SUN

SUN
Bab 10


*****


"Tok tok tok"


Suara ketukan jendela kamarku. Aku tau itu pasti Jojoe. Suara ketukan yang sudah 3 bulan ini selalu menghampiri kamarku. Ya, huhungan backstreet ku dan Jojoe sudah berjalan 3 bulan. Mulus tanpa ada kecurigaan dari pacar aslinya, Rain. Yang tidak lain adalah saudaraku sendiri. Mama dan Bi Nur juga sering kali memergokiku mengendap pergi di jam-jam ronda. Tapi mereka seperti membiarkan saja. Sudah terlihat biasa, bahkan sedikit aneh kalau aku mangkir dari mengendap malam.


Mama tidak lagi menaruh dendam apa-apa. Ia terlihat bisa menyayangi dan menerima semua ulah dan kenakalanku, termasuk yang ini, ngedate sama Jojoe. Ia seperti angkat tangan dan merasa sudah waktunya berbuat adil. Atau lebih tepatnya bosan pilih kasih dan mencampuri kehidupan asmara kami yang sudah memasuki usia mandiri.


"Mau kemana sih? gue cape tau!" keluh ku manja pada laki-laki berjaket abu-abu itu.


"Ssst ikut aja!!" pintanya


Aku keluar rumah dan menanti Jojo di depan pagar dengan jaket pink dan celana pendekku. Aku akui hubungan ku dengan nya sudah semakin jauh dan mendalam. Tapi itu juga belum berarti aku minta dia buru-buru melamarku seperti waktu itu, karna ada hati Rain yang senantiasa ku jaga. Akupun bingung akan dibawa kemana huhungan ku ini. Terus mengambang seperti ini atau akan berakhir.


"Haaaaaah..." aku menarik panjang nafas yang terasa sesak. Beban cinta ini terasa sangat berat.


"Ayoook!!"


Jojoe meraih tangan ku dan memasukkan ku di mobil merahnya. Melaju pelan dan nyaman entah kemana. Ku tatapi jam ungu yang melingkar di tangan kiriku. Pukul 22.00.


"Mau kemana kita Joe? ke angkringan lagi"


"Enggak!!!" jawabnya singkat dan tak menjelas kan apapun


Akupun tak ingin bertanya lagi karna lagi-lagi harus mendapat jawaban yang tak memuaskan.


Hingga sampailah kita di depan sebuah cafe berjudul Barbara Cafe. Dari luar ini terlihat biasa saja tapi saat kakiku memijak ke dalamnya. Tertegun, aku seperti mendapati sisi lain dari kehidupan Jojoe. Ada banyak perempuan berjoget dengan irama DJ di tengah-tengah panggung. Beberapa orang yang asyik meminum botolan alcohol. Dan beberapa lainnya sibuk main billiard. Perempuan-perempuan dengan pakaian sexi dan laki-laki yang terlihat asyik menikmati tubuh mereka. Terlihat seperti suatu hal yang sudah biasa terjadi.


Aku merasa sangat canggung dan ingin buru-buru pergi. Tapi Joe menahan ku.


"Mau kemana? kita kan baru sampai!" bisik nya


"Gue risih Joe, gue gak biasa ketempat begini"


"Udah nikmati ajah, santai gak akan ada yang berani macem-macem ama loe, ada gue disini oke" bujuknya.


Beberapa temen Jojoe kemudian menghampiri kami.


"Hai Joe!! diem aj disitu, ayok minum ni cewek loe?"


Seorang laki-laki dengan kaos hitam dan rambut pirang berusaha menyapa kami. Ia terlihat akrab dengan Jojoe. Kami pun mengikutinya, kami duduk di sebuah sofa yang sudah ada beberapa temen Jojoe disana menunggu. Aku menjadi sedikit ilfil dengan keadaan ini. Ternyata aku salah menilai Jojoe laki-laki yang seutuhnya baik. Dia ternyata suka juga bergaul dengan dunia malam.


"Loe mau ini gak?" jojoe menyodorkan ku segelas kecil minuman berwarna kehitaman.


"Gak ah" tolak ku


"Udah coba dulu, masak loe kesini mau duduk ajah, tenang gue yang tlaktir" seorang temen Jojoe menyahut.


Aku jadi merasa tidak enak. Akhirnya aku meminum segelas kecil bir itu tanpa melewati lidahku, langsung mengalir ke dalam tenggorokanku.


