My Husband Hates Me

My Husband Hates Me
Part 35


Namun Radit langsung menolaknya mentah-mentah "Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri" tolaknya tanpa memikirkan perasaan Kaira sedangkan Jeny diperbolehkan.


"Kenapa?, sampai kapan kita akan seperti ini, sampai kapan kamu akan terus membenciku?" tanya menggebu-gebu menahan gejolak didalam hatinya.


"Jangan tanya sampai kapan, memang sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan mu"


"Kenapa Jeny boleh dan saya tidak boleh?, aku istrimu dan Jeny?" tanya Kaira dengan suara lantang karena sudah tidak tahan dengan sikap Radit.


"Jeny kenapa boleh, jawab saya? tanya mengunjungi pertanyaannya sekali lagi.


Semua yang ada dimeja makan menoleh kearah mereka.


"Kamu memang ingin semua orang tahu hah" balas Radit dengan suara yang tidak kurang lantang dari suara Kaira.


Disana Jeny menyunggingkan senyuman piciknya.


Kaira berlari kearah luar melewati meja makan begitu saja sambil menutup mulutnya dengan tangan menahan tangisannya yang hampir pecah.


Kaira memilih pulang karena tidak ingin mengganggu acara makan malam yang sebenarnya sudah terganggu sejak tadi.


Radit hanya memandang kepergian wanita yang berstatus ibu dari anaknya tanpa menghentikannya, Karena memang itulah tujuannya membuat Kaira tersiksa.


*


*


Dikediaman Senjaya tampak seorang wanita paruh baya tengah duduk termenung diruang keluarga. Namun lamunannya buyar saat melihat Tuan dalam rumah itu datang.


"Lho Dad tumben hari ini cepat pulang" tanyanya heran karena tidak biasanya suaminya pulang secepat ini.


"Iya..sengaja mau meluangkan waktu dirumah" jawabnya santai


"Mmm..ehh Dad, bukannya hari ini kita diundang untuk datang kerumah besan kita" Ya Hendra juga mengundang besannya untuk datang makan malam bersama, karena setelah kelahiran cucu mereka, mereka belum pernah berkumpul bersama.


"Ingat.."


"Lalu.."


"Apa kamu tidak malu pergi ketemu besan kita?!, apa kamu lupa dengan semua yang sudah di lakukan anak kita? saya ini masih ada harga diri."


"Jadi pembunuh itu mau sebulan setahun, bahkan seberapa lama waktu berlalu, tetap pembunuh namanya, saya malu Tia, saya tidak ada muka dihadapan Keluarga Hendrawan"


Tia bungkam karena memang apa yang dikatakan suaminya adalah benar, dan juga karena sikap keras kepala Senjata tidak suka dibantah.


*


*


saat Radit pulang Kaira sudah tertidur karena lelah menangis, terbukti dari matanya yang masih basah saat tertidur.


Sebenarnya Radit tidak bermaksud berlaku demikian, apalagi disana banyak orang, namun iya juga manusia biasa yang bisa lepas kendali saat Kaira juga dengan berani meneriakinya di hadapan orang lain.


*


*


Keesokan harinya.


Seperti biasa Kaira kembali meminta Keylin untuk menemuinya di kafe tempat biasa. Tidak ada pembicaraan diantar mereka karena sama-sama diam dalam pikiran masing-masing.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu" tanya Kaira heran karena dari tadi sahabat terus menatapnya.


"Kamu sudah tidak seperti dulu, setiap hari wajahmu terlihat muram, kamu seperti tubuh tanpa jiwa. Kemana Kaira yang dulu terlihat begitu percaya diri."


"Aku yakin kamu sudah tahu kenapa aku seperti ini"


"Kalau kamu stres diam dirumah terus, bagaimana kalau kamu perbanyak saja aktivitas diluar, minta kerjaan di Perusahaan Daddy mu, bagaimana?" usulnya


"Radit tidak ijinkan aku kerja, Daddy...dia tidak akan memberiku pekerjaan...." Lama iya menjeda ucapannya baru kembali melanjutkannya "kamu tahu Daddy masih marah sama aku"


"Sampai segitunya?" tanya Keylin tidak percaya jika Senjaya juga masih belum bisa memaafkan Kiara.


"Gimana kalau kamu minta bantuan saja sama Aunty Tia untuk membujuk Uncle? usulnya lagi.


Lama Kiara berpikir akhirnya iya setuju.


Kaira ingin mencoba menemui Tia, Siapa tahu dengan bantuan Mommynya bisa membuat hati Daddynya luluh.