
*****
Telapak tangan Jasen menutupi pandangan Sun. Dia berusaha agar wanita yang berdiri disampingnya itu tidak dapat melihat apa yang tengah terjadi dihadapannya saat ini. Tapi air matanya tetap tumpah. Sakit hatinya tak bisa ia bohongi lagi.
Memang tidak ada yang tau isi hati Joe saat ini. Raganya bersama dengan istri barunya, tapi hati dan pikirannya masih menempel pada Sun. Tapi itu tidak menjadi alasan untuk membuat Sun tetap tegar. Melihat orang yang pernah, bahkan sampai saat ini masih dicintainya berdansa dengan wanita lain, Rain.
Sun berlari keluar gedung tempat resepsi pernikahan itu di gelar. Sambil terus berurai air mata dia duduk menyendiri di halaman sekitar gedung.
Sebuah tangan memegang bahunya. Berusaha memberikan sedikit ketenangan.
"Nih ... "
Pria itu menyodorkan sapu tangan kotak-kotak berwarna putih. Wajahnya terlihat dingin, tapi apa yang ia lakukan barusan, tidak bisa membohongi rasa simpatinya pada gadis yang baru ia kenal itu.
"Gue gak ngerti yang **** disini siapa?" ucapnya memulai pembicaraan.
"Loe nangis-nangis seakan-akan loe yang jadi korban disini, hey ... kalo loe cinta dan gak sanggup ngerelain dia, kenapa loe sok jadi pahlawan dengan nyuruh pacar loe yang gak seberapa ganteng itu nikahin sodara loe?"
Kebiasaan Jasen mulai keluar lagi. Mengomel dan mengomentari urusan orang lain. Tapi Sun, tetap diam sambil sesenggukan menahan isak tangisnya.
"Ini cuma berlaku setahun, gak lebih ... cuma sampe anak itu lahir," Sun terlihat membela diri.
Jasen terkekeh konyol. Memperlihatkan gisul manisnya.
"Loe tau laki-laki? dia itu diciptakan dengan jati diri. Loe yakin pacar loe yang udah mantan itu gak bakal kepincut sama sodara loe?"
"Setidaknya dia sudah janji," lagi-lagi jawaban Sun terdengar sangat membela kekasihnya.
"Oke ... gue gak mau ikut campur lebih dalam lagi. Tapi ngomong-ngomong nyokap tiri loe cantik juga, baik lagi, kayanya dia setuju tuh kalo kita jadian."
Gurauan Jasen terdengar konyol di telinga Sun. Sun tidak terlalu menanggapi itu.
Tiba-tiba terlihat Joe mendekati Sun. Dia berjalan setengah berlari.
"Joe??" kata Sun terkejut.
"Maafin gue Sun, gue gak maksud buat loe sedih," Joe meraih tangan Sun sebagai tanda permintaan maaf.
"Weei ... baru kali ini gue liat ada mempelai laki-laki yang kabur dari pelaminan dan menghampiri mantan pacar? kalo gue post di sosmed viral kali ya? anak pengusaha lagi," ledek Jasen.
"Loe siapa sih? loe itu cuma orang baru yang gak tau apa-apa tentang hidup kita." Joe membela diri.
"Majikan ... tepatnya majikan baru," jawab Jasen dengan gayanya yang sok cool.
"Apa??? jadi loe kerja sama dia Sun? enggak gue gak rela loe kerja sama artis gak laku kaya dia," Joe mulai emosi dengan tingkah Jasen.
"Joe cukup. Gue tau loe masih sayang sama gue, tapi sekarang loe suaminya Rain, gue mohon setidaknya selama pernikahan kalian berlangsung, bertingkahlah selayaknya suami yang baik."
Sun mulai geram, dia meraih tangan Jesen dan menyeretnya pergi.
"Ayo kita pulang!!" pinta Sun.
"Pulang? loe ngomong udah kaya loe aja majikannya disini," gerutu Jasen.
*****
Sun membanting diri ke ranjang tidurnya. Meluahkan segala sesak di dadanya.
"Ati-ati dong, kasur mahal tuh!!" celoteh Jasen.
Sun tidak menghiraukannya, dia kembali menangis diatas bantalnya.
"Ya elaaah nangis lagi, gue heran dimana letak istimewanya sih cowok itu? atau cewek emang lebay ya kalo udah masalah cinta?"
Jasen terus saja mengomel seperti ibu kontrakan yang menagih uang sewaan. Dia berceloteh sambil mengganti pakaiannya. Membuka bajunya dan memperlihatkan tubuh indahnya. Dada bidang dan perut kotak-kotak ideal para artis papan atas.
