SUN

SUN
Bab 24


Joe membuka pintu rumah. Berjalan masuk sambil mengendap endap karena waktu telah di angka 3 pagi. Tak ada yang memergoki kedatangannya yang larut. Dia menarik nafas lega saat tiba di depan kamarnya. Merasa berhasil menutupi kesalahannya. Dia buka perlahan pintu itu agar tidak menghasilkan suara. Dan pelan-pelan kembali menutupnya.


Joe terperanjak saat ia menyalakan lampu kamar. Sosok tua dengan daster biru bunga-bunga sedang duduk di pinggir ranjangnya. Oma rupanya menunggu kedatangannya.


"Omaaaa, bikin kaget kaya hantu tau gak?"


"Kamu dari mana? ini jam berapa?"


"Aku abis ketemu Sun oma, membicarakan hubungan kita," Joe mengambil tempat di samping oma Manda.


"Oma sendiri ngapain disini jam segini?"


"Oma lupa kenapa oma disini, yang pasti oma pengen bicara sama kamu."


"Aduuuh oma bisa gak pikun oma itu di obatin? haaaah."


"Truss gimana huhungan mu sama Sun, dia anak baik loh harusnya kamu bisa lanjut sama dia."


"Aku juga maunya begitu oma, tapi aku gak tau isi otak nya itu apa?"


"Maksudnya?"


"Dia mau aku nikahin Rain, padahal dia tau bukan aku pelakunya. Di bilang sampe bayi itu lahir."


"Sun memang anak baik dia lebih mikirin saudaranya dari pada perasaan nya."


"Tapi disini Joe korbannya oma."


"Tapi ada baiknya kamu pikirkan dulu, menikah itu bukan permainan. Kalau kamu memutuskan menikah, alangkah baiknya itu untuk selamanya, bukan buat kembali bercerai meskipun bayi itu bukan anakmu."


"Entah lah oma, kepala Joe rasanya mau pecah."


"Sudah, istirahat... Mulai besok kamu oma suruh belajar mengurus kantor."


"Apa oma?"


"Kamu sudah dewasa, apalagi kalau kamu memutuskan menikah, kamu harus punya pekerjaan. Jadi besok kamu mulai bekerja di kantor ya."


Aaah bakal ribet urusannya


"Bisik bisik apa kamu?"


"Enggak oma, oke siap oma."


Oma Manda mengusap kepala cucunya. Cucu semata wayangnya yang selama ini dia besarkan. Meskipun selalu membuat ulah, Joe tetap lah satu-satunya yang ia punya.


*****


"Apaaaaaa????"


Masih pagi. Teriakan mama Joe yang biasa di sapa Nyonya Jenny itu, terdengar hampir di seluruh sudut rumah.


"Aaaah akhirnya kita bakal punya cucu pa." lanjutnya sambil meringis kegirangan.


"Cuca cucu cuca cucu, cucu nya siapa? emang dia hamil anak siapa?" jawab laki-laki yang duduk di sampingnya.


"Iiih pa, gak boleh gitu... Kalo Joe setuju mau menikahi nya biar bagaimanapun, bayi itu akan jadi cucu kita."


Pria yang memakai kaos polo berwarna biru itu hanya melengos. Dia seperti tidak terima mengetahui anaknya akhirnya menyetujui pernikahan itu.


"Apa sih yang dipikir anak itu? mau-maunya dia menikahi perempuan hamil mana bukan anaknya lagi."


"Joe sudah dewasa dia berhak membuat keputusannya sendiri," tegas oma.


"Dia juga akan mama tempatkan di kantor pusat untuk menjadi wakil CEO," lanjut oma.


"Ma apa gak terlalu terburu-buru?" tanya papa Joe yang biasa di sapa Tuan Adhi.


"Dia bakal butuh biaya buat rumah tangga nya. Lagi pula lulus S2 dengan nilai bagus sudah cukup untuk menjadi modal. Dia hanya perlu menyesuaikan diri saja."


"Bagus ma, akhirnya kita bisa melihat anak kita mandiri dan di hormati. Dia buka lagi Joe si playboy sekolah dan anak-anak remaja nakal lagi," ucap mama Jenny.


Joe berjalan menghampiri ruang tengah. Tempat keluarga berkumpul.


