My Husband Hates Me

My Husband Hates Me
Part 24


Kaira pergi dari Mension mertuanya, karena tidak ingin membuat jantung Daddynya kambuh, karena Senjaya memang memiliki riwayat penyakit jantung, juga tidak ingin melihat Mom Tia ikut-ikutan dimarahi, karena iya tahu betul sikap Senjaya yang tidak pernah mau dibantah.


Kaira melajukan mobilnya menuju taman yang berada dipinggiran kota untuk menenangkan diri.


"Aaaaaa.." Teriaknya dengan sekuat tenaga berharap dengan demikian bisa mengurangi beban hidupnya, hal itu iya lakukan berkali-kali.


Setelah puas berteriak dan menumpahkan semua dalam tangisannya, karena iya tidak akan menangis dihadapan Radit, barulah iya kembali masuk ke dalam mobil menuju rumah mereka.


Saat Kaira datang hari sudah gelap, iya tidak melihat ada tanda-tanda bahwa Radit ada rumah. Kaira mengayunkan kakinya masuk kedalam rumah, namun saat hendak menaiki anak tangga, iya penasaran dengan dekorasi kamar yang akan ditempati Raka.


Kaira memutuskan untuk melihat kamar anaknya, alangkah terkejutnya saat iya melihat begitu indah dengan stiker dinding diberi warna biru dengan berbagai mainan pesawat dan mobil-mobilan terpajang didalam lemari kaca khusus untuk menyimpan berbagai mainan.


Tanpa terasa air matanya jatuh tanpa ijin, iya duduk dibibir ranjang, bersedih karena bukan dia yang membantu Raka menyiapkan semua keperluan anaknya.


Dengan cepat iya menghapus air matanya, karena ketika datang ke rumah itu, harus menjadi lebih kuat. karena bagaimana pun iya adalah wanita keras kepala, selama ini iya tidak pernah tidak mendapatkan semua yang iya inginkan, termasuk mengeluarkan anaknya dari dalam perutnya sendiri.


Namun kali ini iya tekad harus mendapatkan maaf dari Suaminya, dan iya harus mendapatkan itu.


Setelah membersihkan dirinya Kaira memilih turun kelantai bawah untuk menunggu kepulangan Radit, karena setelah membereskan kamar Raka iya pergi lagi.


Seperti malam sebelumnya Kaira tertidur di atas sofa, saat pagi menyapa iya baru tersadar kalau semalaman ada disana.


"Apa tadi malam dia tidak pulang?" tanyanya pada diri sendiri dan bergegas menuju kamar siapa tahu suaminya ada disana. Namun lagi-lagi iya harus menelan kekecewaan.


*


*


"Teng..tong.." Suara bel dibunyikan, dengan cepat Kaira menuju pintu karena berharap itu adalah Radit.


"Jeny?"


"Hmm" Jeny berdehem angkuh, karena malas menjelaskan kepada Kaira.


"Ada apa lagi kamu kesini?" tanya Kaira tidak kurang ketus melihat wanita ****** itu datang lagi.


"Kamu tidak perlu basa-basi cepat katakan"


Jeny tersenyum sinis sebelum memberi tahu Kaira "aku kesini karena mengantarkan Lea, yang akan bertugas mengasuh Raka"


"Tapi.."


"Tidak ada tapinya, karena saya tahu kamu tidak diizinkan menyentuh apalagi mengasuh Bayi penyakitan..."


Belum sempat Jeny menyelesaikan kata-katanya rambutnya sudah lebih dulu Jambak oleh Kaira, karena tidak terima orang lain mengatakan anaknya penyakitan, walaupun kenyataannya memang Raka upnormal.


Lea berusaha melerai kedua wanita itu, namun karena tenaga mereka terlalu kuat karena sedang dalam pengaruh emosi, membuatnya terhuyung kebelakang. Akhirnya Lea memilih membiarkan saja, karena tujuan dia datang kesitu hanya untuk mendapatkan bayaran dua kali lipat.


Setelah hampir kehabisan napas, akhirnya mereka melepaskan satu sama lain, dengan terduduk dilantai, Jeny memegang perutnya yang terasa kram karena tendangan Kaira. Sedangkan Kaira menyisir rambutnya yang berantakan dengan telunjuknya.


Kaira kembali berbicara setelah kembali tenang "Benarkah Radit yang meminta mu untuk membawa pengasuh ini" tunjuknya pada Lea


"Iya" jawab Jeny seadanya karena kelakuan bar-bar Kaira.


"Radit SUAMI ku" ucapnya penuh penekanan menandakan bahwa Radit miliknya. "apapun yang terjadi didalam rumah ini, aku harus tahu"


"Saat kamu melakukan hal kejam itu, apa kamu melakukannya berdasarkan persetujuan dari Radit?" ucap Jeny telak, karena tahu itu adalah kelemahan Kaira.


Bukannya menjawab Kaira malah tertawa terbahak-bahak, walaupun baru saja hatinya seperti disiram air garam diatas luka.


"Kamu didepan Radit, baiknya bukan main, tapi dibelakangnya?, aku tahu selama ini kamu selalu mencari perhatian darinya, tapi selama ada aku kamu tidak akan mendapatkan apapun darinya." ucapnya dengan tatapan tajam kearah Jeny.


Saat Jeny akan kembali menyemburkan bisanya, iya mendengar suara mobil yang iya yakini itu adalah Radit, karena sebelum Jeny datang Radit sudah menelponnya kalau iya akan menjemput Raka dan Jeny ditugaskan untuk mengantar pengasuhnya.


*


*


BERSAMBUNG