
*****
Masih sangat pagi, embun saja masih menempel di kaca-kaca jendela rumah. Tapi sudah ku dapati Rain termangu di sofa ruang tamu, memeluk kedua lututnya sambil sesekali mengganti chanel tv. Aku tahu pikirannya tidak disini. Matanya terlihat kosong menatapi layar. Aku berusaha mendekat dan mencoba menjelaskan kesalah pahaman ini. Bukan, aku tahu ini bukan salah paham, tapi ini salah ku. Aku berusaha mengakui kesalahanku yang tanpa bisa ku kendalikan itu.
"Rain!!!" sapa ku
Dia tetap diam. Bukan karna tidak menyadari keberadaanku, tapi dia sengaja mendiamkan aku.
"Rain!!!" sapa ku sekali lagi, mencoba agar saudara tiriku ini mau menghiraukan aku.
Rain mulai bergeming. Menarik nafas panjang dan menjawab ku
"Appa? mau ngomong apa? percuma" tegasnya
Aku bahkan belum mengatakan apapun. Tapi Rain sudah menjawab tegas keinginanku.
"Gue gak akan ngejelasin apapun, karna..."
"Karna loe emang salah, loe sengaja ngelakuin ini ke gue, loe sengaja ambil Joe dari gue, gue gak habis pikir Sun, apa salah gue, kurang apa gue sama loe selama ini"
Aku tak bisa berkata apa-apa. Yang di katakan Rain semua benar. Aku yang salah, aku pelakunya disini, bisa-bisa nya aku mencintai kekasih Rain.
"Dari awal gue udah curiga, loe sama Joe pasti ada hubungan, tapi gak!! gue percaya loe gak mungkin khianatin gue, sampe gue baca dairy loe, hari pertama loe ngedate bareng Joe, perasaan loe ke dia, kencan sembunyi-sembunyi loe, dan yang terakhir..."
Ucapan Rain, terhenti. Dia terisak-isak tak mampu melanjutkan kata-katanya. Aku tau yang dia maksud, kejadian malam itu, malam pertamaku dan Joe yang aku tulis juga di buku diary itu. Bodohnya aku, kenapa aku gak mikir kalau suatu hari nanti Rain dapati catatan ku dan membaca semuanya? bagaimana perasaannya saat ini? berusaha menyembunyikan kesedihannya dan tetap bertahan karena dia sangat mencintai Joe.
Aaaah aku terlalu naif untuk hal ini. Aku benar-benar tidak tega melihat Rain menangis disana. Tapi aku juga tak mampu melangkah untuk menghampirinya, memeluk atau meminta maaf kepadanya. Aku terlalu takut.
Terdengar suara jejak kaki menapaki anak tangga. Itu mama yang turun dari lantai atas. Rapi dengan bloush hitamnya. Mama terlihat siap berangkat kerja sepagi ini.
"Ada apa sih ribut banget pagi-pagi" mama terdengar berusaha tenang menghampiri kami.
Mama duduk di samping Rain dan memeluk bahunya.
"Rin ada apa sih? masalah Jojoe lagi?"
"Mama kapan pulang? kok Rin gak tau"
"Itulah kalo kamu yang dipikirin diri sendiri aja, kamu gak pernah telphone mama gak pernah nanya kapan mama pulang, gak kaya Sun" balas mama
Rain makin terlihat benci padaku setelah mendengar ucapan mama.
"Kok mama gak ke kamarku?" tanya Rain lagi
"Mama denger kamu ngamuk tadi malam, jadi mama pikir kamu butuh waktu sendiri"
"Maaaah, mama kenapa sih? mama gak pernah begini sebelumnya ke Rin, mama..."
"Ssssst udah cukup, mama mau keluar kota ada yang harus mama kerjakan, mama gak boleh telat"
Mama berdiri lalu mengecup kening Rin. Kemudian mendekati ku dan mengecup keningku.
"Mama sendiri? gak sama papa?"
Mama kemudian pergi meninggalkan kami yang masih saling diam.
"Puas loe" ucap Rain ketus.
Aku sama sekali tak menaruh dendam pada perkataan Rain. Memang sulit berada dalam posisi Rain yang terbiasa di manja dan sekarang harus mengikuti arus kedewasaan.
