
Mama sudah lama menunggu ketika aku tiba di rumah. Wajahnya terlihat gelisah namun tetap berusaha ia tutupi dengan senyum tipis. Dia duduk di sofa ruang tamu sambil terus mengotak-atik kuku jarinya dengan jari yang lain di tangan yang sama. Itu kebiasaan mama, dari dulu jika dia merasa gelisah atau ada hal yang mengganggu pikirannya, dia selalu mengotak-atik kuku jarinya. Bahkan di suatu kesempatan aku pernah melihat kukunya sampai terkoyak berdarah karna terlalu keras mama mengotak-atiknya.
Aku melangkah menuju ruang tamu dan mengambil posisi duduk di hadapan mama. Mama terlihat belum mau bicara apa-apa denganku. Dia hanya coba tersenyum agar tidak mengecewakan keberadaanku. Ku tatap bi Nur yang berdiri di samping sofa dengan kemonceng bulu ayam di tangannya. Matanya berulang kali melirik ke mama seolah memberi isyarat bahwa telah terjadi sesuatu.
Tidak lama terdengar kembali suara pintu ruang tamu terbuka. Diiringi cekikiran ringan dan obrolan. Jelas sekali yang datang bukan hanya satu orang. Dan benar saja, Rain sampai bersama papa. Wajah mereka datar seperti tidak ada apa-apa.
"Ma...?" sapa Rain.
"Duduk sini!!" pinta mama
"Aku ganti baju dulu ya"
"Mama bilang duduk sini!!" suara mama meninggi.
"Sayang ada apa sih?" papa menyahut
"Aku gak ngomong sama kamu" jawab mama ketus
Raut wajah keduanya langsung berubah. Melihat sikap mama yang sedari awal terlihat kesal, papa memutuskan tidak ikut campur.
"Aku ke kamar dulu, mau mandi" ucap papa sembari melangkah menuju kamar.
Rain mengambil tempat di sampingku. Menatapku penuh tanya. Aku hanya diam tidak tau harus bicara apa.
"Mama kenapa?" tanya Rain
"Pertanyaan bagus, kalo mama yang nanya balik, kamu kenapa? kamu mau jawab apa?"
Rain tersenyum bingung. Dia melirik ke arahku, dan aku hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa kamar kamu berantakan banget, bau makanan dimana mana?"
"Oooh iya belakangan ini Rin banyak tugas jadi gak sempet beresin kamar" jawab Rain beralasan.
"Oke, terus kamu masih berhubungan sama pacar kamu? siapa namanya? Jojoe?" tanya mama kembali.
"Eeem masih ma"
Aku sedikit terkejut dengan jawaban Rain. Jelas sekali dia berbohong. Mengangkat telphon dari Joe pun Rain sudah tidak pernah lagi.
"Bener? atau kamu sudah punya pacar baru?"
"Mama kenapa sih nanyain pacar Rin?"
"Rin, kamu jangan seperti ngomong sama orang bodoh dong. Ini mama kamu yang ngelahirin kamu yang ngebesarin kamu, mama tau banget kalo ada yang salah sama kamu. Mama cuma berusaha diam dan coba kasih kamu ruang buat lebih dewasa dan selesaiin masalah kamu, tapi kamu? kelewat batas" Mama mulai emosi matanya mulai berkaca-kaca.
Rain makin terlihat panik dan takut. Dia tidak berani menatap wajah mama.
"Okeh, kita to the point aja"
Mama menyodorkan hasil testpack yang sedikit bengkok ke hadapan Rain.
"Ini punya kamu kan?"
Aku terkejut, ternyata benar dugaan ku, Rain benar-benar hamil. Tapi dengan siapa?
"Bukan ma, gak mungkin Rin hamil"
"Jangan bohong!!" mama langsung berdiri karna tidak lagi bisa menahan marahnya.
"Jawab yang jujur Rin!! ini belum terlambat"
Rain hanya diam, dia menangis entah karena takut atau karena merasa bersalah. Ku lihat kaki nya bergetar, wajahnya tertunduk.
"Siapa Rin siapa? jawab mama!!"
"Rin jawab mama, siapa yang sudah menghamilimu?"
