
Sudah pukul 23.00 malam. Toko sudah ku tutup dan lampu sudah ku matikan. Tapi aku masih berada di dalam nya. Duduk termenung memikirkan hubunganku dan Joe, bagaimana harus berakhir? meskipun Rain berjanji akan bercerai setelah bayinya lahir. Tapi, pernikahan bukanlah sebuah permainan. Tidak seharusnya mereka begitu saja berpisah hanya karena ada aku diantara mereka. Apalagi setelah bayi itu lahir, dari sanalah awalnya peran seorang ayah di mulai.
Aaaah, aku menarik nafas panjang berharap sesak di dadaku bisa melonggar. Sampai saat aku melihat dari jendela kaca toko, Joe turun dari mobilnya. Ku lirik jam dinding sekali lagi. Sudah tengah malam pikirku. Tapi, apa yang membawa Joe kemari?
Sorot lampu luar toko yang menyala membuat pemandangan luar jelas terlihat dari dalam toko yang gelap. Aku bisa melihat jelas saat Joe berulang kali mencoba membuka pintu toko yang sudah ku kunci sedari tadi. Dia seperti tahu bahwa aku masih di dalam. Dia terus saja menggedor sambil berteriak. Aku tidak jelas mendengar apa yang dia ucapkan.
Ponselku berdering. Panggilan Joe masuk. Aku sengaja tidak mengangkatnya, aku mulai merasa harus menjaga jarak dengannya agar tidak terlalu menyakitkan jika Joe benar-benar harus menikahi Rain.
"kliiing"
Sebuah pesan masuk.
"Sun, gue tau loe di dalam, plis buka"
Entah karena perasaan apa akhirnya aku membukakan pintu untuk Joe.
"Kenapa loe gak langsung buka?" tanyanya saat aku membuka pintu.
Aku kembali menutup pintu dan berjalan kembali ketempat asalku.
"Kenapa loe kesini? ini kan udah tengah malam?"
"Jelasin ke gue, beneran loe yang nyuruh Rain buat nuduh gue yang hamilin dia, Sun... Loe tau kan bukan gue, bukan gue!!!"
Aku sangat terkejut, drama apa lagi yang dibuat Rain? aku bahkan tidak pernah menyuruhnya melakukan itu.
"Sun, loe gak sayang sama gue? ato gimana sih? loe jadiin gue kambing hitam untuk sesuatu yang gue gak lakuin?"
Aku melihat kemarahan di mata Joe. Matanya memerah karena emosinya memuncak. Tapi aku tetap bungkam, Memikirkan apa yang harus aku katakan.
"Aaaaach" Joe mengamuk. Dia menghempaskan pukulan ke dinding.
Aku benar-benar melihat sisi lain Joe malam ini. Aku pejam kan mataku karena takut.
"Ini jalan satu-satunya" ucapku lirih
"Apa maksud loe? jelasin ke gue"
"Joe, bokap tiri gue yang udah hamilin Rain loe tau? dan mama pasti bakal hancur kalo sampe dia tau laki-laki yang dia nikahin malah jadi orang yang hancurin masa depan anaknya"
Joe diam. Berusaha kembali tenang.
"Plis Joe, setidak demi bayi itu. Cuma sampe bayi itu lahir. Rain janji gak akan ganggu hubungan kita lagi"
"Maksud loe setelah bayi itu lahir gue bisa cerai sama Rain?"
Dengan berat aku mengangguk. Sejatinya hatiku tidak terima. Aku seperti di permainkan dalan kondisi ini.
Aku menatapi punggung nya nanar. Rasanya juga sakit melihat seseorang yang sangat kita cintai harus diminta menikahi saudara sendiri, untuk menutupi kesalahan orang lain. Aku benar-benar tidak bisa menahannya. Aku berlari memeluk Joe. Ku dekap erat tubuhnya dari belakang. Membuat langkah Joe spontan terhenti.
Sambil menangis aku berkata
"Loe pikir gue gak sakit? gue juga sakit Joe, bahkan lebih sakit gue karna posisi gue lebih kejepit."
Joe membalikkan badannya. Menatap mataku yang sudah basah karena air mata.
"Plis Joe, bantu gue... Kalo loe sayang sama gue, plis gue mohon nikahi Rain"
Joe memegangi kedua pipiku, menatapi mataku. Entah tatapan macam apa itu. Tapi kemudian Joe mencium ku, mengecup lembut bibirku tanpa bisa ku halau. Hanya satu yang ku pikir. Barang kali ini yang terakhir, yang bisa kuberikan pada Joe agar dia mau berubah pikiran.
Joe mendorongku sampai punggungku menabrak meja santai di sudut ruangan toko. Dia terus menciumku sambil memeluk pinggangku. Kali ini dia semakin liar, akupun mulai menikmatinya. Ku buka satu persatu kancing kemeja Joe. Meraba tubuh tanpa busananya yang hangat. Aku merasakan kenyamanan disana.
Malam itu menjadi kali kedua aku melakukan intim bersama Joe. Tapi kali ini aku ikut menikmatinya. Aku merasa ini akan menjadi hal terakhir yang bisa kita lakukan bersamanya. Yang aku tidak habis pikir kenapa harus di toko. Aku tertawa kecil, toko ini ikut menyaksikan perbuatan bejat atas nama cinta kita.
*****
Joe mengantarku pulang. Sudah pukul 01.30 saat aku tiba di depan rumah. Sebelum keluar aku memegangi tangan Joe. Dia tersenyum padaku. Meskipun ada luka di senyum itu.
"Loe udah yakin? bakal nerima ini semua?" tanyaku sekali lagi.
Joe mengangguk.
"Cuma demi loe, gue bakal nikahin Rain cuma demi loe, bukan karna Rain ataupun bayi itu" jawabnya sambil mencium tanganku mesra.
Aku keluar mobil. Menunggu di samping pintunya sampai dia pergi. Joe pergi sambil melambai tangan, aku pun membalasnya.
Saat aku membuka pintu rumah. Ku dapati Rain menunggu ku disana. Sepertinya dia belum tidur. Berdiri tepat di muka pintu sambil menatapku datar.
"Loe belum tidur?" tanyaku basa-basi.
"Loe kok baru pulang sih jam segini?" Rain balik bertanya.
"Gue ngobrol dulu tadi ama Joe tentang loe."
"Truss Joe mau kan nikahin gue?"
"Iya dia mau, setidaknya sampai bayi loe lahir"
Rain tersenyum girang.
"Thanks ya Sun, loe bisa diandalin" ucapnya
Aku hanya tersenyum. Melihat Rain bisa senyum lagi, aku ikut bahagia rasanya. Akhirnya aku bisa membantu mengurangi beban nya.