
*****
"Kliiiiing..."
Lamunanku buyar saat hp ku berdering. Ada no mama memanggil disana. Aku mengangkatnya.
"Ya, ma..."
"Kamu semaleman kemana kok pagi mama gak liat kamu" ucap nya sedikit menggerutu.
"Ada kok ma, aku sengaja pergi pagi-pagi mama aja yang gak liat"
"Nanti malam tutup tokonya cepetan dikit ya, kita ada makan malam bareng Om Farid"
"Ya, ma...."
Jujur, aku sangat bahagia mendengar mama menghawatirkan aku begini. Setidaknya, kali ini dia benar-benar menganggap ku anaknya.
Ku tutup ponselku. Ku tatapi lalu lalang jalanan dari jendela toko. Siapa yang menyangka hubungan ku dengan Jojoe sudah sejauh ini. Aku sendiri bahkan bingung apa yang membuatku begitu yakin dengannya. Siapa yang tau dia meniduri wanita lain di luar sana. Tapi aku malah seperti menyodor kan kenikmatan kepada nya. Kepada nafsu bertahta cinta nya.
*****
Aku buka pintu rumah. Kulihat mama, Rain, dan Om Farid sudah duduk di meja makan. Aku tersenyum sambil ikut mengambil kursi di samping Rain.
"Loe keliatan lesu banget, Sun." sapa Rain
Aku hanya tersenyum sambil mengambil sesendok nasi ke piringku.
"Toko rame, Sun?" tanya mama seperti basa-basi
"Enggak ma, tapi ada aja pemasukan"
"Waaaah .... Sun ini rajin ya" sahut Om Farid.
Aku hanya tersenyum malas. Entah kenapa aku kurang menyukai Om Farid. Sikap baiknya terkesan di buat-buat saja. Seperti hanya mencari perhatian saja.
"Rajin, Om!!! gak kaya aku bisanya cuma ngabisin duit, hehe"
Rain berusaha menyairkan suasana. Ia seperti tahu aku tampak kaku di hadapan mereka.
Aku menyelesaikan makanku, lalu menyeruput jus orange yang berada di samping piringku.
"Sun duluan ya" ucapku sambil berdiri ingin pergi.
"Sun!! tunggu dulu dong, mama mau bicara soal pernikahan mama sama Om Farid"
Aku tersentak, ku tatap tajam laki-laki berkaca mata yang duduk di samping mama itu.
"Sun!!!" panggil Rain.
"Aaaah, oke" jawab ku sambil kembali duduk.
Sumpah, aku bener-bener gak suka sama Om Farid. Tapi tampaknya pendapatku gak akan di dengar disini, percuma.
"Jadi rencananya mama dan Om Farid bakal melangsungkan pernikahan kami pekan depan"
"Hah!!!! yang bener aj ma? cepet banget" aku terkaget mendengar ucapan mama, tapi kemudian aku sadar Rain memperhatikan ku penuh curiga.
"Aaaah, enggak maksudku, ooh iya pekan depan ya" lanjut ku salah tingkah
"Gak papa ma, lebih cepat lebih bagus!! jadi entar ada yang bisa temenin mama kalo tugas keluar kota" sahut Rain.
"Kamu gak keberatan kan, Sun?" tanya mama
"Oh, enggak kok ma, terserah mama sama Om Farid aja, kalo mama bahagia, aku juga"
Mama tersenyum. Aku tau mama mengenali kegelisahan ku. Itu sebabnya setelah Om Farid pergi, dia mendatangi kamarku.
"Ah, mama"
Mama masuk dan duduk di samping ranjangku.
"Sun, seiring berjalan nya waktu mama merasa makin sayang sama kamu, mama terus merasa bersalah karna dulu pernah mengabaikanmu"
"Maaaaa, udah dong, yang lalu biarin aja berlalu" sahut ku
"Mama tau kamu kurang suka sama Om Farid, mama boleh tau kenapa?"
"Mama yakin Om Farid udah berubah? aku gak mau aja dia ngulangin kesalahan yang sama ke mama"
"Sun, Om Farid itu usianya udah matang, mama rasa dia gak punya alasan lagi buat main-main sama hubungan kita"
Aku memeluk mama. Terasa hangat, mama mengelus kepalaku.
"Ma... selama ini mama sudah menderita karna kesalahan papa dan mama kandungku. Aku cuma pengen kali ini mama bahagia"
*****
Pagi yang cerah dirumah Jojoe. Neneknya yang sudah agak pikun itu merajut helai demi helai kain sambil bergoyang di atas kursi goyang tuanya.
"Tepok!!" suara sesuatu mengenai kepala Jojoe yang hendak berjalan akan keluar pintu.
"Aduuuh apaan si oma??"
Jojoe meraih sandal jepit yang ternyata di lempar oleh neneknya, tepat mengenai kepalanya. Rupanya itu merupakan rutinitas konyol yang kerap kali nenek nya lakukan pada Joe.
Jojoe memakai kan kembali sandal jepit hijau itu ke kaki neneknya yang diselimuti kulit keriput.
"Kalo gak begitu kamu asal aja nyelonong gak pamit-pamit, mentang-mentang oma sudah tua, kamu mau main pergi-pergi aja" ucap nya mengomel.
"Oma, emang oma lupa? barusan aku pamit ma?"
"Tepok" lagi-lagi sesuatu melayang ke kepala Joe. kali ini tempat kaca matanya.
"Aduuuh, oma!!! bisa-bisa aku lupa ingatan kalo tiap hari oma ketok kepalaku begitu"
"Mana calonmu? janji-janji terus, katanya mau di bawa kesini"
"Aduuuuh"
"Jangan bohong lagi, oma tau kamu belum ajak cewek itu kesini"
"Iya oma nanti"
"Kamu mau nunggu oma mati ya baru kamu mau nikah? ingat oma mau nya cewek yang beliin gantungan kunci itu, bukan yang lain"
"Tapi oma, yang beliin itu kan aku"
"Jangan bohong lagi, oma tau pacar kamu yang pilih kan, Kalo kamu itu otaknya dangkal, jadi pasti gak mungkin kalo kamu yang pilih"
Jojoe menggaruk kepalanya. Ia terlihat bodoh kali ini jika harus berbohong lagi. Neneknya itu memang selalu tau jika Joe berbohong. Pasalnya dia yang membesarkan Joe dari orok. Orang tua Joe??? mereka sibuk dengan urusan kerja masing-masing. Kalau pun pulang ke indonesia paling lama cuma sebulan dan lalu kembali ke singapura. Jojoe gak pernah menerima tawaran orang tuanya untuk tinggal di luar negeri. Karna baginya, bisa hidup bersama neneknya adalah hal yang paling membahagia kan, meskipun kadang-kadang neneknya bertingkah konyol dan menjengkelkan.
"Iya udah Joe pamit ya ma"
Jojoe menyalami tangan tua neneknya. Tapi tangan itu di tarik, sedikit di ludahi kemudian disodorkan kembali untuk di cium oleh Joe.
"Iiih oma jorok banget sih"
"Mau cium gak? dosa loh" sahutnya dengan wajah tegang.
Akhirnya Joe mengalah. Dia raih tangan orang yang selama ini merawatnya, lalu menciumnya.