
Di balik pintu dapur berdiri seseorang yang tidak alain adalah Lea yang mendengar semuanya. "Rasakan kamu Kaira, kalau non Jeny tahu pasti dia bahagia, tentu saja bonus bulanan ku akan segera cair."
Kaira langsung pergi dari sana menuju kamar mereka, menangis sepuasnya disana, iya meraih foto pernikahan mereka, namun kembali diletakkannya saat melihat Sofia mendekat.
"Kaira Mommy minta maaf"
"Ini bukan salah Mommy, tidak perlu minta maaf"
Kaira merubah posisinya menghadap Sofia dengan menggenggam erat tangan ibu mertuanya" Mom Kaira mohon jangan benci Kaira, karena Mom menangis buat Kaira jadi tidak kuat"
"Kaira.. Mommy sayang Kaira walaupun kamu hanya menantu, tapi Mom udah anggap seperti anak Mom sendiri"
"Makasih Mom" Kaira memeluk Sofia dengan tangisan keduanya yang sama-sama pilu kerena akan berpisah.
*
*
Dikediaman Senjaya tampak seorang pria paruh baya sedang menjawab telpon.
"Mau dinasehati bagaimana lagi bg, saya tidak menyalahkan Radit, memang anak saya yang salah"
"Jangan dibawa emosi dulu Sen, bukan sepenuhnya salah Kaira, jangan terlalu menekannya saya kasihan dengan Kaira."
"Iya lah..Oke,, saya terlalu terbawa emosi kalau ingat kelakuannya yang tidak manusiawi dulu."
Setelah mengakhiri panggilannya Senjaya duduk di bangku taman, tidak berselang lama Tia datang membawakan minuman dengan cemilan untuk mereka nikmati di taman.
"Ada apa Dad, seperti ada masalah?" tanya Tia heran melihat raut wajah suaminya.
Senjaya menarik nafasnya dalam sebelum memberitahu istrinya. "Radit sudah ceraikan Kaira" kemudian berlalu dari taman tanpa memperdulikan istrinya yang ditinggalkan sendirian di taman dengan minuman yang dibawakannya.
*
*
Setelah Kaira pergi ke kamar Radit juga pergi ke kamar Raka. "Maafkan Daddy ya Raka, Daddy terpaksa lakukan semua ini, karena untuk kebaikan kita, untuk masa depan Raka, Daddy tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu" Sambil mengucapkan setiap kalimat tanpa terasa air mata pria itu juga ikut turun.
Saat ini matahari sudah menyembunyikan dirinya, tampak seseorang sedang terusik dengan suara telponnya yang berdering.
"Kenapa Lea, saya sedang sibuk" Karena memang saat ini dia sedang sibuk menyelesaikan Desain yang diminta oleh tuan Harun.
"Good news apa, cepatlah katakan aku sibuk"
*
*
Dirumah Radit
"Daddy tidak menyangka kamu akan mengambil tindakan sejauh ini, berat sekali kah untuk kamu maafkan Kaira?" tepat saat Hendra bertanya pada anaknya Kaira menuruni tangga bukannya menjawab Daddynya Radit malah kembali berkata kepada Kaira.
"Kamu bisa pergi sekarang,sudah tidak ada urusan lagi yang bisa kamu tunggu"
"Ijinkan saya jaga Raka"
"Saya tidak akan ijinkan kamu sentuh Raka walau hanya secuil" bentak Radit sambil menunjuk kearah Kaira.
"Kenapa hanya menjaga Raka saja tidak boleh, Raka tu anak Kaira juga" tambah Hendra yang melihat sikap keterlaluan anaknya.
"Dia tidak layak jadi Mommy Raka"
"Kamu ni siapa melarang Kaira bertemu anaknya" jawab Hendra tidak kalah pedas.
"Radit Daddy Raka"
"Kaira Mommy Raka" kilah Hendra lagi
"Dad..tapi hanya Radit yang layak jaga Raka, tidak seperti perempuan ini yang kejam membunuh anaknya sendiri"
"Itu semua sudah berlalu Dit!"
"Tapi kesannya tidak pernah bisa dilupakan, Daddy tahu seberapa buruknya kondisi Raka? ini..semua karena perempuan ini." lagi- lagi Radit kembali menunjuk Kaira, sedangkan yang ditunjuk hanya bisa menunduk dengan air mata yang tidak bisa berhenti turun walaupun Kaira sudah berusaha menahannya.
"Radit..Daddy bilang cukup..cukup"
Melihat Mertuanya sudah mulai emosi Kaira langsung memberanikan diri menyela takut darah tinggi Hendra kambuh. "Dad..sudah Dad, benar apa yang Radit katakan, ini memang salah Kaira. Saya harus pergi sekarang, maafkan kesalahan Kaira selama menjadi menantu Daddy" kemudian menyalami mertuanya sebelum pergi dari sana.
*
*
Saya akan usahakan buat up kalau sedang ada waktu luang dikantor, klik favorit kalau kalian suka dengan cerita saya untuk mendapatkan notifikasi kalau saya up 🤗🤗🤗