SUN

SUN
BAB 30


*****


Seorang lelaki beruban keluar dari sel tahanan. Menemui istrinya yang duduk di ruang tunggu, dengan harapan membawa kabar baik atas kebebasannya. Tapi naas, tamparan melayang di pipinya dua kali. Wanita yang tidak lain adalah Melinda, terlihat sangat geram.


"********!!! beraninya kamu meniduri anak-anakku. Dasar otak mesum, cuuuiih," Melinda meludahi wajah suami bejatnya itu.


Lelaki tua itu hanya diam. Meratapi nasibnya yang kini telah tertangkap basah.


"Sekali busuk tetap busuk," timpalnya lagi.


"Mel, aku bisa menjelaskan, ini salah paham."


"Salah paham dari mana? Rain sampai mengandung anakmu masih kamu bilang salah paham? aku gak terima ini, aku akan tuntut kamu dan menjamin kamu membusuk di penjara."


Melinda pergi dengan penuh amarah. Sepanjang jalan ia terus menangisi kebodohannya mempercayai laki-laki munafik itu. Laki-laki yang ia cintai tapi malah membuat masa depan anak-anaknya hancur. Di tambah lagi, kali ini ia harus kehilangan Sun, hanya karna membela laki-laki busuk itu.


*****


Masih di apartement milik Jasen. Sun terlihat sibuk merapikan ruangan yang tidak terlalu luas tapi penuh dengan interior mewah itu. Menyapu, mengepel dan membereskan beberapa pakaian kotor milik Jasen.


Sampai ia merasa lapar dan memutuskan untuk membuka kulkas. Mencari sesuatu yang kiranya bisa ia makan.


Tak ada apapun disana selain mie instan, dan beberapa makanan instan lainnya.


"Jadi yang dia bilang makanan itu ini?" gerutunya.


"Heeem mana aku gak punya uang lagi buat beli makanan," lanjutnya.


Sun membuka tas kecilnya, barangkali ada uang yang terselip disana. Sun terkejut saat mendapati sebuah amplop bertuliskan,


Mbak, baik-baik ya di luar sana, semoga ini bisa membantu. Dari bi Nur.


Dan saat Sun membuka isi amplop itu, ada sejumlah uang disana kurang lebih satu jutaan. Sun benar-benar bersyukur masih ada yang peduli padanya.


Sun juga baru sadar bahwa ponselnya sudah lama mati karna kehabisan batrei.


"Joe pasti khawatir," gumamnya.


Sun mengecas ponselnya. Dan menghidupkannya. Ada banyak chat masuk, kebanyakan semua dari Joe, meskipun ada juga beberapa dari Rain dan bi Nur. Tapi Sun tidak berniat membalasnya. Hingga panggilan dari nomor Joe kembali masuk. Sun ragu apakah harus mengangkatnya atau tidak. Dia tidak tau harus bilang apa tentang kondisi nya saat ini.


"Ini akan mempersulit keadaan," pikirnya.


Kemudian ia memutuskan untuk memesan beberapa makanan siap antar saja. Kebetulan dia sedang lapar. Tidak butuh waktu lama, pak kurir pun datang.


"Go food."


"Yaaaaa," sahut Sun.


Sun menerima beberapa mangkuk sup hangat lengkap dengan ayam bakar yang lezat.


"Makasih pak," ucap Sun setelah menerima makanan yang ia pesan.


Buru-buru Sun menyiapkan makanan porsi besar itu di atas meja makan. Tadinya dia mau memakannya sendiri. Tapi kemudian ada suara orang yang membuka kode pasword pintu.


"Pasti itu si cowok resek, ganggu aja sih," gumamnya.


Benar saja. Jasen datang dengan wajah lelah. Tapi kemudian wajahnya berubah sumringah saat menyaksikan kamarnya yang begitu rapi, di tambah makan malam yang sudah tersedia di meja.


"Waaaah enak nih," Jasen langsung mengambil tempat dan menyendok nasi ke piring.


Sun juga ikut makan tanpa berkata apapun.


"Waaah loe jago masak juga yah," puji Jasen.


Sun hanya meringis sambil melirik bekas mangkok siap antar yang sudah tergeletak di tong sampah.


"Waaah kalo gini, loe jadi asisten gue aja, ternyata begini rasanya kalo punya pasangan, pulang kerja rumah rapi ada yang masakin lagi."


"Apa loe bilang?" bentak Sun.


"Eeeeh enggak ini enak, ini juga enak," Jasen mengambil ayam bakar.


"Eh ngomong-ngomong, loe bakar ayamnya dimana ya?" tanya Jasen mulai curiga.


"Eeeem di.... Di teplon iya teplon," jawab Sun ngasal.


"Ooow gitu," Jasen hanya mengiyakan jawaban yang keluar dari mulut Sun. Sepertinya dia lupa kalau dia tidak punya teplon.


Setelah usai makan malam, Sun membereskan semuanya. Sedangkan Jasen membersihkan badannya di kamar mandi.


Ponsel Sun kembali berdering.


Plisss angkat Sun.


Sebuah chat masuk. Sun hanya memandangi ponselnya tanpa memperdulikannya.


"Kenapa gak diangkat?"


Suara Jasen mengagetkan Sun.


"Aaah enggak, bukan orang penting."


"Mungkin dia gak penting buat loe, tapi bagi dia, loe pasti sangat penting, makanya dia nelpon mulu."


Sun hanya diam. Dia mulai berpikir apa yang dikatakan Jasen ada benarnya. Apa salahnya mengangkat telpon dari Joe.


"Halo," sapa Sun pada Joe dari ponselnya.


"Sun, akhirnya loe angkat juga telpon gue, loe kemana aja? loe baik-baik aja kan?"


"Gue baik kok, loe gak usah khawatir," Sun menjawab pertanyaan Joe sambil tiada henti melirik ke arah Jasen yang duduk di sofa.


"Loe dimana sekarang? biar gue jemput ya, loe bisa tinggal di apartement gue."


"Gak usah Joe, untuk sekarang loe fokus aja sama pernikahan loe dan Rain, gue bisa urus diri gue sendiri kok."


Sun menutup sambungan telponnya. Mengotak-atik chat yang masuk dan membaca berita di sosial medianya.


Ada articel yang memberitakan pernikahan anak pemilik perusahaan besar yang dipegang Tuan Adhi alias ayah Joe, akan segera dilaksanakan.


"Aaaah ternyata seminggu lagi, gak terasa," gumamnya.


"Jadi itu tadi pacar loe?" tanya Jasen.


"Sudah bukan."


"Terus mantan pacar yang gak bisa move on gitu?" lanjut Jasen.


"Bukan juga."


"Terusss apa?"


"Udah gue ngantuk."


Sun terlihat tidak mau menjelaskan apapun pada Jasen. Dia memilih menarik selimut dan tidur, atau pura-pura tidur di atas ranjangnya.



Jasen Arjun, seorang Penyanyi terkenal yang banyak di idolakan kaum hawa. Sok ganteng, sok tajir tapi emang bener. Suka bawal dan ngomel kaya cewe tapi sweet banget.