
*****
Jojoe masih saja memegangi tangan ku, padahal sedari tadi kami sudah berada di depan pagar rumah Rain.
"Udah dong Joe, gue masuk dulu ya! berabe entar kalo orang rumah liat"
"Sun!!"
Wajah Jojoe mendadak berubah serius menatap mataku. Akupun sejenak terhanyut dalam lamunan tatapan Jojoe.
"Gue nyaman sama loe, Sun! plisss ... biarin gue terus sayang sama loe sampe kapan pun"
Jojoe mengangkat kedua tangan ku lalu mengecupnya. Jantungku mendesir, sejatinya aku merasakan kenyamanan yang sama saat bersama Jojoe.
"Joe... tapi!!!!"
"Gue tau posisi loe, Sun!! makanya gue mau kita jalin hubungan ini tanpa ada siapa pun yang tau"
Aku tak menjawab. Lebih tepatnya, aku gak tau harus jawab apa. Hati ku berkata aku mencintai laki-laki manis yang berdiri di hadapanku ini. Tapi pikiran ku berkata, ada jasa keluarga yang harus ku balas, ada perasaan saudara yang harus ku jaga. Aku hanya tersenyum. Entah apa artinya itu buat Jojoe, kekasih hatiku.
Jojoe membalas senyuman ku. Ia seolah tau apa yang di katakan hatiku barusan. Tanpa aku mengatakan iya, ia terlihat kegirangan sambil melepas tangan ku. Berjalan mundur selangkah demi selangkah seolah tak ingin pergi terlalu cepat. Bibirnya serasa tak ingin berhenti tersenyum sambil terus melambaikan tangan.
Aku pun membuka pintu gerbang yang memeng tidak di kunci tadi, dengan perlahan. Masuk ke dalam rumah sambil berjinjit-jinjit. Berharap tak ada satu orang pun yang mengetahui gelagat ku malam ini. Ya, gelagat nakal ku bersama Jojoe.
Tapi tampaknya aku salah. Mama sudah berdiri di pinggir jendela ruang tamu yang menghadap langsung ke jalan masuk rumah kami. Sial, mama pasti memergokiku. Ia pasti akan menganggap ku penghianat. Penghianatan yang sama, yang ia terima dari mama kandungku di waktu silam. Aku yakin dia tidak akan membiarkan ku malam ini.
Mama mendekatiku lalu berbisik,
"Jangan pulang larut lagi ya, besok"
Wanita yang memakai piyama merah itu lalu pergi meninggalkanku. Aku menarik nafas panjang. Merasa seperti selamat dari sebuah peperangan. Aneh, aku yakin mama gak mungkin gak lihat aku dan Jojoe. Tapi, kenapa dia seolah membiarkan itu terjadi. Apa mama juga mulai sadar bahwa sebenarnya, bukanlah Rain yang Jojoe cintai, melainkan aku.
*****
Pagi sekali, saat aku melihat mobil berwarna putih milik Om Farid sudah parkir di halaman rumah kami. Pasti dia mau jemput mama, tapi ini masih terlalu pagi. Bahkan belum juga mama menyiapkan sarapan untuk kami.
"Pagi!!" sapa Om Farid saat memasuki ruang makan kami.
Mama tersenyum. Dia sama sekali tidak terlihat terkejut. Sepertinya Om Farid memang sudah membuat janji dengan mama.
"Sarapan bareng yuk!!" ajak mama
"Aaah ya, boleh juga... selama ini aku selalu sarapan sendiri, dan aku agak canggung"
"Aaah gak papa, ayo duduk sini" ajak mama
Aku yang sedari tadi duduk di meja makan pun hanya bisa senyum basa-basi karna tidak tau harus bicara apa. Rain datang sambil membenahi rambut panjangnya.
"Eh ada Om Farid, tumben om pagi banget kesininya? kangen banget ya sama mama?" rayu Rain
Mereka berdua tampak tersipu malu dengan celotehan Rain.
"Tapi maaf ya Rain gak bisa sarapan bareng, Rain ada janji sama temen-temen"
"Masak sepagi ini sih Rain?" sahut ku sedikit kecewa
"Iya Sun, loe gak percaya? loe mau ikut?"
Sejenak aku memikir kan ajakan Rain. Karna aku rasa ada hal penting yang mau Om Farid dan mama omongin, gak ada salahnya aku ikut Rain aja.
"Iya udah deh" jawab ku.
"Suuuuun!! kok gitu sih? masa mama makan berdua Om Farid aja?" kata mama sedikit bernada kecewa
"Gak papa mah, biar makin romantis" jawab ku sambil beranjak pergi.
