SUN

SUN
Bab 35


Seorang dokter wanita berambut pendek, dan terlihat sudah berumur empat puluhan, sedang memeriksa Sun di dalam sebuah ruangan. Hanya mereka berdua dan seorang perawat yang membantu dokter itu sambil sesekali keluar ruangan entah untuk urusan apa.


"Keluhan?" tanyanya singkat.


"Eeem pusing, mual, dingin," Sun sedikit canggung menjawab pertanyaan dokter itu.


"Riwayat penyakit?"


"Eem gak ada dok."


Dokter itu kemudian memeriksa detak jantung juga mengambil sample darah.


"Saya juga butuh sample urin mu," ucap dokter itu sambil menyodorkan gelas kecil.


Sun agak bingung tapi kemudian dia menuruti perintah sang dokter.


Dia menuju kamar mandi. Tapi sebelum dia masuk ke dalam wc, Sun berdiri di hadapan cermin besar yang berada di sudut dinding kamar mandi. Dia menatap dirinya sendiri sambil mengingat apa saja yang telah ia lakukan dengan Joe.


Entah kenapa dia merasa takut kalau dia hamil. Kerena terakhir dia berhubungan badan dengan Joe adalah saat dia berusaha meyakinkan Joe agar mau menikahi Rain. Hampir dua bulan yang lalu. Di tambah lagi sejak saat itu dia belum mendapatkan tamu bulanan.


"Aaaaah."


Sun menarik nafas panjang, dia berusaha tenang dan berharap semua baik-baik saja.


Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi. Menyodorkan gelas kecil berisikan sample urinnya.


"Sepertinya kamu sudah bisa menebak hasilnya ya?" tanya dokter itu seperti mengejek.


Sun tersenyum kecut.


"Kenapa?" tanya Sun kembali.


"Sebelum kamu kasih sample ini ke saya, pasti banyak yang kamu pikirkan, itu sebabnya hampir setengah jam kamu di dalam kamar mandi."


Sun diam, dia tidak mengelak karena apa yang di katakan dokter itu benar. Kelihatannya dia sudah sangat berpengalaman sehingga dia tahu benar keadaan pasiennya.


"Tunggu sebentar!" pinta dokter jutek itu.


Sun melirik name tag yang menempel pada jas putih dokter itu. Ernesta, itu nama yang tertulis disana.


"Punya suami?" tanyanya lagi masih dengan nada ketusnya.


Sun menggeleng pelan.


"Pacar?"


Lagi-lagi Sun menggeleng.


"aktif berhubungan sex?"


"Baru dua kali," jawab Sun.


"Sama yang barusan ngantar kamu?"


"Bukan, dia majikan saya."


Dokter itu kemudian menunjukkan hasil tespack batangan dengan garis dua merah.


"Kamu hamil," jelas dokter Ernesta.


Sun kaget, perasaannya hancur, dadanya terasa sesak. Dia berusaha menahan airmata yang ingin jatuh sambil memegangi perutnya.


"Saya sudah bilang kamu pasti bisa menebak hasilnya."


"Tolong jangan beritahu hasil ini sama majikan saya," pinta Sun sedikit memohon.


"Oke, saya menjaga privasi pasien saya. Meskipun saya gak yakin dia majikan kamu," ucapnya sambil membuka pintu kamar.


Sun tahu dia harus keluar sekarang.


"Tebus obatnya di apotik," ucap dokter itu sambil menyodorkan lembaran resep obat.


"Sun loe gak papa?" Jasen menyambutnya di ambang pintu dengan wajah cemas.


Sun tersenyum dan menggeleng pelan.


"oke, makasih ya dok," ucap Jasen sambil menggiring Sun pergi.


Mereka masuk ke mobil dan melaju pergi.


"Kita langsung pulang?" tanya Jasen.


"Eeem cari makan dulu deh," jawab Sun.


"Oke, gue tau tempat makan yang enak."


Mobil Jasen berhenti di sebuah restauran kecil tapi terlihat asri dan mewah.


Mereka memesan sebuah tempat makan yang terletak di tepi ruangan. Kursinya tepat di dekat dinding yang terbuat dari kaca menghadap ke arah luar. Sehingga terlihat pemandangan lalu lintas diluar sana.


"Loe tunggu sini ya, gue ambil pesanan dulu, loe mau makan apa?" tanya Jasen.


"Eeem sembarang aja."


Jasen pergi menuju ke tempat pemesanan menu yang terletak di area paling depan. Sun tiada henti bersyukur, dipertemukan oleh orang sebaik Jasen, meskipun sikapnya kadang menjengkelkan.


"Sun?"


Tiba-tiba seseorang menyapa Sun. perempuan putih berwajah oriental. Sun lupa dia siapa, tapi dia mencoba terus mengingat.


"Loe lupa sama gue? gue Sissy ingat gak?"


"Sissy?" Sun masih bingung.


"Gue temennya Joe, loe inget yang malem-malem loe diajak dugem di cafe?"


Akhirnya Sun ingat, malam itu, malam dimana dia menyerahkan kesuciannya pada Joe.


"Oh, loe kerja disini?" tanya Sun.


"Iya nih," jawabnya.


Sissy kemudian duduk di samping Sun.


"Gimana hunungan loe sama Joe?" lanjut Sissy


"Eeem gak, gue udah gak sama dia."


"Loe inget gak waktu gue bilang loe cewe satu-satunya yang Joe ajak ke tempat itu? gue bohong. Joe sebenernya udah sering ngajak cewek ke cafe itu, cafe itu langganannya dari masih sekolah. Dan setiap cewek yang diajak kesitu, pasti di tidurin sama dia."


Sun terpaku, dia seperti disambar petir mendengar penjelasan Sissy.


"Kenapa loe bisa bilang gitu?" tanya Sun tak percaya.


"Karena gue salah satu korbannya. Loe juga kan?"


"Loe korbannya?"


"Iya, gue sama Joe itu temenan tapi hubungan kita lebih dari itu, kita gak pernah ada kata pacaran tapi gue sama Joe udah sering hubungan badan. Sampe gue tau gue hamil, dan karena waktu itu kita masih sekolah, jadi gue sama Joe sepakat buat gugurin kandungan gue."


Sun langsung memegangi perutnya. Mengingat baru saja dia tahu kalau saat ini dia tengah mengandung anak Joe.


Apa Joe juga bakal ngelakuin hal yang sama saat dia tau gue hamil?


"Tapi syukur deh kalo loe udah gak sama dia, dia itu playboy kelas kakap, gue aja syukur bisa lepas dari dia meskipun awalnya gue strees banget karena gak bisa lupain dia."


"Sun? ini temen loe?" Jasen datang dengan membawa nampan berisikan makanan.


"Eh, loe datang sama pacar loe? kok loe gak ngomong sih? oke have fun yah gue lanjut kerja dulu," Sissy kemudian pergi.


Jasen meletakkan beberapa piring makanan di atas meja.


"Loe kenapa? muka loe kaya gak mood?" tanya Jasen.


"Aaah enggak."


Sun berusaha bersikap biasa saja padahal hatinya benar-benar merasa gelisah.