SUN

SUN
Bab 8


*****


Pukul 08.00 pagi, aku menapaki anak tangga menuju dapur di lantai bawah. Ada Rain di kursi makan yang sibuk dengan gadget nya. Sambil tersenyum sendiri sampai gak sadar aku sudah duduk d hadapannya. Aku melihat Tante Melinda, maksudku mama, sedang sibuk menggoreng sesuatu di kompor kesayangannya. Aku terharu melihat akhirnya ada piring yang di sediakan untukku di meja ini. Dan juga ada dua gelas susu di samping nya. Setelah bertahun-tahun akhirnya mama menganggap ku ada di keluarga ini.


"Sun!! loe kenapa sih baper banget? ayook sarapan, jangan ngelamun gitu"


Suara Rain mengusik gumamku. Mama datang dengan semangkok kaca besar nasi goreng spesial andalannya.


"Nie... mama udah siapin sarapan buat anak-anak mama yang manis, ayook di makan" ucapnya sambil tersenyum bahagia.


"Ayoo Sun, sini mama ambilin ya" lanjutnya


Ia menyendok kan nasi ke piringku, ini sepiring nasi pertama yang ia sediakan untukku. Aku akan mengingatnya.


"Rin mau juga ma!" rengek si manja Rain


"Iya bentar, gak akan kehabisan kok"


Pagi itu adalah pagi yang menyenangkan dalam hidupku sepanjang sejarah. Aku merasa kembali memiliki keluarga yang lengkap.


"Mah!! kenapa mama gak nikah aja lagi ma? sama Om Farid misalnya? dia kan baik, perhatian lagi"


Celotehan Rain terlihat mengganggu suapan mama. Ia tersedak karna sedikit terkejut dengan ucapan Rain.


"Apaan si Rin, mama mau fokus ngurus kerja aja, buat kalian"


"Mau sampai kapan ma? mama kan butuh perhatian juga, yah kan Sun?"


Aku hanya membalas ucapan Rain dengan tersenyum, tepatnya tersenyum bingung dan takut juga kalau kalau salah bicara.


"Udah... abisin tuh sarapannya baru pergi ke campus, Sun!! abisin sarapannya!! ini weekend loh, toko kamu pasti rame"


Ia beranjak pergi sambil membereskan makannya yang belum tuntas. Aku dan Rain saling pandang penuh curiga. Mama terlihat salah tingkah saat Rain menyebut nama Om Farid.


Ya, Om Farid adalah temen mama di kantornya. Sering kali Om Farid bertandang ke rumah kami. Ia terlihat baik dan tak pernah


membedakan kami berdua. Kalau dia datang bawa martabak, pasti 2 kotak special buat kami rasa coklat kacang dan 1 kotak special rasa ketan buat mama. Karna terlalu sering hadir dalam keluarga kami, ia menjadi sangat hafal dengan apa yang kami suka dan kami tidak suka.


Om Farid adalah seorang duda, kabarnya istrinya pergi meninggal kan nya karna dulu Om Farid adalah pecandu minuman keras yang kerap kali keluar masuk bar, pastinya dengan menggandeng ledies. tapi sejak anak perempuannya meninggal 20 tahun silam, saat masih seusiaku saat kehilangan orang tua ku yakni 5 tahun, ia baru menyadari kesalahannya dan mulai kembali memperbaiki semuanya. Tapi rupanya sudah terlambat, istrinya sudah menggandeng pria lain di pelaminan saat itu.


Sekarang, dia terlihat gencar mendekati mama. Mama itu orang yang baik dan sangat penyayang sebenarnya. Hanya saja dia memang punya perangai jutek dan celetukan tajam kalau berbicara. Mama gak segan-segan memprotes sesuatu yang dilihatnya salah. Apalagi kalau soal pekerjaan dan waktu dia sangat disiplin.


*****


Aku sangat sibuk melayani customer toko hari ini. Cuaca juga sangat terik, keringatku bercucuran sampai membasahi bandana biru yang aku pakai melingkar di kepala untuk menghalangi rambutku dari pandanganku.


"Mbak ini berapa harganya?"


"Yang ini berapa mbak?"


"Mbak bungkusin kado ku ya!"


Celotehan customer yang tiada henti menghujaniku seperti menguras tenagaku.


"Mau aku bantuin gak?"


Suara yang sangat akrab di telingaku pun terdengar menyejukkan. Aku menoleh, ada Jojoe disana dengan kaos polos merahnya dan celana pendek kasualnya.


