SUN

SUN
Bab 18


Hampir semalaman mataku tak bisa terpejam. Di pikiran ku terus saja berputar masalah Rain, apa iya dia menjalin hubungan dengan om Farid? yang sudah jelas menjadi papa kita? tapi ini baru menginjak 5 bulan pernikahan mama, masih seumur jagung. Bagaimana Rain bisa tega melakukan itu pada mama, pada hubungan keluarga kita. Tidak, Rain tidak mungkin melakukan itu, pasti ini hanya kesalahpahaman ku saja. Aku harus menanyakan langsung pada Rain. Aku gak bisa hanya menebak-nebak seperti ini lalu menyalahkan Rain dari satu sisi.


Ku putuskan menerobos kamar Rain yang memang tidak terkunci. Tak ada siapa pun disana. Tempat tidur Rain terlihat sangat berantakan. Buku-buku kampusnya terlihat berserakan di meja belajarnya, kamar Rain terlihat sangat tidak terurus. Padahal tadinya Rain orang yang sangat rajin. Bi Nur bahkan hampir tidak pernah membereskan kamarnya karena memang selalu rapi. Tapi ini? aku seperti melihat Rain yang berbeda dengan kebiasaan barunya, sikap anehnya, aku seperti tidak mengenal Rain yang sekarang.


Aku tadi nya akan keluar kamar karena ku pikir mungkin saja Rain sudah berangkat ke kampusnya. Tapi kemudian aku mendengar suara gemericik air washtaffle dari dalam kamar mandi Rain. Aku mendekat ke pintu kamar mandi yang tertutup. Ku dengar jelas suara Rain yang sedang muntah-muntah. Aku mulai khawatir apa penyakit Rain kambuh? atau apa?


"Hueeeek.... hueeeek"


Berulang kali aku mendengar dia terus saja muntah sambil diiringi suara aliran air dari keran.


Sampai tanpa ku sadari pintu kamar mandi Rain terbuka. Aku tersentak, aku melihat wajah Rain sangat pucat.


"Rain? loe kanapa? loe baik-baik aja kan?" tanyaku cemas


Dia tidak menjawab malah langsung menerobos tubuhku dengan wajah kesalnya. Aku mengikutinya dari belakang sambil tidak berhenti bertanya.


"Rain, jawab gue dong, elo gak papa kan?"


Rain masih saja tidak menjawab, dia malah sibuk mengikat rambutnya sambil berdiri di depan cermin.


"Rain...!!" aku mulai kesal, ku tarik bahu Rain sampai dia berbalik ke arahku.


"Sun, cukup!!! inget loe bukan siapa-siapa gue sampe loe harus tau semua urusan gue"


Rain membentakku. Aku benar-benar kaget mendengarnya. Bukan karena bentakan nya yang keras, tapi karena kata-katanya yang begitu menyakitkan. Selama ini dia yang selalu melindungiku jika mama menyakitiku. Dia yang selalu membesarkan hatiku untuk tetap tinggal dirumah ini. Dia yang paling menganggap keberadaanku. Tapi sekarang? apa yang barusan aku dengar?


"Rain...?" hanya kata-kata itu yang bisa ku ucapkan.


Segitu sakit hatinya kah kamu sampai kamu tidak lagi menganggapku siapa-siapa.


Rain diam, dia membuang muka nya, terlihat jelas penyesalan di matanya.


"Loe kenapa sih Rain? ngomong sama gue kenapa?" lanjut ku dengan mata berkaca-kaca


"Gue harus ngomong apa? siapa yang bisa gue percaya? elo??? saudara yang selama ini gue sayang, gue bela, tapi nusuk gue dari belakang, iya??? salah apa gue Sun? kurang apa gue?"


Air mata Rain mengalir deras, lebih deras dari air mataku. Dia yang terlihat lebih perih dan lebih tersakiti.


"Atau mama? yang udah gak peduli ama gue? yang sekarang lebih peduli ke elo? lebih care ke elo? karena loe lebih baik, lebih rajin lebih perhatian, lebih ini lebih itu? iyaaa? gue harus ngomong ke siapa?"


"Rain, dengerin gue, oke gue salah..." aku coba melunak, berusaha menjelaskan dan menenangkanya.


Tapi Rain menghempasku. Aku terdorong keras ke ranjang tidur nya.


"Aaaaaaaaccch" Rain berteriak sambil menghambur isi meja riasnya. Semua parfum, pupur dan alat make up lainnya hancur berserakan di lantai.


Papa tiba-tiba masuk. Melihat Rain yang mengamuk, papa langsung memeluknya. mengelus kepala Rain, sambil berbisik


"Ssssst gak papa sayang, gak papa"


Aku tertegun, Rain langsung melunak. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu papa. heh, pertunjukan apa ini? bukan seperti ayah dan anak, tapi lebih ke sepasang kekasih yang sedang kasmaran.


Aku semakin muak dengan perlakuan papa. Seolah semakin jelas ada hubungan diantara mereka. Aku berjalan keluar kamar tanpa menghiraukan mereka.


"Kamu gak papa kan?"


Masih terdengar obrolan mereka dari dalam kamarku yang menghadap ke kamar Rain.


"Iya gak papa"


"Ya udah aku panggil bi Nur buat beresin ini ya" kata papa


Aku masih terduduk kesal di atas kasur ku. Sampai aku melihat papa menghampiriku.


Aku membuang muka, aku benar-benar muak dengan lelaki hidung belang ini.


"Ada apa sih Sun?" tanya nya


"Gak papa" jawabku ketus


"Kamu kan tau Rain itu labil banget, gak cocok sedikit ngambek, apa-apa ngamuk, kamu harus ngalah dong Sun!" papa seperti berusaha menasehati ku.


Entah karena dia ingin menutupi keburukannya atau apa, tapi yang jelas dia gak lebih dari cangkang kosong di mataku.


"Ini bukan cuma masalah berantem anak-anak kecil om sehingga aku harus ngalah, ini masalah Rain, ada yang gak beres sama dia, aku mergokin dia ngedate sama cowok tadi malem, aku yakin cowok itu yang udah bikin Rain berubah, aku bakal cari tau sampe ke akarnya, sampe dapet"


Ucapan ku terdengar mantap, aku melihat om Farid sedikit panik mendengar perkataanku. Dia keluar kamarku dengan wajah sedikit kesal. Aku semakin mantap membongkar kejahatan om Farid. Pertama aku harus beritahu mama. Semoga dia percaya, oh tidak! mama pasti gak akan percaya. Mungkin aku harus hubungin Joe.