sempat mampir, mengigat jarak yang cukup jauh dari rumahnya dan dari Mension orangtuanya.


.


.


BERSAMBUNG