My Husband Hates Me

My Husband Hates Me
Part 39


Jeny dengan cepat mengalihkan perhatian Radit supaya tidak memperdulikan kepergian Kaira.


"Ayo kita pergi, bukankah kamu bahagia kalau dia tersiksa dengan kebersamaan kita" kemudian menarik paksa tangan Radit untuk pergi dari sana.


Kaira bukannya tidak peduli dengan kebersamaan mereka juga bukannya tidak merasa tersakiti, hanya saja dia ingin mencoba memahami Radit yang belum bisa memaafkannya, namun dalam pemikiran Radit adalah Kaira sudah tidak peduli dengan semua yang dilakukannya.


Kini Kaira menepikan mobilnya untuk menenangkan hatinya setelah pergi meninggalkan Mall.


"Aku kalah, aku tidak mampu untuk untuk membawa mu kembali pada ku. Kamu harus kuat Kaira, apapun yang kamu lakukan tidak mampu untuk mengembalikan Radit dalam hidupmu, kamu harus kuat menerima apa saja yang terjadi, beri aku kekuatan ya Tuhan, aku ikhlas dengan semua yang aku terima karena dosaku dimasa lalu."


gumamnya dalam tangisan yang dari tadi membuat dadanya sesak.


Hari berlalu seperti biasa.


Setiap hari Jeny melancarkan akal bulusnya untuk terus memprovokasi Radit supaya tetap membenci Kaira.


Seperti saat ini iya menelpon Radit walaupun tadi dikantor mereka sudah bersama.


"Kamu tidak merasa heran dengan sikap Kaira selama ini, selama ini kamu sudah mencoba untuk menyakitinya dengan kebersamaan kita, tapi apa.. sedikit pun dia tidak merasa tersiksa."


"Apa maksud kamu Jeny?"


"Ya lah, selama inikan kamu mencoba membuat dia merasakan apa yang kamu rasakan selama ini. Tapi yang aku lihat dia sedikit pun tidak tersiksa, aku rasa dia yakin walau apapun yang dia lakukan, kamu tidak akan pernah meninggalkan dia, itulah sebabnya dia mempermainkan mu."


Radit langsung menutup telpon secara sepihak setelah mendengar perkataan Jeny. Radit memang Raja Bisnis, tapi hati tidak ada yang tahu sejauh mana dia mampu bertahan.


"Arggg..Dam" Dia berteriak frustasi dengan mengusap wajahnya kasar.


Setelah lama menimbang akhirnya iya memutuskan untuk menghubungi orang tuanya, meminta mereka datang kerumahnya malam ini karena hal yang ingin dibicarakan.


*


*


"Ada hal apa yang mau kamu bicarakan sampai memanggil Daddy dan Mommy kesini?" tanya Senjaya karena tidak biasanya anaknya seperti ini.


"Ada hal yang ingin Radit kasi tahu, terutama sama kamu" ucapnya sambil menatap kearah Kaira.


"Katakanlah" potong Kaira cepat


Radit menghembuskan nafasnya pelan sebelum meneruskan perkataannya. "Ini semua tentang hubungan rumah tangga kita, saya rasa, saya sudah tidak bisa melanjutkannya lagi, karena tidak ada lagi tujuan dalam hubungan kita. Saya rasa cukuplah perkawinan kita sampai disini saja, mulai dari saat ini aku akan menceraikan mu."


Tepat di kalimat terakhir Radit Kaira langsung menjatuhkan air matanya seiring dengan matanya yang tertutup dan menghembuskan nafasnya pelan, kemudian merosot lemah dari kursinya bersujud di kaki Radit.


"Radit..saya terima jika itu keputusan mu, tapi saya mohon tolong jangan pisahkan saya dengan Raka, ijinkan saya menjaga Raka"


"Tidak perlu, saya bisa jaga Raka sendiri."


Sofia yang dari tadi diam, hanya bisa terus menghapus benda kristal yang tadi meluncur bebas.


"Kamu pikir aku bisa terima semua yang sudah kamu lakukan pada Raka, kamu coba membunuh Raka, kamu tahu betapa tidak sempurnanya hidup Raka, mustahil untuk aku bisa terima semua itu, cukuplah dua tahun saya hidup dengan kamu, baru saya sadar terlalu banyak kekurangan mu. Kamu bukan seorang ibu yang baik, juga bukan seorang istri yang baik."


*


*