Tadinya aku bahagia bisa melihatnya disini. Tapi aku langsung teringat Rain, aku lalu memalingkan wajahku dan menjauhinya.


"Gak usah aku udah biasa" sahutku.


"Aduuuh mbak lama banget sii!!"


"Iya nih!! udah tau toko rame gini coba sewa karyawan dong!!"


Para pembeli terlihat mulai kesal. Jojoe langsung sigap membantuku. Dia mengambilkan beberapa barang permintaan pembeli dan juga membungkus beberapa kado sederhana yang mudah di di kemas.


Setelah beberapa menit, toko terlihat kembali sepi. Semua pembeli telah pergi.


"Makasih ya!" ucapku malu karna tadi aku sudah membentak Jojoe.


"Iya maaf"


"Gak mau"


"Ya udah"


"Jalan yuk entar malam, mumpung malam minggu"


"Eh sadar loe!! loe kan pacarnya Rain, dasar gila"


"Loe kan tau gue gak sayang sama dia, gue sayangnya ama loe!"


Jojoe merayuku genit. Jujur saja hatiku berbunga-bunga mendengarnya begitu, tapi... Ada perasaan Rain yang harus aku jaga. Juga mama yang sudah mulai menyayangiku.


"Eng....gak" tegasku pada Jojoe


Wajahnya berubah, ia terlihat kecewa lalu pergi keluar toko. Aku sebenarnya merasa sangat bersalah. Tuhaaaan, aku gak bisa gini terus. Perasaan ini benar-benar membebaniku.


*****


Mataku belum juga bisa terpejam. Padahal jarum jam sudah di angka 11 malam. Aku membaca komik kesukaanku sambil duduk di kasurku.


"Tok tok tok" suara jendela kamarku di ketuk oleh sesuatu.


Aku membukanya, ada Jojoe disana. Kelihatannya ia benar-benar gigih ingin jalan bersamaku malam ini.


"Gila loe!!! manjat pake apa loe? entar ketahuan satpam di teriakin maling baru tau?"


"Masi gak mau jalan ama gue?" wajahnya memelas.


"Mau kemana sih?"


"Keluar aja bentar"


Akhirnya entah karna apa aku turun kelantai bawah dan keluar rumah. Dengan sangat pelan aku mengendap-endap takut orang rumah ada yang bangun.


Sampai di depan rumah, Jojoe menghampiriku lalu menggandengku. Kita berjalan kaki di pinggiran komplek, berjalan terus tanpa arah.


"Gue seneng loe mau keluar rumah demi gue" ucapnya memulai cerita.


"Lebih tepatnya, gue gak mau kalo orang rumah bangun dan mergokin kita, entar bakal salah paham lagi si Rain"


Kami terus berjalan sambil mengobrol.


"Sun!! gue tau sebenernya loe sayang juga kan ama gue?"


"Teruss kenapa? gue bisa apa? gue gak mau ngecewain Rain, dia lebih butuh loe"


Tangan Jojoe makin erat menggandeng tanganku, terasa sangat hangat dan nyaman.


"Truss loe gak mikirin perasaan loe?"


"Joe!! loe gak tau selama ini mereka udah berkorban banyak buat gue, gue gak bisa egois gitu aja"


Tiba-tiba obrolan kami terhenti. Ada segerombolan perempuan berpakaian kurang sopan dan beberapa lelaki berlarian. Di susul oleh beberapa petugas di belakang mereka.


"Weeei jangan kabur!!!" teriak salah satu satpol


kami yang sedang berjalan berdua pun ikut panik. Dan spontan ikut lari karna takut.


Kami terus berlari sambil bergandeng tangan mencari-cari barang kali ada yang bisa di jadikan tempat bersembunyi. Rupanya salah seorang dari petugas itu melihat kami, ia terus mengejar kami tanpa ampun sambil berteriak,


"Hai pekerja malam jangan kabuur!"


Sepertinya ini adalah razia komplek pekerja sex yang ketahuan beraksi.


Kami yang gak tau apa-apa ini harus ikutan lari karna takut kena imbasnya. Anehnya, ini terasa menyenangkan untukku dan Jojoe. Kami berdua berlari tanpa melepaskan tangan kami satu sama lain. Sambil di barengi gelak tawa bahagia karna terasa konyol.


Joe.... Aku bahagia malam ini, seandainya bisa terus begini tanpa harus ada yang tersakiti.