"yoooooooi" sorak temen Jojoe saat melihat ku meneguk habis bir itu.


"Lagi dooong!!" Teman cewek Jojoe yang memakai dress hitam selutut menuangkan lagi minuman di gelas ku yang kosong.


"Udah ah" bantah ku


Jojoe tersenyum


"Udaaaaah" balasnya kepada yang lain


"Kenalin gue Sisie" wanita tadi menyodorkan tangannya kehadapanku.


Aku menyalaminya sambil berkata malu-malu


"Sun..."


"Loe ceweknya Jojoe?" tanya nya


"Beruntung, loe cewek pertama yang diajak Jojoe kesini, dia orangnya susah loh jatuh cinta, suer, gue aja naksir sama dia dari dulu dia gak mau, haha"


Aku hanya tersenyum tidak yakin.


"Loe sering kesini Joe?" tanya ku


"Gak juga, sebula sekali kadang-kadang. Tapi gue suka tempat ini. Bisa ngilangin stress"


"Tapi loe gak aneh-aneh kan?" bisikku


Jojoe tertawa lepas mendengar pertanyaan ku.


"Enggak lah Sun! santai aja kali gue bukan pecandu narkoba apalagi judi, gue emang suka minum sekali-kali buat tenangin diri"


"Trusss kenapa loe ajak gue kesini?"


"Karna loe special, tempat ini obat stress gue, loe juga, penenang hati gue"


Jojoe memeluk pinggangku dari belakang lalu mengecup dahiku. Dia terlihat sedikit vulgar di hadapan temannya yang baru ku kenal. Tapi entah mengapa aku merasa bahagia. Aku seperti merasa istimewa.


"Ayok dong minum lagi" ajak Sisie


Kami pun meneguk kembali minuman itu. Akupun merasa seperti katagihan dengan rasa dan sensasinya. Hingga aku lupa ini sudah jam berapa. Kepalaku terasa berat. Mataku tak jelas melihat di sekeliling. Tapi aku masih sadar ada Jojoe disana yang masi memegangi tangan ku dengan hangat. Gelak tawa mereka masi dapat ku dengar. Dentuman irama musik DJ itu pun masih menggoyang kakiku. Tapi....


*****


"Bruaaaak"


Tubuhku terasa terhempas ke sesuatu yang empuk seperti kasur. Tapi aku tidak terlalu menyadari dimana aku sekarang. Jojoe menciumi leherku dengan ganas. Ya, aku masih bisa melihat samar wajahnya. Tapi tubuhku terasa lemas dan tidak berdaya.


Mulutnya yang hangat terasa menghisap bibir bawahku lalu mengulum semua lidahku. Tangannya perlahan membuka pakaianku tanpa bisa ku halangi.


"Gue sayang sama loe Sun, Plisss kasi gue hal yang paling berharga dalam hidup loe" bisik nya mesra


Entah hal apa yang membuatku menyetujui permintaan Jojo. Tanpa alasan aku mengangguk, mengiyakan semua keinginan bejat Jojoe.


Dia pun dengan ganas meniduriku malam itu. Tanpa bisa aku lawan, akupun menikmati malam itu.


*****


Pagi saat sinar matahari menyilaukan pandanganku. Ku buka mata perlahan dan menatap kesana kemari. Mata ku mencari keberadaan Jojoe. Seseorang kemudian menghampiriku lalu mengecup dahiku.


"Pagi!!!" sapa nya


Aku diam tanpa jawaban. Aku ingin marah tapi, hatiku mencintai laki-laki ini.


"Kenapa loe lakuin ini ke gue?" tanyaku sedikit membentak


"Sssst, gue sayang sama loe Sun"


"Bohong!!! truss kalo gue hamil gimana?"


"Ya kita tinggal nikah, gampang kan?"


"Terus Rain, dia bakalan hancur kalo tau kita begini di belakangnya"


"Sun!!!! pliss, jangan pernah sebut Rain saat kita bersama, loe tau gue gak pernah sayang sama Rain"


"Atau loe juga lakuin ini ke Rain?"


"Sun.... Cuma elo cewek yang gue sayang sampe sejauh ini. Ini salah satu cara agar hubungan kita gak harus sembunyi lagi"


Aku diam. Aku mulai menyadari Jojoe ingin kita bersama tanpa harus terus sembunyi. Tapi aku yang selalu menolak, haaaaaah Cintaku telah menodai ku.