"Kenapa loe ngeliatin gue kaya gitu? gue jadi ngerasa kaya perawan yang mau di perkosa tau gak?"
Sun mendekati Jasen, tapi Jasen menghindar, berlari ke sudut ruangan sambil mengambil keripik agar tidak terlihat kalau dia sedang salah tingkah. Sun kembali mendekatinya dan Jasen menghindar lagi.
"Loe kenapa sih?" tanya Jasen bingung.
Sun tidak menjawab, dia terus saja mencari selah agar bisa berada dekat dengan Jasen.
"Oke stop ... loe mau apa? jangan bikin gue ilfil," teriak Jasen.
Sun tidak menjawab, dia hanya merebahkan kepalanya di pundak Jasen dan lalu memejamkan matanya.
Jasen menarik nafas panjang. Dia seperti telah lolos dari sesuatu yang mencekam.
"Kalo loe mau pinjam bahu buat sandar bilang dong, jangan kaya anak ayam ikut induknya terus. Nih gue kasih bonus pelukan, gratis buat loe yang lagi galau dan selama ini udah beresin apartement gue."
Jasen mendekap Sun. Dalam kehangatan Sun terlelap. Tanpa hubungan asmara dan jalinan cinta, mereka berdua bisa terlihat begitu nyaman dan akur. Hingga mereka berdua tak sadar tertidur di sofa depan tv.
*****
"Hay, liat Joe gak?" seorang wanita yang masih memakai gaun pengantin terlihat bingung. Dia kesana kemari mencari suaminya.
Tapi setiap orang yang ditemuinya tak ada yang melihat keberadaan lelaki yang ia cari.
"Ma, lihat Joe gak?" tanya nya kembali pada nyonya Jenny yang kini resmi menjadi mama mertuanya.
"Enggak tuh, aneh si Joe itu, acara baru aja selesai tapi udah main ilang ilang gitu aja, nanti mama bantu cari ya, mama mau bantuin beresin dapur dulu." Nyonya Jenny menyelinap pergi.
Wajah Rain terlihat kesal. Berulang kali dia menelphone Joe tapi tak ada jawaban. Yang dia takutkan, kalau saja suaminya itu pergi bersama Sun.
Rain membuka pintu kamar pengantinnya. Dan mendapati Joe berada disana. Duduk di tepi ranjang yang berhias bunga-bunga mawar khas pesta pernikahan.
Rain tersenyum, melihat yang ia cari-cari akhirnya ketemu. Seperti mendapati berlian yang hilang.
"Sayang, kamu disini? aku cari kamu kemana-mana loh," sapanya sambil tersenyum.
Tapi ia terkejut saat melihat raut wajah Joe yang begitu kumal dan usang. Wajahnya terlihat lesu dan tercium aroma alcohol yang menyengat dari mulutnya.
"Kamu mabuk?" tanya Rain.
Joe tidak menjawab. Dia hanya menyodorkan selembaran kertas.
"Apaan nih?" tanya Rain tak mengerti.
Rain mengambil kertas itu dan membacanya. Berisikan surat perjanjian pernikahan yang mencantumkan bahwa pernikahan mereka hanya akan terjadi selama setahun saja. Setelah satu tahun keduanya harus bercerai dan kembali menjalani kehidupan masing-masing.
"Tanda tangan!!" pinta Joe sambil memberikan sebuah polpen.
Rain diam terpaku disana. Dia masih tidak percaya Joe serius soal kontrak pernikahan ini. Tadinya dia pikir Joe tidak akan secepat itu memutuskan kapan mereka harus berpisah. Bahkan ijab Qobul baru saja dia ucapkan tadi pagi dan malam nya dia menyuruh Rain menandatangani kontrak pernikahan.
"Gak secepat ini Joe?"
"Kenapa? loe pikir gue nikahin loe karna gue sayang sama loe? semakin kesini gue semakin yakin, perempuan licik kaya loe gak pantes dapet apa-apa selain rasa iba."
Ucapan Joe begitu menyayat hatinya. Memang sikapnya terlalu egois terhadap Sun. Tapi bukan berarti dia pantas menerima perkataan kasar seperti itu.
Rain mengambil polpen dan menandatangani surat perjanjian itu.
Tunggu aja loe Joe gue bakal lakuin apapun agar loe gak akan ceraikan gue
pikiran Rain mulai licik. Dia seperti mencari posisi aman. Mungkin kali ini dia terlihat menyetujui perjanjian itu tapi siapa yang tau apa yang akan ia lakukan nanti. Seorang ibu akan sensitif untuk kebahagiaan anaknya. Termasuk menjadi egois dan jahat.