
"Menyusahkan sekali, aku harus mengganti pemepers, memandikanku, memberimu makan. Ehh alang-alang sudah cacat begini, kenapa kau tidak mati aja sekali hah" omel Lea saat mengurusi Raka.
Kaira yang selesai menelpon Keylin mendengar semua umpatan Lea saat iya melewati kamar Raka. "Coba kamu ulangi sekali lagi ucapan mu tadi?"
"Apakah salah yang saya katakan?"
"Kamu memang kurang ajar ya, bawa sini anak saya"
"Ehh..ehh..heh, Tuan Radit bilang jangan sentuh anak ini."
"Kamu jangan kurang ajar dengan saya, cepat serahkan anakku." kekeh Kaira berusaha merebut Raka dari gendongan Lea.
"Jangan..ahhh" teriak Lea saat rambutnya ditarik oleh Kaira. Mau tak mau Lea melepaskan Raka untuk dibawa oleh Kaira.
"Kamu jangan cari masalah dengan saya" tegas Kaira dengan tegas sbil menggendong baby Raka yang menangis.
"Lihat ini, kenapa bedongan anak ku kamu ikat dengan kuat" ucapnya sambil membuka lampin bedongan yang melilit ditubuh mungil itu.
Setelah berhasil membuka ikatan itu, Kaira melemparkan lampin itu tepat di wajah Lea.
"Usss..uss..jangan nangis sayang, Mom ada disini" ucapnya memenangkan Raka yang masih saja menangis sambil berlalu menuju ke kamar Utama yang ditempati Radit dan Kaira.
Ya selama ini mereka tidak saling menyapa, namun Radit masih tau batasannya, dengan membiarkan Kaira tidur satu ranjang dengannya, karena bagaimanapun mereka masih suami istri yang sah dimata agama dan hukum.
"Aku tidak akan membiarkan mu, setelah tuan Radit kembali kau harus siap-siap" umpatan Lea karena sikap bar-bar Kaira.
Didalam kamar Kaira masih menenangkan Raka "Usss..usss.. maafkan Mommy Raka, kalau Mom tadi tidak melakukan itu, Lea tidak akan membiarkan Mommy menggendong mu" ucapnya seraya terus mengecup pipi gembul Raka hingga anak itu kembali tenang dalam dekapan Kaira.
Tidak berselang lama Radit datang, sayup-sayup iya mendengar suara orang menangis dari arah dapur.
"Kamu kenapa?, dimana Raka?" tanyanya to the poin
"Nona Kaira merebut Raka dari saya, dia juga menyiksa saya supaya menyerahkan Raka, dia bawa Raka keatas, dia marah-marah sama Raka tuan". ucapnya terbata-bata sambil menangis.
Radit sudah berlari menaiki tangga sebelum Lea menyelesaikan ucapannya. Lea hanya tersenyum bahagia karena berhasil membalas perbuatan Kaira padanya.
"Kaira Zahira" teriaknya dengan tatapan tajam bagaikan pedang yang mampu membelah dua badannya dengan sekali hunus dan nafas yang naik turun.
Kaira hanya mengeratkan pelukannya pada Raka saat Radit semakin mendekat.
"Lepaskan Raka"
"Radit.."
"Saya bilang lepaskan Raka, apa yang kamu lakukan kepada Lea?" tanyanya mengambil alih Raka dari tangan Kaira.
"Radit hati-hati, kamu bisa menyakiti Raka"
Saat ini Raka sudah beralih ke tangan Radit dan meletakkan Raka diatas ranjang dengan menarik tangan Kaira keluar dari kamar.
"Lepaskan tangan saya, saya bisa jalan sendiri" terangnya karena Radit terus menyeretnya.
"Jangan buat saya lebih kasar dari pada ini" masih kekeh tetap menarik tangan Kaira dengan kasar.
"Radit.." teriak Kaira menaikan satu tab suaranya barulah Radit melepaskan tangannya.
"Kamu mau apa sebenarnya Radit?"
"Kamu tanya saya mau apa?" tanyanya sambil menunjuk kearah Lea yang berada didapur. "Apa yang sudah kamu lakukan kepada Lea?"
"Lea tidak ijinkan saya membawa Raka"
*
*
*
BERSAMBUNG