
*****
Sun menyapu wajahnya dari rintik hujan malam itu. Menyapu berulang kali agar tetap bisa sadar dan bisa melihat jelas laki-laki yang berdiri di hadapannya.
"Adooooh pansos lagi, eh loe bisa gak sih cari duit dengan cara lain, hah? bisa gak, gak usah nabrakkin diri loe sendiri ke mobil mahal gue ini, truss pura pura pingsan, truss minta biaya ganti rugi?"
Pria itu terlihat kesal. Mengomel seperti ibu warung yang sedang menagih hutang.
Sun melihat laki-laki berjaket abu-abu dengan kaos kuning bertuliskan Supreme.
Sun tidak memperdulikan ocehan laki-laki itu. Dia berusaha bangun, tapi tidak bisa, kakinya terasa kaku.
"Kan? acting lagi kan? pura-pura gak bisa berdiri loe? lumpuh aja sekalian!!!" lanjut laki-laki berambut pirang itu terus mengomel.
Sun menepi dengan tertatih. Menyeret kopernya dan duduk di tepi stotoar. Tanpa berucap apa-apa.
"Dasar pansos!!" hardik laki-laki itu sebelum ia pergi dengan mobil Porce nya.
Tapi belum jauh mobil itu melaju, tiba-tiba saja ia terhenti. Pria bermulut kasar tadi memperhatikan Sun dari kaca spion mobilnya. Dia mulai berpikir seperti nya gadis itu tidak sedang pura-pura apalagi menipu.
Akhirnya dia mengundur kembali mobilnya ke arah belakang dan berhenti tepat di hadapan Sun.
"Ayo masuk!!" pintanya.
Sun tak menjawab. Wajahnya terlihat kesal.
"Ayooo masuk!!" pintanya sekali lagi.
Tapi Sun masih pada posisinya, berusaha tak menghiraukan laki-laki aneh yang barusan menghardiknya.
Pria tadi keluar mobil dan dengan kesal menggandeng Sun masuk ke mobilnya, beserta barang bawaan Sun. Kemudian ia membawa Sun pergi entah kemana.
Sun hanya diam dan menurut. Karna ia merasa tak punya pilihan selain mengikuti laki-laki sok kaya ini.
"Loe itu mau kemana sih? bawa-bawa koper, nenteng-nenteng tas? ooow loe pasti abis di usir mertua kan loe, karna loe gak bisa jadi menantu yang baik, kerjaannya cuma shopping, hura-hura, jalan-jalan, gak ngurusin rumah, gak ngurusin suami?" laki-laki tadi sekarang menjelma menjadi dukun yang sok tau.
"Ooowh atau loe kabur dari rumah karna cinta loe gak di restuin, ya kan?" lanjutnya terus berceloteh.
"Loe kok diam aja sih? loe bisu? masak ketabrak dikit aja langsung bisu? amnesia sanah sekalian, biar loe lupa siapa diri loe sendiri."
"Loe bisa diem gak? jangan bikin gue sakit jiwa yah karna dengerin ocehan loe," balas Sun.
"Akhirnya loe ngomong juga."
Pria tadi tersenyum menatap wajah Sun yang basah kuyup tapi terlihat manis.
Mobil itu stop di sebuah apartemen mewah bertingkat tinggi entah berapa.
"Ini apartemen gue, sekarang loe tinggal disini untuk sementara sampai kaki loe itu sembuh, loe gak usah khawatir gue gak bakal macam-macam, oke!! oow iya kenalin, gue Jasen, Jasen Arjun, loe kenal gue kan?" tanya nya sambil menyodor kan tangan untuk bersalaman.
Sun membalas tangan Jasen.
"Gue Sun, gak gue gak kenal loe."
"What?? loe gak kenal sama gue? penyanyi terkenal yang suaranya merdu, yang job nya banyak, di puja kaum hawa dan punya banyak duit? loe tinggal di mana sih? di gunung? di laut? parah loe."
Sun tak menghiraukan pria sombong ini. Yang ia pikir setidak nya malam ini dia punya tempat tidur.
"Ya udah ayok keluar."
Pria tadi membuka pintu mobilnya. Dan juga membuka kan pintu mobil untuk Sun. Sun keluar dengan tertatih. Dia pun kesusahan untuk berjalan.
"Lama loe!!! sinih."
Jasen menawarkan punggungnya. Dengan pelan dan sedikit malu, Sun naik di punggung pria yang baru saja di kenalnya itu. Jasen menggendong belakang Sun sampai kamarnya. Semua mata memperhatikan Jasen dan Sun. Mungkin terlihat sedikit aneh, seorang publik figur, mau melakukan itu.
Sesampainya di kamar, Jasen menurunkan Sun di sofa ruang tamunya yang berwarna cream. Mengambil kotak P3K lalu membalut luka di pergelangan kaki Sun. Ternyata cukup parah, memar dan sedikit bengkak.
"Sorry yah, gue kira tadi loe penipu, soalnya sering banget gue dapet yang kaya gitu."
Sun hanya tersenyum sambil mengangguk. Senyum Sun terlihat menggoda dan menggoyah kan hati seorang penyanyi terkenal. Seorang Jasen Arjun.