SUN

SUN
BAB 32


Merelakan sesuatu yang sangat berharga tidaklah mudah. Karena pengorbanan tidak dilihat dari seberapa banyak yang kamu serahkan. Melainkan seberapa berartinya hal itu untukmu.


"Saya terima nikahnya Zilfana Rain binti Wiguna Kusuma dengan mas kawin emas sepuluh gram di bayar tunai."


"Sah???"


Saaaaah.....


Irama music yang hikmat menyelingi acara akad dan resepsi pernikahan Joe dan Rain. Para tamu undangan terlihat bergantian menyalami kedua mempelai untuk memberi doa dan selamat.


"Ma, makasih selama ini udah rawat Rain, memberi yang terbaik buat Rain, mama udah kerja keras sendiri dan hari ini pun, setelah apa yang Rain perbuat, setelah Rain kecewain mama, mama selalu ada buat Rain, menutupi kesalahan Rain, makasih ma, i love you ma," Rain menangis, bersimpuh di kaki nyonya Melinda dengan derai air mata.


Nyonya melinda mendekap kedua bahu Rain. Mengangkatnya dan memeluknya. Dia memegang kedua pipi anaknya itu dan berkata,


"Rin, hari ini kamu sudah menjadi milik orang lain, setelah sekian lama, mama selalu menjadi yang pertama melihat senyummu, selalu menjadi yang pertama mendengar tangismu, yang selalu berada di belakang mendukungmu, hari ini mama harus merelakanmu, jadi istri dan ibu yang baik ya nak."


Nyonya Melinda berurai airmata. Semua tamu yang menyaksikan sungkem kedua mempelaipun ikut terharu.


Joe yang ikut menyaksikan hal itu mulai merasa bersalah. Apa jadinya jika wanita yang kini telah menjadi mama mertuanya itu tahu, kalau dia menikahi anaknya hanya sebatas iba. Karena Rain tengah mengandung, sekalipun itu bukan anaknya, tapi kini ia merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan Rain dan bayi yang kelak akan memanggilnya papa.


"Joe," panggilan nyonya Jenny mengagetkannya.


"Sini peluk mama nak, bahagia selalu ya sayang, jadi suami dan orang tua yang baik," nyonya Jenny memeluk anaknya itu dan mengecup keningnya.


Tuan Adhi tak ingin ketinggalan. Dia menepuk bahu Joe dan berkata.


"Dewasa sudah jagoan papa, jadi suami yang bertanggung jawab ya Joe, jangan bikin papa malu."


Hari itu menjadi hari yang sakral. Kedua pasangan disatukan dengan ikatan suci pernikahan. Meskipun tak pernah ada yang tahu sebuah pernikahan akan berakhir seperti apa.


Lonceng pintu masuk berbunyi dua kali saat ada tamu undangan yang datang.


Kling kling


Dan kali ini yang datang dari pintu gerbang masuk membuat puluhan pasang mata tercengang.


Seorang gadis cantik dengan gaun hitam panjang telanjang bahu, ikat pinggang mutiara melingkar, dan rambut yang ia biarkan tergerai panjang dengan sematan jepit gold berbentuk kupu-kupu kecil di sudut kepalanya.


Dia menggandeng seorang pria maskulin yang mengenakan setelan jaz dengan warna yang senada. Terlihat seperti pasangan yang akan menyusul ke pelaminan.


"Sun...." Nyonya Melinda terlihat sedikit berlari agar bisa secepatnya memeluk anak tirinya itu.


Sun merasa kaget dengan reaksi sang mama. Tadinya dia pikir kehadirannya sama sekali tak diharapkan apalagi sampai di sambut dengan pelukan begini.


"Maafin mama nak, mama baru tahu kalau ternyata om Farid itu benar-benar licik, dia..."


Belum sempat nyonya Melinda melanjutkan kata-katanya, Sun memotong pembicaraannya.


"Ma, udah ya, Sun gak papa kok, yang penting sekarang Rain bahagia, mama juga bahagia."


"Balik kerumah ya Sun, mama kangen sama kamu."


"Ma, biarin Sun hidup mandiri diluar sana ya ma, Sun gak papa kok, Sun bisa jaga diri. sendiri."


"Tapi, Sun..."


"Udah ma, ngeliat Rain dan mama bahagia itu udah cukup."


"Ini siapa?" tanya Melinda sambil menunjuk cowok tampan disebelah Sun.


"Ini..." belum sempat Sun menjelaskan.


"Kenalin tante, saya Jasen Arjun, pacarnya Sun."


Sun terkejut dan spontan menginjak kaki Jasen dengan sepatu hillnya yang tinggi.


"Auuuu." Teriak Jasen kesakitan.


"Eh, bukan ma, ini temen Sun sekaligus..."


"Gak papa Sun, mama seneng akhirnya kamu bisa mendapatkan laki-laki baik, ganteng lagi."


Sun dan Jasen saling melempar pandangan. Mereka tidak menyangka akan mendapat dukungan dari nyonya Melinda.


Dari atas pelaminan, Joe dan Rain melihat Sun dan Jasen. Joe terlihat kesal karna Sun datang membawa laki-laki lain. Dia terus saja memandangi Sun, berharap Sun mau menghampirinya.


"Joe..." Rain memanggil Joe yang terlihat tidak menghiraukannya.


"Apa??"


"Kamu cemburu ya liat Sun sama cowok lain?"


"Kalo iya kenapa? aku bisa apa? aku bener-bener tersiksa, aku gak mau berada di posisi ini asal kamu tau!!" Joe mengomel tanpa rem. Dia sama sekali tidak memperdulikan perasaan Rain.


Lampu yang berada di ruang acara tiba-tiba gelap dan berganti lampu berwarna ungu romantis. Semua tamu tau ini adalah waktunya pesta dansa. Ada sebuah panggung tengah yang sengaja di buat untuk acara dansa romantis bersama pasangan masing-masing.


"Joe, dansa yok," pinta Rain.


"Aku gak bisa dansa," jawabnya ketus.


"Ayolah Joe," Rain merengek sambil mengelus perutnya, seolah menunjukkan Joe harus melakukan keinginannya demi anak yang berada di perutnya.


Akhirnya Joe mengikuti Rain. Berdansa romantis di atas panggung yang di kelilingi lampu kristal cantik.


Semua orang bersorak gembira melihat kekompakan pasangan muda itu.


Joe terlihat lihai menari bersama Rain. Mendekap pinggang Rain sambil memegang tangannya.


"Katanya gak bisa dansa?" bisik Rain.


Joe hanya diam. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Rain. Mereka terlihat sangat serasi.


Sun yang menyaksikan itu hanya diam sambil menahan sesak di dadanya. Bagaimana bisa mereka melakukan itu di hadapan Sun.


"Kenapa mereka gak nunggu kita pergi sih, baru dansa," gerutu Sun.


"Kamu cemburu?" ledek Jasen.


"Enggak!!!"


"Enggak tapi kok berkaca-kaca matanya?"


Hari itu terus berlalu pilu. Berjalan tidak sesuai dengan keinginan Sun. Dia baru tahu rasanya sesakit itu melihat orang yang ia cintai pergi dan menjadi milik orang lain. Dan yang lebih menyayat adalah, menjadi milik saudaranya sendiri.