Papa keluar dari kamarnya karena mendengar suara mama yang keras.
"Ada apa sih ma?" tanya nya seperti tidak tahu apa-apa
Rain melirik ke arah papa. Wajah papa terlihat panik. Aku bisa jelas melihat kegelisahan dimata mereka berdua.
"Udah ma, udah ayok kita ke kamar tenangin pikiran mama" papa memeluk bahu mama dan berusaha menariknya menuju kamar. Tapi mama menghempasnya.
"Kamu mendingan diam ini urusan ku sama anak gak tau diri ini"
Mama menarik Rain, menyeretnya ke depan pintu rumah. Aku mengikuti mereka.
"Ma, udah ma jangan kaya gini" ucapku menahan mama
"Kamu masih gak mau jawab? keluar kamu dari rumah ini, jangan kembali"
"Jojoe ma Jojoe" nama Joe keluar dari mulut Rain sambil diiringi suara tangisannya yang meledak.
Aku menggeleng tak percaya, bagaimana bisa Rain mengucapkan nama Joe padahal jelas bukan dia yang melakukan.
Rain berlutut di lantai memeluk kaki mama sambil terus menangis.
"Ma, maafin Rin ma, jangan usir Rin, Rin cuma gak bisa nolak Jojoe, Rin cinta sama dia ma"
"Rain, lo jangan bohong, bukan Jojoe kan yang hamilin loe? kenapa loe gak jujur aja kalo loe punya pacar baru" ucapanku tak terkendali, aku tidak bisa terima Rain menuduh Jojoe seperti itu.
"Loe tau apa? loe terlalu naif Sun, loe terlalu percaya sama Jojoe, kalo dia bisa tidurin loe, kenapa dia gak bisa tidurin gue"
Aku seperti di sambar petir mendengar ucapan Rain. Benar, kenapa aku begitu mempercayai Joe, siapa yang bisa menjamin dia tidak melakukan itu pada Rain.
Mama menatapku, dan tanpa bisa ku halau, mama menamparku.
"Kamu juga sama aja, kenapa kamu bisa lakukan itu sama pacar Rin?"
Aku hanya diam sambil memegangi pipiku yang sakit karena tamparan mama barusan.
Mama mendorong Rain yang masih berlutut dikakinya. Dia mendorong keras sampai Rain tersungkur menghantam pintu. Aku spontan berlari menolongnya.
"Ma, jangan kaya gini, Rain kan lagi hamil" ucapku
"Biar aja, biar aja dia mati!!! anak yang aku sayang aku perjuangkan sendiri tapi malah ngecewain aja" ucapnya dengan murka.
Mama meninggalkan kami menuju kamarnya. Aku dan bi Nur menolong Rain untuk berdiri dan menggiringnya duduk di sofa. Papa masih saja berdiri disana tanpa melakukan apapun. Aku yakin sekali pria itu yang sebenarnya menghamili Rain. Bukan Jojoe. Tapi aku tidak bisa bicara apa-apa karena aku tidak punya bukti.
"Loe gak papa Rain?" tanyaku
"Gak papa kok"
"Bibi buatin teh anget ya mbak" bi Nur menuju dapur.
Aku melihat papa pergi menyusul mama. Ini kesempatanku menanyakan yang sebenarnya pada Rain.
"Rain jujur sama gue, bukan Joe kan lakuin ini ke elo? kalian udah gak pernah berhubungan kan? udah 2 bulan"
"Siapa yang bilang? Jojoe? terus kamu percaya?"
Aku diam, Aku melihat kesungguhan dimata Rain, aku mulai berpikir sepertinya Rain tidak mungkin berbohong.
"Joe itu gak seperti yang loe pikir, Sun!! dia yang udah hamilin gue"
Aku tidak tau harus percaya pada siapa. Di satu sisi Jojoe adalah orang yang aku sayangi, tidak mungkin rasanya dia menghianatiku. Mengingat selama ini dia menunjukkan betapa dia menyayangiku. Tapi disisi lain Rain adalah saudaraku. Yang selalu menyayangiku dan membelaku. Rasanya pun tidak mungkin dia membohongiku.