SUN

SUN
BAB 36


*Halo para reader setia SUN maaf ya karena suatu kendala SUN beberapa hari kemaren gak pernah up. Tapi untuk kedepannya saya akan berusaha agar novel SUN selalu up setiap hari. Mohon dukungannya dengan kritik dan saran, like dan vote nya. Terimakasih😘


Karma itu ada, percayalah!! sesuatu buruk tidak pernah terjadi begitu saja*.


Jam dinding berdetak di angka sebelas malam. Tapi seorang wanita dengan dress putih masih mematung di kursi meja makan. Beberapa menu makanan terlihat telah dingin di atasnya. Wajah Rain terlihat gelisah dan kecewa. Berulang kali dia mengirim chat ke nomor suaminya tapi tidak ada balasan.


Ya, dia tengah menunggu suaminya yang belum juga pulang dari kerja padahal sudah larut malam. Kabarnya pun tak jelas kemana.


Hingga akhirnya Joe mengangkat telphone dari Rain.


"Kok belum pulang?" sebisa mungkin Rain mengatur nada bicaranya agar tidak memperburuk suasana.


"Gue lembur," jawab Joe singkat.


"Kenapa gak kasih kabar? gue udah nunggu buat makan malam bareng."


"Makan aja duluan, gue udah makan tadi diluar."


Joe langsung menutup ponselnya. Meninggalkan kecewa di hati istrinya.


"Belum tidur Rain?"


Rupanya sedari tadi nyonya Jenny memperhatikan Rain.


"Aah belum mah, nunggu Joe sekalinya dia lembur."


"Ya udah, beresin aja makanannya, terus kamu istirahat!! orang hamil gak boleh begadang nanti kurang darah."


"Iya mah."


Rain beranjak dari kursinya. Membereskan apa saja yang ada di atas meja. Dengan wajah kesal dia melakukan itu.


Harus sesakit inikah menjadi istrimu?


*****


Dengan sedikit membanting, Joe meletakkan ponselnya. Wajahnya kesal. Kali ini dia berbohong, tidak ada lembur malam, dia hanya malas pulang.


"Istri mu lagi?"


Seorang wanita dengan blezer putih dan rok pendek sexi duduk di sofa ruangan Joe.


"Iya siapa lagi," jawab Joe.


"Kalo gak cinta ceraikan aja," sahut wanita yang sudah agak berumur tapi masih terlihat cantik itu.


"Aku bahkan sama sekali gak mau nikahin dia kalo bukan karna Sun."


"Heeh, jawaban yang konyol."


Wanita itu adalah sekretaris Bianca. Wanita sexi yang memutuskan melajang hingga di usianya yang hampir menginjak 40 tahunan. Karir yang bagus, body yang mulus membuat dia terus saja memilih-milih pasangan. Seleranya menjadi tinggi mengingat dirinya yang nyaris perfect di mata laki-laki.


Tapi sejak melihat Joe, berondong tajir yang mewarisi Cristal Grup dia mulai berubah pikiran. Wanita terkadang labil jika sudah urusan uang. Bianca mulai menaruh hati pada Joe.


Joe yang dalam kondisi tertekanpun mulai merasa agak nyaman berada di samping Bianca. Ini bukan kali pertama dia berbohong pada istrinya kalau harus lembur malam. Padahal dia menghabiskan waktu bersama sekretarisnya itu, entah di kantor, cafe atau hotel. Meskipun hanya sekedar menemani Joe untuk minum atau menghilangkan stress.


Bianca menghampiri Joe. Memeluknya dari kursi belakang.


"Mau minum?" tanya Bianca dengan nada genit.


"Aaaah, boleh juga."


"Barbara Cafe ya."


*****


Alunan music menggoyang kaki siapa saja yang mendengarnya. Kehadiran Joe disambut hangat oleh teman-teman Joe yang sudah hafal. Hafal kalau Joe mampir ke cafe, berarti dia sedang banyak pikiran. Apalagi kalau sudah menggandeng perempuan, gak akan lolos.


Ini memang bukan kali pertama dia datang bersama Bianca. Tapi sampai saat ini Joe sama sekali belum pernah menyentuhnya. Entah karena Bianca bukan seleranya atau karena Sun menjadi alasannya.


