
Mobil Radit sudah membelah jalanan menuju Restoran yang sedang digemari saat ini.
"Babby kita makan di Restoran Victoria ya"
"Aku ngikut aja dengan pilihan suami tampan ku ini, tapi jangan di booking, aku gak mau kamu buang-buang uang hanya untuk booking Restoran untuk kita" jawabnya dengan tersenyum manis kearah suaminya.
"Kenapa sayang? kamu tau suamimu ini tidak akan jatuh miskin hanya karena booking Restoran".
"Iya aku tau suamiku milyader, tapi mubazir kalau hanya untuk itu, mending dibagi kepada yayasan sosial atau kegiatan amal lainya".
"Baiklah nyonya Hermawan, siap" ucapnya sambil memperagakan gerakan penghormatan. Kaira hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya.
Beberapa saat mereka sudah sampai di Restoran Victoria, Radit membukakan pintu untuk istrinya dan menyerahkan tangannya untuk di gandeng oleh Kaira, dengan senang hati iya meraih tangan suaminya dan masuk kedalam Restoran. Tampak beberapa pelayan memberi hormat dengan menundukkan kepalanya, karena tahu siapa orang yang datang, seorang pengusaha sukses nomor satu di kotanya.
Semua karyawan dan pengunjung yang hadir disana tampak kagum dengan Kaira yang begitu beruntung memiliki hati seorang CEO tampan namun terkenal dingin dan sadis kepada siapa saja yang menggangu barang miliknya.
Mata para pengunjung langsung tertuju kepada sosok pasangan yang baru saja memasuki Restoran tersebut.
"Beruntung sekali wanita yang menjadi istri pak Radit"
"Sungguh pasangan yang serasi"
"Nyebelin bangat deh tu cewek, gara-gara dia kita gak ada kesempatan buat deketin pak Radit"
Gunjingan para pengunjung wanita yang ada disana, karena kagum sekaligus iri kepada Kaira.
Mereka memilih bangku yang ada di pojok dekat jendela, Radit menarik bangku untuk istrinya kemudian untuk dirinya. Seorang pelayan datang memberikan buku menu, Radit memilih menu untuk mereka, setelahnya menyerahkan kepada pelayan.
"Di tunggu sebentar Tuan dan Nyonya kami akan segera menyiapkannya"
"Baik"
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Radit mengajak istrinya berbincang-bincang ringan, tidak lama pesanan mereka datang, seorang pelayan menghidangkan makanannya.
"Silahkan dinikmati Tuan dan Nyonya semoga suka dengan hidangan kami" setelah mempersilahkan pelayan pergi dari hadapan mereka.
"Makan yang banyak sayang, kamu harus menyiapkan tenaga untuk pertempuran kita nanti" ucap Radit setengah berbisik, sambil menyuapkan makanan ke mulut Kaira, karena suara musik yang di putar di dalam Restoran membuat Radit lebih leluasa menggoda istrinya karena tidak akan sampai ke telinga pengunjung lain.
wajah Kaira berubah merah, karena rayuan suaminya dengan cepat Kaira membuka mulutnya memakan makanan yang berikan oleh Radit "udah ah sayang, malu dilihat orang" Kaira malu-malu karena Radit menyuapinya di tempat umum, Radit gemas melihat tingkah istrinya.
"Nyuing..nyuingg..nyuingg..." serunya sambil berlari membawa pesawat mainannya seolah-olah sedang menerbangkan pesawat.
Kaira yang jengah dengan sikap anak nakal itu tidak bisa menahan diri untuk bicara "ehh diam" bentak Kaira pada anak tersebut. "pak kalian bisa jagain anak gak si, masak anaknya dibiarkan menggangu ketenangan pengunjung lain" hardik marah Kaira.
"Maaf ya mbak namanya juga anak kecil, biasa bermain seperti itu" jelas ayah anak itu.
"Jadi karena dia anak kecil, harus di biarkan begitu saja".
"Mulut mbak di jaga ya, jangan asal ngomong" ibu anak itu angkat bicara.
"Maaf Pak, Bu, saya bisa memakluminya, istri saya sedang kurang sehat makanya gampang emosi" jelas Radit kerena melihat Kaira akan memarahi kembali orangtua anak itu.
Radit menatap ke arah Kaira mengisyaratkan untuk berhenti, Kaira yang paham dengan arti tatapan itu memilih diam dan duduk kembali.
"Lanjutkan makannya, nanti keburu dingin, biar kita cepat pulang" ucapnya menenangkan istrinya.
Kaira memainkan sendok di atas piringnya tanpa memakannya, karena selera makannya sudah hilang dari tadi "Sayang kenapa tidak di makan, cepat makan atau aku yang suap"
Karena mendengar Radit akan menyuapinya Kaira memilih makan sendiri, iya malu di perlakukan Radit romantis ditempat umum.
Setelah selesai mereka kembali ke rumah, Radit masih berusaha membujuk Kaira karena istrinya masih setia dengan diamnya, Kaira langsung masuk ke kamar dan susul oleh Radit.
"Kenapa masih masam aja tu muka hm? apa sudah tidak sabar dengan pertempuran berikutnya" goda Radit dengan mengedipkan sebelah matanya. Sedangkan kaira hanya bisa tersipu malu.
Radit mendekati Kaira "ayo kita mulai" ucap Radit tepat didepan wajah Kaira hingga hembusan nafas beraroma mintz menyeruak ke Inda penciuman Kaira beradu menyapu lembut pipi mulusnya.
Perlahan namun pasti Radit mulai dekatkan dirinya, m*l*m*t bibir Kaira dengan rakusnya, menyesap rasa manis dari bibir istrinya, turun keleher jenjang istrinya dan tiba di puncak gunung Krakatau, hingga berakhir dengan penyatuan, setalah berkali-kali mereka melakukan pelepasan barulah Radit mengakhiri permainannya, sambil mencium pelarut istinya, "semoga kamu cepat hadir sayang"
Kaira hanya bisa tersenyum kecut melihat Radit begitu mengharapkan kehadiran anak dalam perutnya, padahal iya belum menginginkannya, makanya setiap malam Kaira tidak pernah lupa minum Pil KB nya tentu saja tanpa pengetahuan Radit. Ada perasaan sedih dan senang bersamaan mengingat keinginannya dan keinginan suaminya yang berbeda.
Iya merebahkan tubuhnya di samping Kaira dan menarik istrinya kedalam pelukannya, "sekarang jangan marah lagi, tentang makan malam tadi, dia cuma anak kecil, gimana kalau kita sudah punya anak nanti, apa kamu akan memarahinya juga hm!"
Kaira hanya mengangguk, dan mempererat pelukannya, dan membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya mencari tempat ternyaman disana. Mereka tertidur dengan saling berpelukan, Radit menutup tubuh polos mereka dengan selimut.
💫💫💫💫
Bersambung