
*****
Ini sudah satu minggu sejak kejadian itu. Aku dan Rain gak pernah saling bicara. Setiap kali aku ingin menjelas kan sesuatu, dia selalu saja berpaling. Jojoe? aku berusaha sebisa ku menjaga jarak dengan nya. Aku coba terus menjelas kan padanya agar dia mau menerima Rain. Aku benar-benar berada di posisi yang salah. Hatiku, Cintaku semua nya salah.
Hingga malam ini, aku memberanikan diri masuk ke kamar Rain yang sedikit terbuka. Aku melihatnya duduk di atas ranjang nya dengan kedua kaki yang di tekuk di depan dada.
"Gue gak mau liat muka loe" ucap Rain.
Aku tak memperdulikan, aku tetap masuk dan duduk di samping nya.
"Rain!! gue gak tau kenapa loe semarah ini sama gue, loe sama sekali gak kasih gue kesempatan buat jelasin semuanya, dari awal loe yang mau gue ini dan itu sama Joe, trus cuma karna loe liat Jojoe ngelamar gue, loe langsung tuduh gue suka sama dia!! gue gak nyangka ternyata selama ini cuma segitu kepercayaan loe ke gue."
Rain masi diam disana. Matanya berkaca-kaca.
"Gak pernah ada yang sayang sama gue disini Rain, selain loe! kalo loe kaya gini terus mendingan gue pergi, gue sadar diri"
Aku beranjak pergi, aku benar-benar gak tau harus berbuat apa. aku sangat menyayangi Jojoe, tapi Rain? sepertinya Rain lebih menyayangi Jojoe dari pada aku.
"Sun!!" panggilnya
"Maafin gue, Sun. Gue gak mau loe pergi"
Rengek itu, rengekan yang selalu aku dengar, aku rindu rengekan Rain yang selalu minta ini minta itu ke aku.
Aku berbalik, Rain menabrakku dan memelukku erat.
"Jangan pergi Sun!!"
"Loe percaya kan ama gue, gue gak pernah suka sama Jojoe, gue udah jelasin semua ke dia, loe bisa temuin dia besok, sebagai diri loe sendiri"
Rain tersenyum sambil mengangguk. Air matanya terlihat mengalir ke pipinya yang masih agak pucat.
Aku melihat sekelebat bayangan di pintu kamar, aku tahu itu Tante Melinda, aku tahu dia memperhatikan kami.
*****
Pagi-pagi sudah ada Pak Kurir datang.
"Duuuuh langganan deh!!" keluh ku merayu
"Buat mbak Sun!!" jawab nya dengan logat khas jawa nya
Ia menyodor kan kado berbentuk kotak. Ada tulisan untuk Rain. aku tersenyum, akhir nya Jojoe paham yang aku minta. Akhirnya dia tau bentuk cintaku adalah dengan melihat Rain bahagia.
Aku menelphone Rain.
"Ke toko!! ada kado nih buat loe" ucap ku
"Gak denger!! ya ya ntar gue mampir ke toko"
Aku menutup telphone ku sambil tersenyum. Meskipun rasanya sangat sulit melepas Jojoe, tapi akhirnya aku belajar untuk tidak egois. Aku lalu teringat Tante Melinda, alangkah sulit nya menjadi dia. Merelakan suaminya untuk wanita lain, untuk mama ku. Dan harus merawat benalu semacam aku.
Kliiing
ponsel ku berdering. Sebuah nomor baru masuk.
"Sun!!" panggil nya dari jauh.
"Gue gak tau gimana sebenernya perasaan loe ke gue, tapi!!! karna gue sayang sama loe, jadi gue berusaha mencintai Rain"
"I love You, Sun" ucapnya lalu menutup telphone.
Aku usap berat kepalaku. Aku terduduk lesu dan pilu. Sekelilingku terasa hampa. Aku raih Dairy yang tersimpan di laci kasir. Aku luah kan isi hati ku di ujung pena. Aku tak tau harus bicara pada siapa? jadi, Dairy pemberian Jojoe adalah teman bisuku, teman hatiku.