"Udah sikat aja sekalian, lagian istri loe juga lagi hamil, bukan anak loe lagi," lanjutnya.


Joe hanya tersenyum, sambil meneguk segelas minuman beralkohol. Bianca mendengar saran yang kedengaran jahat itu. Tapi dia hanya diam sambil membatin setuju. Selain karena dia menyukai bos mudanya itu juga karena dia sudah lama melajang sejak terakhir kalinya dia putus dengan pacarnya.


Ponsel Joe berulang kali berdering. Tapi berulang kali pula dia mematikannya tanpa melihat siapa yang menelphone. Dia pikir mungkin lagi-lagi istrinya yang menjengkelkan itu.


"Gak diangkat?" tanya Bianca.


"Palingan juga Rain."


"Bosen ya sama istrimu? sama aku aja yuk."


Bianca memeluk pinggang Joe. Meraba dadanya dengan genit.


Joe yang sudah setengah mabuk tidak bisa menahan rayuan Bianca. Dia akhirnya membawa Bianca ke room yang di sediakan pihak cafe.


Setelah menutup pintu kamar. Dengan ganas mereka saling berpelukan. Membuka pakaian satu sama lainnya. Hingga tersisa bra maroon dan cd dengan warna senada.


Joe mencium bibir Bianca dengan liar. Tangannya meraba dada Bianca.


Sekretaris cantik yang sudah lama haus akan sex inipun membalasnya dengan liar juga. Menciumi leher, dada dan perut Joe.


Selagi mereka sedang asik intim, rupanya ponsel Joe berdering lagi. Bukan dari Rain, melainkan dari Sun.


Sun sepertinya ingin mengatakan bahwa dia tengah hamil. Tapi tidak mendapat respon apapun. Sehingga dia memutuskan untuk mengirim chat.


Joe, gue hamil, gue harus apa? bisa ketemu gak besok? balas kalo loe liat chat gue!!


*****


Joe sampai dirumah setelah pukul dua dini hari. Dia memasuki kamar dan melihat Rain telah telungkup bertutupkan selimut disana.


Joe melepas pakaiannya dan menuju kamar mandi. Menyadari suaminya sudah pulang, Rain terbangun. Merapikan pakaian Joe yang diletakkan begitu saja di lantai. Rain mendapatkan ponsel Joe yang tergeletak. Membukanya dan mendapati banyak panggilan tak terjawab dari Sun yang belum terbuka.


Rain juga membaca chat dari Sun yang belum terbuka. Berisikan kabar bahwa Sun tengah hamil.


Rain mulai panik, dia menghapus semua chat dan panggilan tak terjawab dari Sun. Dia tidak mau kehamilan Sun akan membuat rumah tangganya yang baru saja dia bangun, hancur. Terutama karena dia tahu Sun hamil darah daging Joe sedang kan bayi yang ada di kandungannya jelas-jelas bukan anak suaminya.


Joe pasti akan meninggalkannya detik itu juga kalau dia tau Sun tengah hamil.


Enggak!! gue harus lakuin apapun biar Joe gak tau kalau Sun hamil.


Rain kemudian memblokir nomor Sun. Agar dia tidak bisa menghubungi suaminya lagi.


"Siapa yang suruh buka hp gue?"


Joe sedikit membentak.


Rain terkaget, wajahnya panik dan gelagatnya menjadi salah tingkah.


"Enggak gue tadi beresin pakaian, dan ada hp loe juga di lantai."


Joe merebut ponselnya dan melihat isinya yang sudah bersih tanpa jejak sedikitpun dari Sun yang telah menghubunginya.


"Lain kali jangan buka hp gue tanpa ijin."


Ucap Joe sambil berlalu.


Rain terdiam, dia benar-benar merasa Joe tidak memperlakukannya sebagai seorang istri.


Sekarang loe bisa acuhkan gue Joe. Tapi nanti, cuma gue yang ada di hati loe.



Sekretaris Bianca, usia 38 tahun.Cantik, body mulus, sexy, karier bagus. Perfect woment tapi masih lajang karena pemilihan.