SUN

SUN
Bab 1


*****


Hai... aku Sun, mungkin mamaku kasih nama itu ke aku karena dia ingin aku selalu bersinar seperti matahari, meskipun matahari selalu sendiri. Kisah ku mungkin terdengar seperti cerita karangan yang terkesan di buat-buat. Tapi memang itu yang aku alami.


Aku lahir dari hubungan gelap mama dan papaku. Kebayangkan gimana sakitnya istri papaku waktu tahu suaminya punya anak dari perempuan lain. Mungkin karma itulah yang harus aku tanggung sekarang. Mamaku dan papaku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Malam itu jadi malam terpedih dalam hidupku, aku melihat mereka meregang nyawa tanpa bisa berbuat apa-apa.


Tante Melinda, istri papaku, yang sampe sekarang gak pernah mau aku panggil mama. Mau gak mau merawatku dirumah peninggalan papa. Aku tahu itu adalah sebuah pengorbanan besar, dia membesarkan anak hasil perselingkuhan suaminya dengan perempuan perebut kebahagiaannya. Makanya, aku gak pernah protes kalau dia memperlakukan ku gak adil. Aku sadar posisiku, aku pun gak pernah menuntut apa-apa, meskipun sebenarnya aku pengen banget dia tersenyum waktu aku bahagia, pengen dia semangatin waktu aku terluka, pengen banget dia anggap aku selayaknya anaknya. Tapi, dia mau mengurusku sampai sebesar ini saja aku sudah syukur.


Tante Melinda punya sebuah Toko Kado dan Accesories di pinggir jalan dekat simpang lampu merah. Letaknya strategis banget, setiap weekend pasti rame banget. Aku menjaga toko itu setiap hari, yah... aku emang gak lanjutin kuliah, abis lulus SMA aku mutusin buat bantu tante Melinda majuin usahanya aja, lebih tepatnya aku sadar diri.


"Permisi... Pakeeet!!"


Pagi-pagi gini udah ada aja pak Kurir antar paket. Ku terima kotak berukuran sedang bertulis kan untuk sun. Tiba-tiba aja paket itu di sambar sama Rain. Ya... yaa, aku tau itu bukan paket untukku, Rain pasti pake namaku untuk kenalan sama cowok dan cowok itu kirim hadiah ke Rain tapi tulisannya, untuk Sun.


Rain, dia saudara tiri ku, anak sah papaku dan tante Melinda. Umur kita gak beda jauh, cuma beda beberapa bulan aja, lebih tua dia pastinya. Tapi dia jauh punya sikap dewasa dari pada aku, dia memang kadang suka jail, tapi dia orang baik. Tuhan seolah mengirimnya untuk menjadi malaikat pelindungku. Dia gak pernah sekalipun menganggap aku orang lain. Dia selalu bersikap aku ini adiknya, apa yang dia punya itu punya aku juga.


"Sorry yaa Sun gue pake nama loe lagi... abis gue gak Pd sieh..."


"Yang penting jangan pake muka gue aja, kan kasian ntar loe, kalo cowok loe beneran suka ama gue."


"Apaan sii cantikan juga gue."


"Apaaan isinya? buka dong!! sapa tau bisa buat gue."


"Ih mau bangeeet, palingan juga coklat kalo gak boneka, cowok mah otaknya dangkal ngasi kado itu itu mulu."


"Iyaaa dari pada di kadoin nasi goreng, kan basi pas sampe sini."


"Issssh apaan sii, garing tau gak becanda loe."


Pas Rain buka kadonya, isinya sempet buat kita berdua bingung, isinya buku Dairy, ada surat di dalam buku itu tulisannya,


hai Sun...


loe pasti bingung kenapa gue kasih buku dairy, mulai sekarang loe tulis perasaan loe ke gue di buku dairy ini ya, ntar kalo udah penuh loe bisa kasih ke gue, jadi gue bisa tau gimana perasaan loe ke gue, suka, benci, jengkel atoo cinta. janji ✌️


from. Jojoe


"Cieeeeeeee, romantis banget si Rain, Jojoe sayaang."


"Apaan sih sun, gak jelas banget deh ni orang, nih buat loe ajah."


Rain sodorkan Dairy berwarna biru langit itu padaku.


"Palingan gue pake nulis bon di warung sebelah, haha."


"Terserah loe deh, udah gue mau ke campus dulu, jaga toko yang bener."


"Jaga toko yang bener, sapa tau Jojoe beli kado disini eh di kirimnya kesini juga."


"Gajek loe ..."


Langit agak mendung waktu aku liat Rain menaiki Scuter Maticnya. Kehidupanku memang berbeda darinya. Tapi kita tak pernah merasa perbedaan itu ada diantara kita. Aku memasukkan buku Dairy tadi ke dalam laci. Tiba-tiba ada sebuah poto yang jatuh dari selipan bukunya. Aku lihat poto seorang cowok cool dengan sweater biru di depan mobil sedan berwarna merah. Mungkin itu kali ya potonya Jojoe? Aku mengambil poto itu dan mengembalikan nya dalam selipan buku.


Suara seorang cowok dengan sweater abu membuyarkan lamunanku.


"Eh sorry mas, gak liat mas masuk tadi, yang mana?" tanyaku malu.


"Yang ini..." Ia menunjuk sebuah boneka monyet berwarna coklat berukuran sedang, dan belum sempat aku menjawab cowok itu nanya lagi.


"Kalo gue kasih ke gebetan gue kira kira dia suka gak ya...?"


"Tergantung sii mas kan gak semua orang suka boneka monyet."


"Kalo loe suka gak?"


"Suka mas kebetulan saya suka banget boneka monyet."


"Kenapa? jangan-jangan loe juga suka pisang ya kaya monyet, atau suka gelantungan juga?"


"Apaan, gak gitu juga kali."


Aku tersenyum denger cowok itu bergurau, dia keliatan pengen deket sama aku, tapi aku gak bisa liat wajahnya, karna dia pake masker hitam.


"Ya udah ini aja satu, tolong di bungkus parcel cantik yah pake pita."


"Oke...."


"Aku minta juga kartu ucapan dong."


"Iya mas."


Aku membungkus boneka monyet itu, sedangkan cowok tadi menulis sesuatu di kartu ucapannya.


"Kartu ucapannya mau di masukin gak?" tanyaku.


"Gak usah ... nih uangnya."


Ia memberi selembaran uang merah, aku sibuk mencari uang kecil di laci kasir untuk kembaliannya. Tanpa aku sadari cowok tadi udah pergi, aku lihat bingkisannya tertinggal, buru-buru aku mengejarnya yang masih terlihat di depan toko.


"Mas, kadonya ketinggalan," teriakku.


Tapi cowok itu malah diam, ia membuka maskernya lalu tersenyum,


"Buat kamu..." Ucap nya, seraya masuk mobil dan berlalu pergi.


Aku agak bingung, aku kembali ke meja kasir dan membuka kartu ucapan yang tadi ia tulis.


Sun, kamu cantik, senyummu manis,ini untukmu, Jojoe


Jantungku berdebar, baru kali ini aku menerima hadiah langsung dari seorang cowok. Sebelumnya aku gak pernah ngerasa kaya gini. Padahal udah sering aku terima kado atas namaku tapi gak pernah ada yang bikin hatiku bergetar begini. Aku tersenyum,


"Heeeem Jojoe," bisikku.