
*****
pria tua yang sudah agak beruban dengan tubuh yang kekar bugar itu masih saja memegangi tangan istrinya, yang duduk tertunduk di hadapannya dengan airmata yang tiada henti bercucuran.
"Percaya padaku sayang aku tidak pernah menyentuh Sun sedikit pun. Kamu tau kan aku sudah menganggap semua anakmu sebagai anakku juga."
"Lalu kenapa ini bisa terjadi kalau kamu tidak melakukan pelecehan itu?"
Wanita yang memakai blezer hitam itu terus menangis sambil melepas genggaman tangan suaminya.
"Ini salah paham aku hanya mengantarkan sarapan pagi untuknya karna bi Nur sedang ke pasar. Dan polisi itu, aku tidak tau bagaimana bisa mereka datang dan menangkapku." lanjut pria itu, berkata seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Melinda diam. Dia memegangi kepalanya karna terlalu banyak masalah yang ia pikirkan.
"Sun menjebakku, kamu tau kan dari awal dia tidak pernah menyukaiku, hanya Rain yang terlihat setuju dengan pernikahan kita. Sepertinya dia sakit hati karna tidak bisa memiliki Joe, sehingga dia melampiaskannya padaku," lanjut pria tua dengan seragam napi itu.
Melinda tidak berkata apa-apa. Dia hanya pergi dengan tubuh lunglai. Meninggalkan suami nya yang kini terancam mendekam di penjara karna tuduhan pelecehan sexual.
*****
Sun duduk di sofa dengan keadaan yang masih ketakutan. Dia terlihat masih syok dengan apa yang menimpanya tadi pagi.
"Loe gak papa kan?" tanya Joe yang masih berada di rumah itu, menemani Sun.
"Ini mbak teh hangatnya, di minum ya!!" ucap bi Nur sembari menyodorkan secangkir teh hangat.
Sun hanya mengannguk. Di ujung bibirnya terlihat bekas luka yang memar. Wajahnya pucat ketakutan.
Rain ada di sana juga. Tapi tidak banyak berkomentar. Dia seperti hafal bahwa papa tirinya itu pasti akan melakukan hal yang sama pada Sun. Sama seperti yang dia lakukan padanya sampai dia harus mengandung janin tanpa ayah ini.
"Sabar ya Sun!!" hanya itu yang terucap dari mulut Rain.
Rain seperti bingung mau berbuat apa. Yang terpenting ia pikirkan saat ini hanyalah pernikahannya. Dia tidak mau sikapnya malah akan membatalkan pernikahan yang sudah lama ia impikan.
Tiba-tiba mama melinda datang dengan raut wajah penuh amarah. Tanpa berkata apapun dia mengeret Sun keluar rumah. Semua orang sontak terkaget dengan perilaku nyonya rumah ini.
"Mah... Kenapa mah??" tanya Rain yang juga bingung.
"Keluar kamu, perempuan gak tau di untung, kurang apa aku selama ini sama kamu? aku rawat kamu dari bayi, aku berikan semua yang kamu butuhkan, aku banting tulang sendirian. Lalu sekarang kamu tega kelakukan ini padaku Sun?" mama Melinda mendorong Sun ke lantai teras. Memperlakukan nya seperti pengemis.
"Ma kenapa ma? Sun salah apa?" tanya Sun sambil menangis.
"Salah apa kamu bilang? kamu tuduh om Farid melakukan pelecehan sexual padamu, kamu sakit hati kan karna gak bisa menikah dengan Joe? karna Joe lebih memilih Rain dari pada kamu? makanya kamu melampiaskan kemarahanmu pada om Farid, kamu mau balas dendam kan?"
"Gak gitu tante, om Farid emang ngelakuin itu ke Sun," Joe berusaha membela Sun.
"Diam kamu!!! kamu gak tau apa-apa soal Sun, soal om Farid dan soal keluarga ini!!" bentak Melinda.
"Bi!!! bereskan semua pakaian anak haram ini, mulai hari ini dia bukan bagian dari keluarga kita lagi," lanjutnya.
"Ba.... Baik nyonya," bi Nur terlihat takut. Tapi dia tidak punya hak untuk melawan titah majikannya.
"Ma ... maafin Sun ma, Sun gak bermaksud balas dendam. Tapi om Farid itu memang laki-laki jahat ma, percaya sama Sun. Pilisss jangan usir Sun ma," dia menangis bersimpuh memohon ampun.
"Cukup!!! airmatamu gak akan merubah apapun," jawab Melinda.
Rain hanya diam. Dia takut kalau saja dia membela Sun itu malah akan berdampak buruk pada posisinya saat ini.
Tak lama bi Nur keluar dengan koper berisikan baju-baju Sun. Melinda meraih koper itu dan melempar keluar.
"Pergi kamu bawa semua barang-barang mu!!!"
Dengan pelan Sun mengambil koper dan tas kecil nya. Berjalan pergi perlahan sambil sesekali menoleh ke belakang berharap ada seseorang yang menahannya. Joe berusaha mengejar tapi Tangannya di tahan oleh Rain.
Melinda melangkah pergi ke kamarnya setelah memastikan anak tirinya itu benar-benar pergi. begitu juga bi Nur yang kembali ke tugasnya.
"Kenapa loe diem aja? loe taukan bokap tiri loe itu emang PK?" tanya Joe kepada Rain.
"Gue bisa apa Joe? gue takut kalo gue bela Sun, dan mama tau yang sebenarnya dia malah akan membatalkan pernikahan kita."
"Apa? pernikahan? kamu masih mikirin pernikahan dari pada sodara loe yang hampir aja di perkosa sama bokap loe sendiri? loe bener-bener egois ya?"
"Joe, pliss gue gak mau loe pergi tinggalin gue."
"Denger baik-baik ya gue kasih waktu sampe besok, loe kasih tau nyokap loe yang sebenernya atau pernikahan kita batal."
Joe pergi meninggalkan Rain dengan raut wajah kesal.
"Joe loe mau kemana?" teriak Rain.
"Nyari Sun."
Rain benar-benar pusing saat ini. Di sisi lain dia ingin menolong Sun, tapi di sisi lain dia tak ingin pernikahannya batal.
*****
Joe mengelilingi jalan sekitar. Berusaha bisa menemukan kekasih hatinya. Tapi nihil, tak ada hasil.
"Sun pliss loe dimana sih?" bisiknya
Berkali-kali dia coba menelphone nomor ponsel Sun tapi tak ada jawaban. Chat whatsapp pun hanya centang satu.
Sedang kan di tempat lain, Sun terlihat lunglai berjalan di tengah malam yang gerimis. Menyeret-nyeret koper bajunya sambil menenteng tas kecil di tangan sebelahnya.
Wajahnya terlihat bingung, pandangannya kosong ke arah depan.
"Gue harus kemana?" bisik nya.
Sampai tanpa sadar sebuah mobil sport menabrak tubuhnya tanpa ampun. Tubuhnya terjatuh di aspal yang dingin. Matanya masih bisa menatap sorot lampu mobil berwarna kuning itu. Pandangannya berkunang-kunang. Berusaha menggerak-gerak kan kakinya tapi tidak bisa.
Samar-samar dia melihat sosok laki-laki berjaket abu-abu menghampirinya. Dia hanya bisa berharap itu adalah Joe, atau pangeran dari manapun yang bisa menolongnya.