*****
"Gue seneng banget akhirnya Jojoe bisa terima gue yang asli"
Rain terlihat riang sambil memeluk kotak kado pemberian Jojoe. Di bukanya kotak itu, berisikan patung kaca berukuran kecil. Patung itu terlihat memakai dress selutut dengan rambut tergerai dan jepit sederhana di samping telinganya.
Di kartu ucapannya bertuliskan,
Hatiku takkan salah memilih, cintaku suci, sebening kaca ini, I love you
Rain makin kegirangan. Ia memeluk patung kaca itu.
"Mirip gue kan, Sun?" tanya nya
Aku mengangguk, patung itu, mengingat kan ku pada penampilan ku di ulang tahun Rain. Sangat persis, dress selutut dan jepit rambut itu...
Tapi aku tak ingin melukai hati Rain. Biar lah begini, aku rela.
*****
Ini sudah berjalan 3 bulan sejak hubungan Rain dan Jojoe berlanjut. Aku gak pernah tahu apakah perasaan Jojoe masih sama terhadapku. Yang pasti hatiku tidak bergeming sedikitpun. Aku hanya berusaha menghindar agar tidak terlalu dalam sakit ini. Setiap kali Jojoe datang kerumah menjemput Rain, hati ku hancur. Melihat mereka bepelukan, tertawa bersama, aku benar-benar remuk. Aku seperti di kubur hidup-hidup oleh perasaan cintaku ini sendiri.
Rupanya Tante Melinda diam-diam memperhatikan ku. Suatu malam dia datang ke kamarku. Itu bukan lah hal yang lumrah, aku tau jika tidak mendesak, dia tidak pernah ingin menyapaku. Apalagi mengajak ku bicara. Tapi seperti nya malam ini berbeda.
"Sun!!! kamu sudah tidur?"
"Belum tan, kenapa? kalo ada perlu biasanya chat aja" jawab ku
Ia masuk kamarku dan mendekatiku.
"Sun!! aku bangga sama kamu, sampai hari ini kamu buktiin ke aku kalo darah tidak pernah berbohong, kamu memang anak suamiku"
"Tante ngomong apa sih? aku gak ngerti"
"Sun!! kamu tau perasaan ku waktu pertama papamu ajak kamu ke rumah? seandainya aku gak mencintai suamiku, aku sudah pasti membunuhmu. Tapi lihat apa yang bisa di lakukan cinta? cinta ku kepada papamu yang membuat ku kuat, yang membuat kita sekarang menjadi keluarga"
Aku tersentuh dengan perkataan Tante Melinda. Sebesar itu cintanya kepada papa.
Aku mulai mengerti ke arah mana dia bicara.
"Aku pikir kamu akan mewarisi perilaku ibumu. Sampai kamu membuktikan nya padaku, bahwa kamu sama sekali tidak seperti itu. Terima kasih ya Sun, kamu mau merelakan cintamu untuk Rain. Itu pengorbanan besar, Tante akan melakukan apapun untuk itu"
"enggak tan!! yang tante lakuin buat aku jauh lebih besar dari ini. Aku cuma mau satu hal"
Tante Melinda tersenyum lalu memelukku, dia seperti tau semua keinginanku.
"Kamu mau ini kan? kamu mau aku peluk, aku sayang seperti aku sayang sama Rain"
Air mataku mengalir, aku mengangguk pelan tanpa bisa berkata apa-apa. Iya, aku memang menginginkan ini selama ini. Aku ingin kasih sayang mu maaah.
"Panggil aku Mama, mulai hari ini kamu anakku, darah daging suamiku"
Kata-kata itu, itu yang slalu ingin ku dengar selama ini. Ternyata begini rasanya di peluk seorang mama. Begitu hangat dan nyaman.