"Jangan lupa buka toko ya"
"Ya maaa" jawab ku.
Kami pergi bersama menaiki Scuter Matic milik Rain.
*****
Sebuah restoran yang nyaman. Dengan nuansa taman buatan di sekelilingnya. Terlihat sengaja di buat untuk anak-anak kuliahan yang sibuk mengerjakan tugas. Atau untuk keluarga yang lagi weekend.
Aku duduk di hadapan sebuah meja panjang dengan duduk lesehan diatas karpet bulu yang nyaman. Sudah ada beberapa temen Rain yang aku gak kenal siapa, yang pasti 2 laki-laki dan 2 perempuan. Mereka terlihat seperti berpasangan. Cuma aku dan Rain yang tidak punya pasangan disana.
Tapi aku kemudian melihat raut wajah yang sangat aku kenal. Ya, rupanya Jojoe juga datang kemari untuk menemani Rain. Sempurna, cuma aku yang sendiri gak punya pasangan. Fine, kalian menang, aku cuma sebagai batang obat nyamuk penghilang sial kalian.
Jojoe seperti mengerti kekesalan dalam hatiku. Dia yang duduk di sebrang mejaku, bersampingan dengan Rain, berusaha meraih tangan ku dari bawah meja. Tangannya hangat menggenggam tangan ku. Sial, aku semakin terlihat jahat disini. Siapa pun yang melihat ini pasti mengira akulah perebut nya, akulah penjahatnya. Tapi Rain tidak menyadari itu. Ia terlihat sibuk dengan tugasnya.
Waktu terasa berhenti berputar saat aku melihat senyum Jojoe merekah. Senyum nya seolah meyakin kan aku bahwa semua hanyalah drama yang sebentar lagi akan berakhir. Tapi kapan?
"duk!!"
Suara pelayan meletakkan pesanan makanan kami. Ia berhasil mengagetkan ku. Jojoe melepaskan tangannya. Rain kemudian menatapku tanpa curiga.
"Makan yuk!!" ajak Rain.
Aku meraih segelas minuman dan lalu menyeruputnya hingga tak tersisa. Drama ini seolah menguras tenagaku. Menciptakan bongkahan besar di dadaku.
"Rain, gue cabut ya! gue mau buka toko"
ucap ku seraya berdiri
"Ooow ya udah, ati-ati yah" balasnya
Aku berjalan pergi dengan penuh kekesalan. Backstreet yang melelahkan. Sampai kapan Tuhan? sampai kapan. Aku serasa ingin menjerit.
*****
Mama, Rain, dan aku berkumpul di ruang tamu. Entah karna alasan apa mama memanggil kami. Ada cincin di jari manis mama yang sebelumnya tidak pernah kami lihat. Ia terlihat terus memutar mutar cincin berwarna silver itu seperti sedang gelisah.
Aku kemudian teringat cincin pemberian Jojoe yang kini melingkar di tangan Rain. Aku melirik ke arah jari Rain dengan rasa cemburu. Seharusnya itu milik ku.
"Menurut kalian Om Farid cocok gak jadi papa kalian?"
Pertanyaan yang membuat ku bangun dari lamunanku. Sedikit menamparku.
"Kalo Aku sih suka aja mah sama Om Farid, dia baik kok. Lagian mama kan udah lama hidup sendiri, aku pikir akan lebih baik kalo mama menikah lagi" jawab Rain
"Kalo kamu Sun"
"Oh aku... Aku terserah mama aja, kalo mama suka sama Om Farid ya udah aku bisa bilang apa" jawab ku seadanya.
Sebenarnya aku tidak mau mama menikah lagi. Mama pun seperti tau kegelisahan ku. Dia menggenggam tangan kami berdua.
"Gak akan ada yang berubah setelah mama menikah. Keluarga kita akan jauh lebih lengkap" ucapnya berusaha meyakinkan kami
"Apa Om Farid udah ngelamar mama? cincin itu tadi nya gak ada?" tanya ku
"Aaaah, ini!!! iya ini Om Farid yang kasih" jawab mama sambil tersenyum malu.
"Jadi Om Farid udah ngelamar mama?" tanya Rain
"Iya begitu.... Tapi kami belum sepakat masalah tanggal. Mama mau tanya kalian dulu"
"Lebih cepat lebih baik ma!! aku udah gak
sabar pengen punya papa"
Rain terlihat sangat senang mendengar jawaban mama. Sepertinya ia menyukain calon papa nya itu. Berbeda denganku, aku merasa Om Farid hanya pura-pura baik. Istri nya gak mungkin ninggalin dia kalo dia orang baik. Meskipun banyak yang menilai dia sudah berubah, tapi orang gak akan begitu saja berubah.