
*****
Tante Melinda terus saja mondar-mandir di depan pintu kamar rumah sakit. Sesekali ku lihat ia mengusap air matanya. Wajahnya terlihat bingung dan panik.
Aku gak berani berkata apa-apa. Aku hanya duduk diam di kursi tunggu yang mengahadap ke lorong rumah sakit. Kaki ku tak berhenti bergetar. Sekujur tubuh ku terasa dingin. Dalam hati aku tak berhenti menghardik diriku sendiri. Apa yang sudah ku lakukan?? kenapa bisa aku mencintai laki-laki impian Rain?? aaaaaaah aku benar-benar tak tau harus bagaimana.
"Kreeeeek...." suara pintu kamar terbuka.
Aku dan Tante Melinda bergegas menemui Dokter yang sudah berdiri disana.
"Dooook...!!"
Suara Tante Melinda tak terdengar jelas. Suaranya tenggelam dalam isak tangisnya.
"Kamu kan tahu, dari kecil anak mu itu punya kelainan jantung? saya sudah bilang jangan buat dia kecapean, jangan telat makan, apalagi stress, Mel!! bisa fatal akibatnya, syukur saja belum telat sampai disini."
"Apaaa??? kelainan jantung?" bisikku penuh tanya.
Kenapa tidak pernah ada yang memberi tahuku soal ini. Apa aku benar-benar bukan siapa-siapa, hingga aku tak perlu tahu apa-apa??
Dokter Anggit adalah Dokter yang langganan mengurusi keluarga papaku, keluarga Kusuma. Ia masih sepupu papa, masih bisa di bilang Om nya Rain. Ia juga terlihat khawatir melihat kondisi Rain yang kerap kali keluar masuk rumah sakit.
Tante Melinda terpaku berdiri disana, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sambil terus menangis. Aku berdiri mendekatinya, mengusap bahunya, berusaha menenangkannya, tapi dia tak menghiraukan ku. Ia malah menuju pintu, memandangi Rain yang tebaring di dalam sana.
"Kenapa Tante gak pernah cerita ke aku kalau Rain punya kelainan jantung?"
"Kenapa kamu harus tau? kamu pikir kamu siapa?"
Aku terdiam, seharusnya aku tidak bertanya tadi. Karna aku sudah tau jawabannya.
"Ini karna laki-laki itu kan?" Tante Melinda berbalik menghadap ku.
"Pliss Sun, apa gak cukup apa yang udah kami kasih ke kamu selama ini? sampai kamu harus merebut milik Rain?"
Aku terbelalak, serendah itu penilaian Tante Melinda terhadap ku.
"Mendingan kamu pulang!! kehadiran mu malah membuat ku semakin sesak," ucapnya sambil memalingkan muka.
*****
Pukul 08.30 pagi, aku memutuskan mampir dulu kerumah sakit sebelum ke toko. Aku membawa keranjang buah untuk Rain. Hp ku gak berhenti berdering, itu dari Jojoe. Aku gak sempat menjelaskan apa-apa, lebih tepatnya aku belum siap. Sambil berjalan menuju kamar Rain, aku memandangi cincin pemberian Jojoe yang masih melingkar di jari manisku. Aku sempat berpikir untuk melepasnya, tapi!!! aaaah itu gak akan merubah apa pun. Aku hanya berharap Rain mau memaafkan ku.
Sebelum aku membuka pintu, aku melihat dari kaca pintu kamar. Disana ada Tante Melinda yang menyuapi Rain bubur. Rain terlihat sangat lemah, wajahnya pucat dan ia makan dengan hati-hati sekali. Aku seperti tidak siap melangkah masuk.
"Kreeeeek," ku buka pintu itu.
Mata mereka tertuju padaku. Aku perlahan melangkah mendekati ranjang tidur Rain. Rain memalingkan wajahnya,
"Rain!!" sapa ku
Ia tidak menjawab. Tante melinda berdiri dari kursinya. Ia terlihat membersihkan bekas makan Rain.
"Rain loe marah ama gue?"
Dia masih tidak menjawab.
"Rain!! ini salah paham," ucap ku, aku berusaha menjelas kan sesuatu.
"Pergi loe!!" Rain teriak histeris sambil menangis.
Rain mengamuk tak terkendali, ia menghambur semua yang ada di hadapannya. Tante Melinda menyeretku keluar kamar.
"Pliss Sun, kamu ngerti kondisi!! jangan temui Rain dulu!!" ucap Tante Melinda.
Aku menangis, aku gak ngerti apa aku bener-bener salah? aku hanya korban, tapi gak ada yang ngerti itu. Aku berjalan menuju taman rumah sakit dan duduk di salah satu bangku nya. Aku menarik nafas dan berusaha menenang kan diri. Tapi air mataku terus mengalir tanpa bisa aku bendung. Seseorang memberiku tisu. Pliss Bi Nur, ini bukan saatnya kamu menasehatiku.
Aku mendongak, kulihat ada Jojoe disana. Aaaaah aku pikir Bi Nur. Mana mungkin dia disini, Kacau.
"Jojoe!! gimana loe bisa ada disini?"
"Gue Bolak-balik ke toko tapi loe gak ada disana, jadi gue ambil nomer loe yang ada di banner toko dan coba hubungin loe, tapi loe gak angkat, truss gue ke rumah loe dan nanya alamat rumah sakit sama asisten rumah loe."
"Sorry joe, gue sengaja gak angkat, gue belum siap ngejelasin apa-apa."
"Heeeeem gue sebenernya gak ngerti, ada apa sih sama kalian, kalian sodara? ato gimana?"
"Gue belum bisa jawab sekarang, Joe!"
"Oke, terusss loe mau gue bingung gini terus?"
Aku merasa gugup, Aku tertunduk sambil memutar mutar cincin pemberian Jojoe.
"Loe beneran sayang sama gue?" tanya ku
"Apa loe liat gue main-main? gue gak mungkin ngelamar loe tadi malam kalo gue cuma main-main."
"Loe yakin bisa terima gue?"
"Emang ada yang salah sama loe? loe cantik loe baik truss gue harus alasan apa buat gak sayang sama loe?"
"Tapi gue anak haram"
Wajah Jojoe berubah, ia terlihat bingung dengan perkataan ku.
"Anak haram gimana?"
"Gue gak punya orang tua, gue di rawat sama keluarga Rain karna gue anak hasil selingkuhan papa gue."
"Papa loe papanya Rain juga?"
"Iya, tapi Rain anak yang lahir dari huhungan yang sah sementara gue...."
"Oke cukup!! itu bukan alasan."
"Tapi Rain cinta sama loe!! gue gak bisa rebut loe dari dia."
"Hey ... gue bukan punya Rain, gue gak kenal Rain, kenapa loe harus rebut gue dari Rain?"
"Rain itu Sun, Joe!! Rain yang selama ini chat loe pake nama gue, Rain yang terima cinta loe bukan gue."
Mata Jojoe terbelalak kaget. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang barusan ia dengar.
"Apa maksudnya ini?"
"Maafin gue Joe! gue gak pernah cinta sama loe, Rain yang cinta sama loe, gue cuma gantiin dia ngedate sama loe karna dia masuk rumah sakit waktu itu."
Aku menangis, berlari meninggal kan Jojoe. Hati ku hancur sehancur hancurnya. Aku terpaksa bilang aku gak cinta sama dia, aku berharap dia mau belajar mencintai Rain, Sun yang sebenarnya.