SUN

SUN
Bab 15


*****


Rain terus saja memegangi tangan Joe. Sedang kan Joe tampak acuh. Matanya serius menatapi jalan di hadapannya. Mereka sedang berada di dalam mobil menuju rumah Joe. Berniat mengganti kemeja yang kotor karna noda kopi. Joe tahu itu hanyalah alasan Rain. Sejatinya cewek berwajah manis itu hanya ingin menghindarkan Joe dari Sun, saudara tirinya.


"Loe punya hubungan apa sama Sun?"


Pertanyaan tak biasa itu terlontar dari mulut Rain. Joe sedikit kaget, tapi dia berusaha tetap tenang.


"Kenapa loe nanya gitu?"


"Emang salah?"


"Aneh aja? loe curiga atau nuduh?"


"Nanya aja, loe tinggal jawab, kan beres"


"Gak ada cuma temen"


Rain terdiam, jawaban Joe terdengar tidak memuaskan. Wajah Rain berubah seperti ada kebenaran yang berusaha ia sembunyikan.


"Gue percaya loe gak akan bohongin gue" ucap Rain.


Joe tetap saja diam. Berusaha tak terlalu peduli dengan pertanyaan Rain.


"Loe serius gak sih sama gue?" Rain melanjutkan pertanyaannya. Rupanya rasa penasaran Rain belum juga reda.


Mobil itu berhenti. Joe menatap wajah Rain yang terlihat makin manis dengan bando hitam nya.


"Bisa gak loe stop nanya gue seakan-akan loe mergokin gue selingkuh?"


Nada bicara Joe meninggi. Dia semakin kesal karena perempuan yang pura-pura dia cintai ini makin membuatnya gak nyaman.


"Iya, emang gue mergokin loe selingkuh, gue cuma pura-pura bodoh aja dihadapan kalian. Gue gak habis pikir kalian tega khianatin gue"


"Heh, khianatin loe? yang mulai permainan ini siapa? yang nyuruh Sun gantiin loe siapa? jangan salahkan siapa-siapa karna loe sendiri yang salah, loe gak nyadar"


"Loe pernah mikirin perasaan gue gak sih Joe? loe pikir gue gak tau kalo loe sering diem-diem keluar malem sama Sun?" Rain mulai meneteskan air mata. Nada bicaranya mulai sendat. Nafasnya mulai terisak-isak.


"Kalo loe tau kenapa loe diem aja? kenapa loe gak putusin gue?"


"Tega loe ya Joe? ya karna gue cinta sama loe makanya gue diem aja"


"Trus loe gak nanya gue cinta sama loe apa gak? kalo loe cinta sama gue loe gak ngekang gue Rain, loe bakal biarin gue bahagia sama cewek pilihan gue sendiri, sekalipun itu saudara loe sendiri"


Joe membuka pintu mobil dia keluar dari mobil. Rain berusaha menahannya tapi gagal. Rain pun mengikuti Joe keluar mobil dan mengejar Joe yang memasuki pintu pagar rumah nya.


"Joe tunggu Joe!!"


Rain terus saja berlari di belakang Joe sambil menangis. Tapi Joe tak peduli, ia terus saja berjalan tanpa menghiraukan panggilan Rain. Sampai langkahnya pun terhenti karena ada nenek nya berdiri di hadapannya.


Nenek yang biasa di sapa oma Manda itu berdiri tepat di depan pintu. Rupanya dari tadi dia mendengar teriakan Rain sehingga dia keluar rumah.


"Ada apa sih Joe?" tanya nya agak kesal.


"Itu bukannya temen kamu yang kemaren mamanya nikah? kenapa dia nangis-nangis gitu?" lanjut oma Manda


"Bukan apa-apa oma, udah oma masuk aja, ini urusan Joe"


"Heh, sok bijak kamu!!! awas kalo oma denger ribut lagi" balasnya sambil masuk rumah.


Joe menatap Rain. Ada rasa kasian di hatinya.


