SUN

SUN
Bab 2


*****


Aku terus saja melihat ke arah boneka monyet yang masi terbungkus itu. Tiap hari aku membereskannya di toko, tapi kali ini ia terpajang di atas tempat tidurku. Satu barang dengan rasa yang berbeda, boneka itu menjadi kado pertama yang benar-benar di berikan kepadaku, Sun.


"Cieeeee abis terima kado nie, loe kok gak kasih tau gue sih loe punya gebetan, kenalin dong."


Rain tiba-tiba muncul masuk kamarku, cepat-cepat aku selipkan kartu ucapan dari Jojoe ke bawah bantal. Aku tersenyum malu.


"Pacar pertama ya, gimana rasanya?"


"Apaan sih? biasa aja kali."


"Biasa aja tapi kok merah gitu pipinya."


"Riiin..."


Tiba-tiba suara Tante Melinda memanggil Rain. Yah, Rin memanglah panggilan kecil Rain.


"Yaa mah."


"Mama mau keluar sebentar ya, mama udah siapin makan di meja, kamu jangan kelamaan begadang, oke."


Ucapnya sambil mengecup dahi Rain, ia berlalu tanpa memperdulikan ku, aku kembali menatap boneka di sampingku sambil berpikir, apa mungkin Jojoe bisa menyayangiku? menggantikan kasih sayang orang tua yang selama ini gak pernah aku dapatin.


"Sun... Sun!!"


panggilan Rain sampai gak ku hiraukan.


"Makan yuk laper, nih."


"Nanti aja, kamu duluan aja."


"Udaah ayok, kamu gak kan ngambek kan karna mama gak nyuruh kamu makan?"


Kita pun menuju dapur, cuma ada satu piring dan segelas susu disana. Yah,memang selalu begitu, bertahun tahun Tante Melinda gak pernah nyiapin piring makan buatku. Aku selalu ngambil sendiri di rak piring, apalagi susu, aku bahkan gak pernah minum susu buatannya, kalo Rain nyuruh aku minum susunya, aku selalu bilang aku gak suka susu. Padahal aku pengen banget minum susu buatan mama tiri ku itu.


"Nih aku ambilin piring ya," Rain terlihat berusaha membesarkan hatiku. Dia memang selalu begitu.


"Udah aku bisa ambil sendiri kok."


Kami pun makan malam berdua. aku memang jarang, bisa di hitung berapa kali selama aku tinggal dirumah ini, makan satu meja sama Tante Melinda.


"Eh, Sun kenalin dong gue sama pacar baru loe."


"Pacar apa sih, gue gak punya pacar."


"Jadi kalian belum jadian?"


Aku diam dan lanjut makan, aku belum siap bilang ke Rain kalo kado itu dari Jojoe.


"Kliiing...." Hp Rain berdering.


"Eh jojoe chat gue nih."


Hatiku berdesir mendengar nama Jojoe.


"Bilang apa?" tanyaku mulai penasaran.


"Eh dia ajakin Video Call, gimana nih, gue alasan apa? gue belum siap."


"Bilang aja lagi di jalan."


"Ih gue tadi bilang gue lagi dirumah."


"Ya udah bilang aja mau tidur ngantuk."


"Bener juga loe..."


Malam itu aku bener-bener di buat gelisah sama kado monyet ini. Aku bingung sama perasaan ku sendiri. Senyuman Jojoe terus sliweran di pikiran ku. Ya ampun dilema macam apa ini, Jojoe itu gebetan Rain gue gak mungkin suka sama cowok yang sama.


*****


"Eh sun, loe kenapa sih? semaleman loe gak tidur ya? muka loe kucel banget."


"Iya nih."


"Pasti mikirin pacar loe ya?"


Tante Melinda yang sibuk menyiap kan sarapan melirik tajam ke arah ku.


"Hidup yang bener dulu jangan pacar pacaran," sahut nya.


Aku tak menghiraukan ocehannya aku lalu pergi begitu saja.


"Sun gak sarapan dulu?" tanya Rain.


"Gak usah sarapan, minta aja makan sama pacarnya sana," sahut Tante Melinda ketus.


Aku hanya menghela nafas, lalu pergi.


Sampai di depan toko aku melihat setangkai mawar terletak di atas rak-rak sepatu. Ada kartu ucapan bertuliskan;


Semangat ya Sun


Entah kenapa hatiku merasa sangat bahagia menerima bunga itu. Padahal sebelumnya aku sudah sering menerima bunga dari cowok-cowok Rain yang mengatas namakan ku. Tapi baru Jojoe yang berhasil membuatku tersipu.


Rasa lelahku seolah hilang, dengan semangat dan senyuman aku membuka Toko Kado itu.


pukul 10.00 saat hujan turun sangat deras. Kayanya toko bakalan sepi kalo hujan begini.


"Kliiiing...." Hp ku berdering, aku menerima pesan dari Rain.


"Sun sorry ya gara-gara gue loe di omelin mama."


"Gak papa Rain," balas ku.


"Sun, Jojoe nembak gue nih."


Pesan itu seolah menjadi petir yang menyambar ku.


"Loe jangan terima ya," balas ku.


Tapi batre hp ku terlanjur habis, pesan ku belum sempat terkirim. Aku gak bisa bayangin kalo Rain nerima Jojoe jadi pacarnya. Aku takut aku gak bisa ngendalikan perasaanku sama Jojoe, aku gak mau mencintai cowok yang sama dengan Rain. Aku gak mau menjadi seperti mamaku. Aaaah pikiranku bener-bener kacau.


30 menit setelah batrei hp ku terisi. Cepat-cepat aku nyalakan hp ku dan kembali mengirim pesan pada Rain supaya dia gak nerima Jojoe. Tapi, telat. pesan Rain masuk.


"Gue terima Jojoe, besok dia ngajak ngedate."


Aaaach Tuhaaan!! hapus perasaanku pada Jojoe Tuhan!! ku mohon. Hati ku menjerit tak karuan.


*****


Pukul 21.00 saat aku sampai di rumah. Aku gak lihat siapapun di sana. Tanpa berpikir apapun aku menuju kamar Rain. Aku lihat dia sedang sibuk dengan Gadget nya.


"Akhirnya loe pulang juga, sun!! bagusnya gue pake baju apa besok?" ia melompat dari ranjang lalu membuka isi lemarinya yang penuh baju.


"Tunggu dulu deh, loe beneran jadian sama Jojoe?"


"Iya ... kenapa?"


"Truss loe pake nama gue?"


"Hehe iya sih."


"Kenapa loe gak ngomong yang sebenernya aja sih, gue gak mau ya ada masalah kedepannya, itu bukan urusan gue, kalo dia tau loe boongin dia."


"Gue bakal jujur kok, tapi gak sekarang, ayooo lah pliiis bantuin gue."


"Ya yaaaa... "


Aku benar-benar gak habis pikir sama Rain. Dia cantik, baik, dan supple tapi selalu aja dia gak pd kalo kenalan sama cowok, dia selalu pake nama ku dan kadang kadang pake potoku.