"Rain, terserah loe mau anggap gue apa, keputusan ada di tangan Jojoe, dia berhak milih siapa yang di cintai dan jadi pacarnya. Gue gak mau mundur dan jadi pengecut lagi"
Aku pergi meninggalkan Rain yang terpaku menatapku. Dia terlihat sangat kaget mendengar ucapanku barusan. Entah karena alasan apa kata-kata itu terlontar dari bibirku. Sangat kasar dan arogan. Hatiku tak bisa mengalah lagi, Aku berhak bahagia dengan laki-laki yang mencintaiku.
Sejak saat itu kami saling diam. Jarang sekali bertegur sapa kecuali dalam hal-hal yang mendesak. Apalagi saling ngobrol atau bicara hampir tidak pernah. Mama juga terlihat kurang peduli lagi pada kami, dia membiarkan kami menyelesaikan masalah kami sendiri.
Joe dan aku masih berhubungan dekat layaknya orang berpacaran. Tampaknya tak ada bedanya dengan Rain. Joe dan Rain tak pernah ada kata putus. Mereka masih saling dekat satu sama lain. Chatting dan sesekali keluar bareng.
Aku sama sekali tak menaruh curiga apapun karena sepenuhnya aku percaya Joe hanya mencintaiku bukan Rain atau pun yang lain.
Keadaan mulai berbeda saat ku dapati lebam di pelipis Rain yang berusaha dia tutupi. Kadang-kadang terlihat bekas cengkraman di pergelangan tangannya yang membiru. Aku mencoba bertanya tapi Rain selalu menghindar. Ku pikir karena dia masih marah padaku.
Tapi bekas-bekas luka itu kian hari kian bertambah, dan berpindah pindah tempat. Terkadang memar di leher seperti bekas cekikan. Terkadang di sudut bibir seperti bekas tamparan. Rain juga jadi jarang sekali keluar kamar. Dia terus saja mengurung diri. Tidak pernah lagi pergi ke kampus. Atau sarapan bareng.
Aku juga tidak pernah punya banyak waktu untuk saling bertukar pikiran dengannya karena aku sibuk mengurusi toko. Mama juga jarang sekali di rumah sejak pindah tugas keluar kota. Hanya papa Farid yang terlihat sering berada di rumah. Tapi sikapnya pun dingin terhadap kami. Rasanya mustahil jika papa Farid yang melakukan itu pada Rain.
Lalu? apakah Jojoe? Aku berusaha menghubungi Joe dan memintanya untuk bertemu denganku di toko.
Siang itu Joe menghampiriku di toko. Tanpa ada kecurigaan dia bercengkrama dengan ku di sudut ruangan dengan segelas jus di meja.
"Mau ngomong apa? kedengarannya serius?" tanya Jojoe
"Loe liat Rain berubah gak akhir-akhir ini?"
"Gue gak perhatiin, udah sebulan lebih gue gak pernah berhubungan sama dia"
"Loe serius?" jawaban Joe benar-benar mengagetkan ku
"Iya serius, dia sendiri yang bilang jangan temuin dia lagi, ya udah gue pikir dia udah move on"
"Tapi gue sering liat dia jalan kadang-kadang gak ada di rumah, gue pikir dia jalan sama loe"
"Enggak, Sun!! sejak dia tau gue punya hubungan ama loe, dia jadi agak ngejauhin gue, kita gak pernah ada kata putus sih, tapi gue udah gak pernah hubungin dia hampir 2 bulan ini"
Aku terdiam, aku mulai berpikir Rain punya pacar baru. Dan pacar barunya itu yang melakukan kekerasan pada Rain.
"Emang dia berubah kenapa sih?" tanya Joe
"Dia jadi sering murung, ngunci diri di kamar, truss sering ada bekas lebam-lebam kaya abis di pukulin gitu"
"Truss loe curiga gue yang ngelakuin itu ke dia? ya gak mungkin lah"
"Bukan gitu Joe, gue cuma mau mastiin aja"
Aku benar-benar bingung, apa yang sudah dilakukan saudara tiriku ini sampai dia harus menerima akibatnya. Aaaah aku berharap dia bisa mendapatkan pacar yang lebih baik dari Joe, tapi kelihatannya ini malah sebaliknya.