My Husband Hates Me

My Husband Hates Me
Part 37


Tidak terasa saat ini usia Raka sudah enam bulan.


Dikantor seperti biasa Radit kembali berkutat dengan setumpuk dokumen yang harus iya periksa. Saat teringat akan projek yang sedang mereka lakukan bersama tuan Harun iya meraih telpon kantor yang ada sampingan kanannya. "Segera keruangan saya sekarang" setelah selesai mengatakan keinginannya iya kembali menutup telpon.


tok..tok..


"Masuk"


Setelah mendapat ijin untuk masuk barulah dia berani untuk masuk, karena tidak ingin membuat prianya marah, iya terpaksa harus mengetuk terlebih dahulu, biasanya iya juga langsung masuk walaupun harus menerima ceramahan dari sang Direktur.


"Ada apa memannggil saya kesini?" tanya wanita tersebut yang tidak lain adalah Jeny.


"Bagaimana dengan projek kerja kita dengan Tuan Harun"


"Semuanya sudah hampir selesai, tinggal beberapa hari lagi saya pasti akan selesaikan"


"Saya ingin kamu segera menyelesaikannya karena ada banyak kerjaan lain yang sedang menunggu untuk dikerjakan" titahnya tak terbantahkan.


"Kemaren semangat sekali minta uncle istirahat, sekarang kamu sudah banyak mengeluh, apa semua karena Kaira?" beberapa hari lalu Radit meminta Daddynya untuk istirahat dan datang kekantor hanya saat tertentu saja.


"Maksud kamu?"


"Mm..begini saat ini usia Raka sudah enam bulan, dia memerlukan kasih sayang seorang ibu."


"Lalu sa.."


"Tunggu, aku tidak bermaksud untuk membuatmu baikan dengan Kaira, karena saya tahu kamu trauma dengan Kaira, saya juga takut kalau sampai dia lakukan sesuatu lagi pada Raka..."


"Saya tidak paham apa yang sebenarnya mau kamu sampaikan, jelaskan saja secara langsung" potong Radit karena bingung dengan arah pembicaraan Jeny.


"cari Mommy baru untuk Raka"


Radit tidak menanggapi perkataan Jeny karena memang iya belum berpikir sampai kesana.


*


*


Radit langsung menyusul istrinya ke kamar mandi mendengar Kiara yang muntah-muntah disana.


"Kenapa kamu muntah, mengganggu orang tidur saja" tanyanya sedatar mungkin padahal sebenarnya iya menghawatirkan kondisi Kaira namun iya tidak menyadari rasa marahnya terjadi karena khawatir.


"Perutku tiba-tiba mual..uwekk..." Kaira terus saja mengeluarkan isi perutnya, dengan sendirinya kaki Radit mendekat untuk mengelus belakang Kaira.


"Mau pergi ke Rumah Sakit tidak"


Kaira menjawab dengan gelengan kepala dan keluar dari sana sembari menyentuh lengan Radit untuk membuatnya menyingkir supaya ada jalan untuknya lewat.


Radit yang bingung harus apa, mengikuti saja dan kembali ke ranjang dan mendudukkan tubuhnya disamping Kaira.


"Sudah berapa lama kamu tidak haid" tanyanya kwartir Kaira mual karena hamil. Biar bagaimanapun walau baru memiliki satu anak, setidaknya iya tahu jika perempuan mual salah satu penyebabnya karena kehamilan.


Walaupun mereka melakukan hubungan intim tidak sesering biasanya dan Radit selama ini melakukannya dengan kasar, namun tetap saja benih ya tertanam sempurna didalam rahim istrinya.


Kaira masih memegang kepalanya yang masih terasa pusing. "Datang..hanya saja kadang terlambat dari tanggal biasanya setelah melahirkan Raka"


"Aku hanya tidak ingin kamu tiba-tiba hamil, beri tahu lebih awal, aku tidak ingin kamu lakukan lagi seperti yang sudah kamu lakukan pada Raka"


"Kalau aku hamil lagi, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya sembari menatap lekat wajah prianya.


"Tidak ada yang akan aku lakukan, kita gugurkan saja dari awal, kamu tidak layak jadi seorang ibu"


"Aku tidak tahu sejauh itu kamu membenci ku, tapi kalau benar aku hamil lagi, mungkin ini cara untuk kita bisa kembali seperti dulu lagi!"


Lama tidak ada jawaban, Kaira menyentuh bahu Radit, walaupun Radit berusaha menyingkirkannya, kemudian Kaira merebahkan tubuhnya dan menarik selimut, berusaha memejamkan matanya meninggalkan Radit yang masih duduk dibawah sana.


Radit menatap kearah Kaira dan menghembuskan nafasnya pelan, bingung harus bagaimana jika benar Kaira hamil lagi.


*


*