SUN

SUN
Bab 19


Pukul 12.15 saat mama Melinda sampai dirumah. Dia masuk rumah sambil menyeret koper kecilnya. Mama Melinda tadinya tidak mau menginap di bandung. Tapi karna hujan deras dan juga ada tambahan kerja akhirnya dia memutuskan bermalam di hotel yang sudah di sediakan kan kantor.


Hari ini kelihatannya dia agak cape. Dia berjalan ke arah kamarnya dengan lunglai. Merebahkan tubuhnya yang masih terlihat ideal di usianya yang sudah hampir kepala lima. Ya, usia mama Melinda memanglah terpaut jauh lebih tua dari pada papa Farid yang masih kepala empat. Tapi wajah cantik mama Melinda, tubuh langsing dan juga karir yang mapan membuat papa Farid memilih mama sebagai istrinya.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Setengah sadar dia mengangkat telphone itu tanpa memperhatikan nama nya.


"Ma...!!" suara Sun terdengar menyapa dari kejauhan


"Ya... kenapa Sun?"


"Mama udah pulang?"


"Udah, baru aja mama sampe, kenapa?"


"Ma... Aku mau ngomong sama mama, aku bilang ini ke mama bukan karna aku benci atau iri sama Rain, tapi karna aku saudaranya makanya aku gak mau terjadi sesuatu sama dia"


"Apa sih, Sun? kamu bikin mama takut deh"


"Ma, aku ngerasa Rain hamil, dan aku ngerasa pelakunya adalah papa Farid"


"Sun!!! kamu nih ngomong apa sih, papa Farid itu suami mama loh, papa kamu papa Rain juga"


"Justru itu ma, aku gak mau Rain makin jauh makanya aku ngomong ini sama mama, aku udah berkali-kali tanya langsung sama Rain, tapi mama tau sendiri dia kaya apa?"


Wajah mama Melinda terlihat panik. Dia menutup sambungan ponselnya. Matanya melirik ke arah jam dinding. Masih siang, pikirnya. Dia merasa punya kesempatan untuk mencari tau kebenarannya dengan menggeledah kamar Rain. Barang kali ada sesuatu yang bisa jadi bukti tentang hubungan Ayah dan Anak tiri ini.


Langkahnya terdengar terburu-buru menaiki anak tangga. Sambil berteriak-teriak memanggil nama asisten rumahnya.


"Bi...Bi..."


Bi Nur terlihat panik mendengar panggilan majikannya itu.


"Ada apa to nyah" sahut bi Nur dari lantai bawah, suaranya terdengar sedikit teriak.


"Sini bi, bantu aku" jawab mama Melinda dari lantai atas.


Mama Melinda memasuki kamar Rain. Terlihat sangat berantakan dan tercium bau makanan yang menyengat.


"Ya ampuun ini kamar cewek apa kandang ayam sih" keluh mama


Bi Nur terlihat menyusul di belakang dan juga ikut kaget melihat kondisi kamar anak majikannya.


"Ya ampun nyah, kamar mbak Rain kok berantakan banget?"


"Kok kamu tanya aku? ini kan harusnya tugas kamu"


"Maaf nyah sudah 2 bulan ini mbak Rain gak mau kalo kamarnya di beresin. Pokoknya gak boleh sama sekali ada yang masuk ke kamarnya nyah, terus itu setiap malam banyak banget maunya, yang minta rujak lah yang minta es buah lah, anehnya pasti malam nyah, saya kan jadi bingung mau cari dimana" keluh bi Nur.


Mama Melinda mengerutkan dahinya. Dia mulai berpikir omongan Sun mungkin ada benarnya.


"Bantu aku cari sesuatu atau apa pun barang yang mencurigakan ya bi, kamu kan pasti tau barang-barang Rain, kalo kamu dapet barang yang kira-kira bukan punya Rain kasih tau aku ya"


"Oh iya nyah"


Hampir satu jam mereka mengobrak-abrik kamar Rain dan tidak menemukan apapun. Mama mulai berpikir bahwa apa yang di sampaikan Sun hanyalah omong kosong.


