
"Kalau saya tidak membawa Lea kesini, siapa yang akan menjaga Raka?" jelasnya sambil pura-pura menangis dan teraniaya.
Radit masuk dengan baby Raka didalam gendongannya, Radit memicingkan matanya, dalam hati ingin tertawa melihat kondisi dua wanita itu. "Apa yang terjadi?"
"Radit aku datang mengantar Lea, namun Kaira tidak setuju aku membawa Lea untuk mengasuh Raka" Jawab Jeny dengan cepat, sedangkan Kaira hanya diam saja karena tahu Radit pasti tidak kan Mendengarkan apapun penjelasan darinya.
"Oh..Lea tolong ambil Raka, aku akan membereskan pekerjaanku sebentar!" mintanya pada Lea, karena ada beberapa pekerjaan yang belum selesai saat iya harus menjemput Raka. Iya memutuskan untuk bekerja dari rumah siang ini, karena ingin menghabiskan waktu bersama anaknya.
"Aku saja" ucap dua wanita disamping Radit bersamaan sambil mengangkat tangannya hendak menggapai Raka, namun dengan cepat Raka menepis tangan Kaira dan menyerahkan bayinya kepada Jeny.
"Bawa anakku untuk istirahat dikamar" ucapnya pada Jeny tanpa memperdulikan Kaira.
"Biar aku yang bawa Raka" kekeh Kaira walaupun Radit menolak.
"Kenapa harus kamu?" Tanya Radit dengan tatapan tajamnya.
"Karena aku ibunya" jawabnya yakin
"Ibu?...kamu bilang ibu!" Radit tersenyum devil. "Sejak kamu mengeluarkan Raka dari perutmu, dia bukan anakmu lagi" ucapnya menaikan satu tab suaranya.
Kaira hanya bisa menunduk, menahan air mata, bukan karena takut dibentak oleh Radit, namun karena cara Radit memarahinya didepan orang lain yang membuat pertahanan Kaira runtuh. Dari belakang Radit tampak seorang wanita menyunggingkan senyumnya.
Kaira memberanikan diri menatap bola mata Radit sebentar, kemudian berlari kearah tangga menuju kamar dengan Isak tangisnya sambil terus berusaha menghapus air mata yang turun tanpa ijin, Radit meninggalkan Jeny dan Lea berjalan menuju ruang kerjanya. Iya mengusap wajahnya frustasi karena jauh didalam lubuk hatinya iya merasa bersalah karena telah memarahi Kaira didepan orang lain. Namun sedetik kemudian iya merasa itu pantas untuk wanita kejam sepertinya.
*
*
Radit keluar menemui Lea dan Jeny, iya menjelaskan cara kerja kepada Lea, bagaimana harus merawat anaknya dengan baik. Lea hanya mengangguk paham dengan semua penjelasan tuannya.
Setelah dirasa cukup Jeny pamit undur diri "Radit maafkan aku atas kejadian tadi, aku tidak bermaksud membuat keributan dengan Kaira"
"Bukan salahmu, kalau kamu perlu istirahat, pulang saja tidak perlu kembali ke kantor" terangnya.
"Benarkah?" karena sebenarnya iya juga perlu mengistirahatkan diri setelah menerima serangan Kaira tadi.
"Hm" Radit menjawab hanya dengan deheman.
Sebelum meninggalkan ruangan Jeny mengedipkan matanya memberi kode kepada Lea untuk mengikutinya, Lea yang paham langsung mengantarkan Jeny kedepan pintu. "biar saya antar nona Jeny tuan" ijinnya memberanikan diri, karena saat ini Raka sudah tidur.
Radit hanya mengangguk, setelah sampai didepan rumah Jeny menarik Lea untuk menghindari cctv. "kamu harus mendengarkan perintah dari saya, kalau mau gajimu dibayar double" bagaimana tidak double jika Radit membayarnya karena mengasuh Raka, dan Jeny membayarnya untuk menyingkirkan Kaira.
Setelah selesai mengingatkan Lea barulah iya masuk dan memacu laju kendaraannya meninggalkan rumah Radit.
Radit masuk kedalam kamar, dan mendapati Kaira sedang berbaring membelakanginya, dengan bahu yang bergetar sesenggukan, namun Radit pura-pura tidak melihat dan langsung meraih handuk menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Jauh di lubuk hatinya Kaira berharap Radit akan berbicara dengannya, baik mengenal pengasuh Raka ataupun dengan perlakuannya tadi, namun ekspektasinya tidak sesuai realita.
*
*
BERSAMBUNG