
Belajarlah menghargai sebelum kepergian mengajarkan arti kehilangan.
Panas cahaya pagi yang masuk melewati celah-celah jendela, menyilaukan wajah Jasen. Dia terbangun dan merasa tangannya begitu kaku dan tidak bisa digerakkan. Dia berusaha menariknya, tapi kemudian dia menyadari bahwa semalaman Sun tidur di bahunya. Dan itulah yang membuat tangannya terasa keram.
Sejenak Jasen menatapi wajah Sun. Termangu dan larut dengan kecantikannya. Bulu mata yang lebat dan lentik. Bibir yang tipis dan manis. Pipi yang mulus seperti tumpukan salju. Tanpa ia sadari tangan lain Jasen mengelus pipi halus Sun.
"Aaaaah gue kenapa? jantung gue kencang banget berdetaknya, udah kaya beduk buka puasa aja," pikir Jasen.
Sambil tersenyum kagum dia terus menatapi wajah gadis yang pelan-pelan mencuri hatinya.
Dok dok dok
Suara pintu diketuk dengan sangat keras. Persis ketukan tukang rentenir penagih hutang.
Sun terperanjak dari tidurnya. Matanya terbelalak karena kaget. Jasen yang sedari tadi memandangi wajah manis Sun, spontan langsung berubah mimik wajahnya. Dia malu kalau harus ketahuan, diam-diam mengagumi Sun.
"Siapa?" tanya Sun panik.
"Eeem bentar gue cek."
Jasen berjalan membukakan pintu. Ada Managernya disana. Berdiri Rapi dengan longdress dan turban khasnya.
"Siapa yang nyuruh ganti kode pintu?" tanyanya sedikit membentak.
"Ia sorry tante," jawab Jasen.
"Ini jam berapa beb? loe ada offair dan loe baru bangun?" Celoteh manager yang masih tantenya itu.
"Oke oke tante aku siap siap dulu."
Airin melengos kesal. Dia masuk apartemen dengan langkah sedikit marah. Dan tampaknya moodnya semakin hilang karena dia mendapati Sun masih berada di rumah ini.
"Hello you? kamu masih disini? kapan kamu kembali ke rumahmu?"
Pertanyaan tante Airin terdengar menyinggung Sun. Tapi Sun tetap tersenyum.
"Saya kerja disini tante, jadi pembantunya Jasen, bantu beres-beres rumah dan siapin makan," Sun berusaha sesopan mungkin untuk menjawab pertanyaan tante Airin.
"Oke, gue harap loe gak modus, karena Jasen itu udah punya tunangan dan dua atau tiga hari lagi dia bakal balik dari singapore."
Sebenarnya penjelasan tante Airin bukan urusan Sun. Tapi entah kenapa, mendengar Jasen sudah memiliki tunangan, hatinya merasa sedikit sakit.
"Ayo tante," ajak Jasen yang sudah siap dengan jaket Roxy nya.
"Oke gue tunggu di mobil."
"Jangan lupa loe masak yang enak ya, gue pulang sore." Ucap Jasen sambil melintir pergi.
Pintu apartement itu tertutup. ruangan terasa sepi. Sun mulai merasa keberadaannya disini hanya sebagai benalu. Dia mungkin bisa berbohong pada siapapun dan berkata bahwa dia adalah asisten Jasen. Tapi nyatanya? sampai hari ini dia membereskan rumah dan memasak untuk Jasen tidak lain sebagai rasa terimakasihnya karena sudah diizinkan tinggal di rumah ini.
Dia mulai beranjak dari sofa yang sedari dia bangun tidur tadi belum juga ia tinggalkan. Tapi saat ia melangkah akan ke kamar mandi, dia merasa kepalanya berat, pandangannya berkunang-kunang, kakinya terasa lemas dan tidak sanggup berjalan. Sun ambruk tepat di depan pintu kamar mandi. Matanya mencari-cari sesuatu yang bisa membantunya berdiri.
Dia meraih gagang pintu dan dengan terseret seret dia berusaha berjalan menuju wastafel. Menghadap ke arah cermin besar yang berada di sudut dinding. Dia mendapati wajahnya yang sangat pucat dan sedikit bengkak di sekitar matanya.