"Mending loe pulang deh, gue pesenin taxi"


"Gak usah gue bisa sendiri" jawab Rain sambil pergi keluar dari pintu pagar


Joe tidak menahannya. Hatinya terlanjur kesal dengan sikap Rain yang posessiv. Rain berjalan keluar pagar sambil sesekali menoleh ke belakang, berharap Joe menahan kepergiannya. Tapi tidak, bahkan Joe tak mengucapkan kata maaf atau yang lainnya untuk sekedar basa-basi.


*****


Tapi sudah lama sejak terakhir kali Rain bersikap begitu. Sejak ulang tahun nya. Sun tahu ada sesuatu yang salah, tapi dia takut mau menanyakan langsung kepada Rain. Takut kalau Rain makin tak terkendali dan malah membuat penyakitnya kambuh lagi.


Sun bingung harus apa. Mama belum juga pulang dari berlibur. Dia mencoba mengetuk pintu.


"Rain?" panggilnya


Tidak ada jawaban. Sun kembali mengulangi ketukannya dan mencoba memanggil. Kali ini malah ada sebuah barang yang di lempar ke pintu itu entah apa. Suaranya sangat nyaring.


"Gubraaaak"


Sun terdiam. Dia curiga kalau Rain bertengkar dengan Joe. Bahkan yang ia takutkan kalau Rain mengetahui huhungannya dengan Joe.


"Sudah mbak, biarin aja!! mungkin mbak Rain butuh sendiri dulu"


Suara bi Nur terdengar dari belakang Sun. Sun mengangguk dan berjalan menuju kamarnya yang berada di depan kamar Rain.


Sun meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Joe.


"Kenapa Sun? tumben" ucap Joe saat mengangkat telpon dari Sun


"Loe berantem ama Rain?


"Kenapa? dia bilang apa sama loe?"


"Jadi bener?"


"Dia yang mulai. Dia marah-marah bilang gue selingkuh sama loe"


"Jadi dia udah tau?"


"Katanya udah, tapi dia pura-pura gak tau"


"Tau gak, sekarang dia ngamuk di kamarnya, gue takut aja jantungnya kumat, mama lagi gak ada"


"Sun, gue gak mau ribet sama urusan dia, gue udah cape sama tingkahnya yang kekanakan oke"


Joe menutup ponselnya. Sun makin bingung harus berbuat apa. Diam gak akan menyelesaikan apapun.


Sampai terdengar suara mobil memasuki garasi rumah. Sun mengintip dari jendela kamarnya yang mengarah ke teras. Mama dan papa sudah pulang. Sun lega, setidaknya kalau terjadi sesuatu dia tidak sendiri.


Sun menuruni anak tangga dan menyambut kedatangan orang tua nya.


"Mama, udah pulang?" sapa Sun


Mama nya tersenyum sambil memeluk Sun. Kemudian dia menyalami papa barunya.


"Gimana liburannya ma?"


"Seneng banget" balas wanita yang memakai long cardi hitam itu.


"Ow ya mana Rain?"


Sesaat Sun diam. Dia tidak tahu harus jawab apa.


"Di kamar si ma, tapi kayanya dia lagi ngambek deh, kayanya dia kelai ama pacarnya"


"Oow gitu, ya udah biarin aja, anak muda emang gitu dikit dikit kelai entar juga baikan lagi, ya kan ma?" balas papa Farid


"Iya ... ya udah mama masuk kamar dulu ya, nanti mama temui Rain"


Mama menaiki anak tangga sambil membawa kopernya. Di ikuti papa Farid di belakangnya.


Sun diam. Dia merasa aneh. Sejak menikah mama terlihat sedikit cuek dengan anak-anak nya. Padahal biasanya kalau dia tahu Rain sedang marah begitu, mama langsung berusaha menenang kan. Tapi tidak kali ini, dia terlihat mengikuti apa yang di katakan papa. Mungkin dia merasa anak-anak nya sudah cukup dewasa untuk mengatasi masalahnya sendiri.