
Dikediaman Hendrawan
Tampak dua orang sedang berbicara di ruang keluarga
"Sepertinya sedang ada masalah, ada apa? dari tadi saya perhatikan kamu seperti memikirkan sesuatu?" tanya pria paruh baya namun wibawanya seolah tidak pudar termakan oleh waktu.
"Kita harus lakukan sesuatu, saya perhatikan hubungan Radit dengan Kaira semakin renggang" keluhnya pada sang suami.
"Kamu seperti tidak mengenal anakmu saja, saya bisa saja memberitahunya tapi apa kamu pikir dia mau mendengarkan kita" Iya kenal betul sikap anaknya yang tidak jauh beda dengan sikapnya yang paling tidak suka dibantah.
"Lalu kita harus bagaimana, kasian Kaira, Senjaya dan Tia juga sepertinya sudah menjauhi kita karena masalah ini"
"Senjaya masih marah dengan Kaira, dia malu dengan keluarga kita"
"Kenapa semua orang seolah tidak bisa memaafkan Kaira, sekarang dia sudah menyesal. Kenapa tidak ada yang bisa memberikan kesempatan untuk dia menunjukkan penyesalannya." keluah Sofia kerena baik anaknya maupun ayah dari menantunya tidak ada yang mau memaafkan Kaira.
"Memang memaafkan itu tidak semudah yang kita bayangkan, kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka" jelas Hendra menenangkan istrinya.
*
*
Didalam kamar mandi Kaira harap-harap cemas menunggu hasil test pack yang ada dalam genggamannya.
Dibukanya dengan perlahan dengan tangan yang bergetar. "Ga.. garis dua" dengan susah payah Kaira menelan selivanya.
Masih belum reda dari keterkejutannya, pintu kamar digedor dengan kasar oleh Radit. Kaira tidak langsung membuka pintunya meskipun Radit menggedor pintunya dengan keras. Iya menyunggingkan senyum bahagia karena dipikirnya ini adalah cara untuk membawa Radit kembali padanya.
"Cepatlah buka Kaira"
"Ehh..mmm..saya..saya.."Kaira hanya bisa terus tersenyum, ingin menyampaikan kabar bahagia ini kepada Radit tapi Radit bahkan seperti tidak memberinya kesempatan untuk bicara karena memang pagi ini dia bangun terlambat dan mau buru-buru pergi ke kantor.
"Cepatlah keluar, saya sudah terlambat"
"Radit saya..."
Namun lagi-lagi belum sempat menyelesaikan ucapannya Kaira sudah lebih dulu di tarik oleh Radit keluar. "Saya sudah terlambat" ucapnya sambil menutup pintu tanpa memberikan waktu untuk mendengarkan Kaira.
Siang ini Kaira memutuskan bahwa untuk pergi ke Mall terbesar dikota itu, untuk membeli beberapa perlengkapan bayi, walaupun iya tidak tahu bayinya Boy or Girl.
Namun belajar dari kesalahan masa lalu membuatnya kali ini harus mempersiapkan segalanya dengan matang.
Saat sedang keliling tanpa sengaja dia berpapasan dengan Radit yang sedang jalan-jalan bersama Jeny. Dengan posisi yang terlihat sangat intim, bagaimana tidak, karena Jeny menggandeng erat tangan Radit dan lelaki itu membiarkannya begitu saja.
Deg
Sesaat mata mereka saling bertatapan, namun sedetik kemudian Kaira lebih dulu mengakhiri pandangannya.
"Kaira.." sapa Radit lebih dulu
Bukannya menjawab Kaira malah menatap wanita disampingnya.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Radit lagi karena Kaira tidak memperdulikannya.
Kaira hanya menatapnya sekilas kemudian langsung berlalu dari sana begitu saja bahkan melupakan rencananya untuk belanja.
Radit hanya menghembuskan nafasnya kasar dengan tatapan yang nanar melihat kepergian Kaira, harusnya iya bahagia melihat Kaira yang terluka dengan kebersamaannya bersama Jeny. Namun hatinya serasa tersayat sembilu saat melihat tatapan tak perduli yang Kaira tunjukkan.