"Pasti ini gara-gara semaleman gue nangis," bisiknya.
Sun menyalakan keran dan mencuci wajahnya. Tapi itu tak merubah apapun. Kepalanya tetap terasa berat. Dia mulai merasa mual dan akhirnya dia mengeluarkan isi perutnya tanpa bisa ia tahan.
"Hueeeek."
"Duuuh gue kenapa sih? masak cuma gara-gara semaleman nangis gue sampe kaya gini?"
Dengan tertatih dia kembali ke tempat tidur. Menarik selimut dan kembali tidur. Dia berharap semoga keadaannya membaik setelah ia bangun nanti.
*****
Rain, menyadari hal itu. Dia tahu pikiran suaminya kini tengah berada pada sosok Sun. Tapi Rain tak ingin memperburuk suasana. Terhitung masih pengantin baru, dia ingin menunjukkan kasih sayangnya pada Joe.
"Sayang aku ambilin sarapan yah," ucap Rain sambil menyediakan piring ke hadapan Joe.
"Gak usah," jawab Joe ketus.
"Sedikit aja, loe kan mau kerja, loe harus sarapan."
"Rain, pliis ... gue bilang gak usah."
Rain diam, wajahnya terlihat kecewa. Upayanya untuk mencairkan suasana terlihat gagal dan memalukan di hadapan keluarga Joe.
Nyonya Jenny dan tuan Adhi tidak berkomentar apapun. Mereka tahu dari awal Joe tak menginginkan pernikahan ini.
"Joe ...." oma Manda memberi kode agar Joe mau menerima saran Rain.
"Heeeem oke ma," jawab Joe seakan paham apa yang nenek kesayangannya itu pinta.
Rain tersenyum meski hatinya sudah terlanjur sakit. Dengan senyum palsunya itu dia menyediakan sarapan untuk Joe.
Ini baru awal Joe, gue bakal bikin loe bertekuk lutut sama gue.
*****
Jasen memasuki apartementnya. Dan mendapati dapur yang masih berantakan.
Tidak ada makanan yang biasa disediakan di meja makan.
"Sun!!" panggil Jasen sambil mencari-cari sosok Sun.
Jasen sedikit terkaget saat mendapati perempuan yang ia cari sedang terlungkup di atas kasur berbalut selimut. Dia bisa menebak bahwa sesuatu terjadi pada Sun.
"Loe kenapa?" tanyanya sambil memegang kepala Sun.
"Badan loe panas banget, banyak banget lagi keringatnya."
"Dingin banget," ucap Sun lirih.
"Oke kita ke dokter sekarang."
Dengan sigap Jasen menggendong Sun dan membawanya kedalam mobil. Tanpa pikir panjang dia melaju kencang menuju rumah sakit terdekat.
Sun setengah sadar, dia membuka matanya dengan sayu dan lemah. dia melihat wajah Jasen yang panik. Sambil tersenyum dia berkata.
"Muka loe lucu kalo lagi panik."
"Trus loe mau apa? ketawa?" ketus Jasen.
Sun sedikit terkekeh, dia tidak menyangka laki-laki bermulut kasar ini bisa bersikap manis dan sangat peduli padanya.
Mobil sport Jasen berhenti di depan sebuah rumah sakit yang tidak terlalu besar. Tapi terkenal sangat bagus pelayanannya.
Jasen keluar dari mobil. Samar-samar Sun melihat dari jendela mobil. Jasen tampak panik dan kesana kemari mencari petugas. tak lama dia datang dengan membawa kursi roda dan beberapa perawat. Perawat itu membopong Sun untuk duduk di kursi roda.
Kemudian membawanya masuk keruang pemeriksaan.
"Tunggu diluar ya pak! tenang istrinya gak kenapa napa kok," ucap salah seorang perawat sebelum memasuki ruangan.
Jasen sedikit kesal karena di panggil pak. Tapi kemudian dia tersenyum saat dia ingat kata-kata perawat yang mengira dia ini adalah suaminya Sun.