"Ya udah bi, beresin semua, gak ada apa-apa" ucap mama Melinda mulai menyerah sambil keluar kamar.


"Iya nyah, saya juga mau buang sampah di kamar mandinya mbak Rain, tadi dia pesan suruh buang sampah yang di kamar mandi"


Langkah mama Melinda kemudian terhenti. Kenapa dia tidak berpikir sapa tau Rain sudah membuangnya di tong sampah kamar mandi?


Wanita dengan kemeja putih itu menuju kamar mandi Rain.


"Biar aku aja bi" ucap nya


Bi Nur yang mulai sibuk membersihkan tisu-tisu yang berserakan di lantainpun menghentikan pekerjaannya. Mama melinda yang mengambil alih. Dia bongkar tong sampah yang penuh dengan sampah tisu dan beberapa bekas peralatan mandi yang sudah habis. Mama coba mengorek dan mencari sesuatu disana. Alhasil dia dapati sebatang hasil testpack yang sudah bengkok karna seseorang mencoba menghancurkannya.


Dan terkejutnya dia saat melihat hasil testpack itu menunjukkan 2 garis merah alias positif. Ini artinya Rain benar-benar hamil. Tapi entah dengan siapa.


Tubuh mama melinda terkulai lemah ke lantai. Matanya berkaca-kaca, pikirannya kacau, hatinya hancur. Sambil bergetar tangan kanannya terus memegangi batang testpack itu. Sedangkan tangan satu nya memegangi dadanya. Berusaha menahan sesak yang menumpuk disana.


Bi Nur yang masih bingung dengan apa yang terjadi pada nyonya rumahnya ini hanya mengelus pundak mama Melinda, mengusap-usap nya berusaha menenang kan hati majikannya yang dia sendiri juga tidak tau kenapa.


"Udah nyah, nyonyah cape, istirahat dulu aja" ucap ni Nur


Mama melinda mengangguk dan berjalan lemah keluar kamar Rain. Bi Nur menuntunnya sampai ke kamar lantai bawah.


"Saya tinggal ya nyah, saya beresin kamar mbak Rain dulu"


Bi Nur keluar kamar dan menutup pintunya. Air mata mama Melinda akhirnya tumpah juga. Sambil memandangi hasil Testpack itu dia terus menangis. Apa iya pelakunya adalah suaminya sendiri? itu yang paling dia takutkan. mama Melinda merasa harus mendengar langsung dari mulut Rain dan suaminya juga.


Dia mengambil ponsel dan menghubungi Rain. Berulang kali tapi tidak ada jawaban. Dia coba menghubungi suaminya, tapi hasilnya pun sama. Hingga entah pada panggilan keberapa akhirnya Rain mengangkat telphonenya.


"Rain kamu dimana?" suara mama Melinda terdengar datar, dia tidak mau seolah-olah telah terjadi sesuatu.


"Rain di kampus ma" jawab Rain


"Di kampus kok sepi banget gak ada suara sama sekali?" tanya mama Melinda curiga.


"Eeeeh ini Rain lagi eeem lagi di toilet mah makanya sepi" jawab Rain terbata-bata, jawabannya terkesan mengada-ada.


"Cepet pulang ya!! mama mau ngomong sesuatu"


"Ow ya??? tentang apa?"


"Masa depan kamu" jawab mama Melinda singkat


******


Rain mematikan ponselnya. Matanya nanar menatapi layar ponsel. Dia memikirkan perkataan mamanya barusan. Apa sebenarnya yang ingin di bicarakan mama? tentang masa depan? heh, bibir Rain melebar, dia tersenyum bingung pada dirinya sendiri.


Hingga seseorang mengelus punggungnya yang sudah telanjang sejak tadi. Hanya bertutup kan selimut putih tanpa busana.


Ya, Rain berbohong pada mamanya. Dia tidak sedang di kampus, melainkan di atas ranjang hotel mewah yang nyaman bersama laki-laki yang telah menidurinya. Laki-laki, ayah dari bayi yang tengah di kandungnya.