"Udah keren belum?" tanyanya berusaha santai. Menutupi ketegangan yang ia rasakan.


Nyonya Jenny mengacungkan 2 jempol.


"Anak mama keren, gak ada tandingannya."


"Iya lah kan mirip papanya," sahut Tuan Adhi.


"Papa gak siap-siap?" tanya Nyonya Jenny


"Oow iya papa lupa, bentar ya papa siap-siap dulu, bentar aja kok."


Tuan Adhi menepuk bahu Joe. Kemudian berjalan menuju lantai atas.


"Santai Joe, muka kamu tegang banget," ledek oma.


"Iya, ini baru perkenalan kantor loh, belum kalo nanti lamaran, apalagi pernikahan," sahut mama.


"Apaan sih ma."


*****


Semua petinggi Cristal Group berkumpul di ruang meeting. Jumlahnya sekitar 12 orang. Duduk sejajar saling berhadapan. Beberapa diantaranya adalah perempuan dan sebagian besar lagi laki-laki.


Joe memasuki ruang Meeting di dampingi papa nya Tuan Adhi. Yang tetap terlihat elegant di usia nya yang sudah kepala lima. Dengan setelan jas hitam yang di padukan kemeja biru langit. Juga dua pengawal yang berjalan mengikuti mereka di belakang. Lalu berhenti di ambang pintu. Berjaga disana, memastikan Meeting berjalan lancar.


"Pagi semua?" sapa Tuan Adhi dengan santai dan ramah.


"Pagi Tuan..." Jawab semuanya.


"Kenal kan ini anak saya, Jojoe Nugroho. Mulai hari ini dia akan menduduki jabatan sebagai Wakil CEO, menggantikan Tuan Firman yang di pindahkan ke kantor cabang," Tuan Adhi menjelaskan dengan gayanya yang ringan tapi tetap formal.


*waaaah ini kan anaknya yang suka pacaran sana sini itu.


Iya kabarnya suka clubbing juga.


Emang nya bisa dia mimpin perusahaan nanti jangan-jangan yang ada berantakan lagi proyeknya.


Biasa kalo anak pemilik perusahaan mah enak gak usah kerja keras tau-tau jadi CEO*.


terdengar bisikkan para karyawan yang membicarakan keburukan Joe dan meragukan kinerja nya. Tapi Tuan Adhi tetap tersenyum menanggapinya.


"Anak saya ini dulunya bandel banget, tapi sekarang dia sudah dewasa, saya rasa dia bisa memberikan yang terbaik bagi perusahaan kita. Mohon kerja samanya ya semua," ucap Tuan Adhi yang berusaha terlihat tetap tenang.


Joe hanya diam terpaku, kakinya bergetar karna gugup. Mulutnya terkatup rapat tidak bicara sepatah katapun.


"Untuk mendampingi pekerjaan Wakil CEO muda kita ini, saya sudah memilih sekretarisnya, yaitu Nyonya Bianca."


Seorang wanita cantik berpenampilan elegant dengan blezer merah maroonnya, terkejut. Dia langsung menatap tajam kepada Joe.


"Nyonya Bian kan sudah 10 tahun bekerja disini, jadi pasti bisa membimbing anak saya, mohon bantuannya ya Nyonya Bian," ucap Tuan Adhi sambil menundukkan kepala.


Bianca, wanita pendiam yang terkenal jutek dan galak. Di kenal pula dengan hasil kerja nya yang rapi dan cekatan. Mengangguk kan kepalanya tanpa berkata apapun.


Wajahnya yang antagonis di tambah lipstik merah gelapnya menambah kesan menakutkan. Rambut panjangnya yang di ikat rapi ke belakang membuat kesan bijak pada dirinya.


"Oke saya rasa sudah jelas semua. Mulai hari ini saya harap kalian bisa bekerja sama ya, Nyonya Bian tolong antar Tuan Joe ke ruangan barunya ya."


Tuan Adhi meninggal kan ruangan. Di ikuti karyawan lain. Joe tertinggal disana.


Bianca menghampirinya.


"Ayo, saya antar," ucapnya dengan wajah datar


"Baik."


Hari itu menjadi hari pertama Joe belajar menjadi Wakil CEO. Di temani sekretaris barunya yang cantik, galak, dan tegas satu lagi jarang tersenyum.