
*****
Adi*********29
"Parah loe bro...."
Auli***************aj
"Uuuuuh romantis bangeet"
Kina******kh
"Yang ngerekam kok malah kaget sih? sampe jatoh gitu hpnya"
Dan banyak lagi orang-orang yang koment di vlog aku. Rata-rata pada memuji keromantisan huhungan Rain dan Jojoe. Tapi sebagian lain juga ada yang gak suka dengan apa yang mereka lakukan di tengah acara pesta. Aku? jelas aku marah. Tapi aku bisa apa? menghapus video vlog itu aja aku gak mampu. Biar lah video itu tetap disana, terpajang di akun ku. Rain pun gak ada komentar apapun. Padahal dia jelas sudah menontonnya. Dia malah sepertinya berterima kasih padaku, karna aku telah membantu menunjukkan keharmonisan hubungan cintanya.
Aaaaah hari ini hari pertama om Farid tinggal disini. Rasanya agak canggung punya papa baru. Apalagi aku yang memang dari awal gak terlalu menyukai om Farid, eh maksudku papa Farid.
Tapi berbeda dengan Rain. Dia lebih terlihat dekat dengan papa. Dia berusaha berbaur dan akrab dengan papa. Ke kampus pun sekarang papa yang antar jemput dia. Aku? tadinya papa juga mau antar jemput aku buat kerja. Tapi aku menolak, aku merasa gak nyaman kalo harus kemana-mana nelpon dia minta antar jemput, walaupun kelihatannya dia tidak keberatan.
*****
Aku duduk di kursi makanku sambil menggoyang-goyangkan sendok di tanganku. Piring ku masih kosong. Padahal, ada banyak menu di meja. Aku belum mau memulai sarapanku tanpa siapapun disini. Aaaah kenapa orang-orang lama banget sih, aku mulai bergumam jangan-jangan gak ada yang bakal sarapan.
"Mbak? kok gak di makan to sarapannya"
Sapaan bi Nur mengagetkan ku. Aku hanya tersenyum. Sebenarnya suasana hatiku belum benar-benar stabil. Aku masih memikirkan kejadian di pesta pernikahan mama. Dan yang lebih menyakitkan, aku tak cukup kuat untuk menunjukkan kekecewaanku pada siapapun.
"Orang-orang kemana sih bi? tumben jam segini belum ada yang turun sarapan?"
"Gak tau juga mbak, mau saya panggilin kah mbak?"
Aku mengangguk mengiyakan saran bi Nur. Tapi baru saja bi Nur akan naik tangga, sudah terlihat Rain disana. Ia berjalan turun tangga dengan dress pendek berwarna hitam gold. Penampilan Rain agak mencolok hari ini. Entah karna alasan apa, dia berdandan cantik. Tidak seperti hari-hari biasanya.
"Lah ini mbak Rain, sudah di tungguin mbak Sun loh dari tadi"
Rain hanya tersenyum membalas ucapan bi Nur. Ia mengambil tempat persis di hadapanku.
"Loe mau kemana sih? cantik banget"
"Enggak, gue ngerasa setelah punya papa baru gue harus terlihat lebih cantik"
Aku tersenyum aneh. Alasan macam apa itu? gak masuk akal.
"Truss mana tuh papa loe?"
"Ih kok gitu sih nanya nya? dia kan papa loe juga?"
Aku hanya diam sambil mengambil nasi ke piringku. Tak lama, mama dan papa turun dengan membawa koper besar merah milik mama. Aku agak bingung, karna sebelumnya mama gak ada ngomong kalau mau pergi.
"Loh?? mama mau kemana?" tanya Rain
"Mama sama papa mau keluar kota dulu ya, mau honeymoon" jawab mama
"Oooob gitu? lama gak?" lanjut Rain
"Enggak kok, cuma 2 mingguan, kan gak bisa juga mama izin kerja lama-lama"
Aku hanya diam tanpa kata. Aaaah rumah bakalan sepi kalau begini.
"Enggak ma" jawabku singkat. Lagian aku bisa jawab apa? pendapatku gak akan di dengar juga.
"Gak lama kok Sun, sekali kali tinggal gak ada mama juga gak papa kan" kata papa.
papa seperti tau kalau aku kurang menyukainya. Ia berusaha akrab denganku, mencoba mengajakku ngobrol tapi, aku masih bersikap cuek. Aku sendiri pun gak tau kenapa hatiku berkata papa bukanlah orang baik.
"Aku duluan ma, hati-hati ya nanti"
Aku beranjak dari kursiku dan berlalu dengan agak lesu.
"Iya Sun" jawab mama. Wajah nya agak aneh, menatapku penuh tanya.
Rain juga begitu. Tapi dia tidak berkata apapun.
*****
Seseorang menarik tangan ku saat aku akan membuka rooling door toko. Aku kaget dan spontan menghempaskan tarikannya. Aaah ada Jojoe disana. Aku merasa makin sakit saat melihat wajahnya. Wajah penghacur kehormatanku. Wajah penghianat cintaku.
"Sun, maafin gue" ucapnya dengan nada penuh rasa bersalah.
Aku diam, wajahku kaku, hati ku beku. Aku tetap melanjutkan aktifitasku, dan membiarkan Jojoe tetap berdiri di luar.
Dia mengejarku kedalam toko lalu mendekap ku dari belakang.
"Pliss Sun, gue gak bisa kehilangan loe... Gue di posisi yang salah, Rain bakal gak terima alasan kalo tiba-tiba gue nolak untuk..."
kata-katanya terhenti. Aku berbalik badan dan menatap wajahnya yang tertunduk.
"Untuk apa? untuk ciuman? loe pikir gue percaya kalo Rain yang ajak loe ciuman?"
Aku benar-benar gak habis pikir. Kenapa hatiku harus berlabuh padanya. Benarkah dia orang yang tepat untuk kucintai. Entah lah, aku hanya berlalu pergi menuju meja kasir. Berusaha untuk menghindari Jojoe.
"Jadi loe pikir gue main-main sama loe? oke gue bakal putusin Rain sekarang, gue gak punya alasan untuk tetap bersama Rain, karna gue sayang sama loe, makanya gue setuju lanjutin hubungan gue sama dia"
Jojoe pergi keluar pintu. Tapi entah kenapa kakiku spontan lari dan menahannya.
"Loe gila Joe? Rain bakal hancur banget kalo loe putusin dia, apalagi sekarang mama gak ada, aku gak mau dia syok dan masuk rumah sakit lagi"
"Kalo gitu pliss jangan gini ke gue, gue gak bisa jauh dari loe"
Aku terdiam, hatiku pun akhirnya luluh. Lagi-lagi aku yang mengalah disini. Jojoe memelukku, tapi aku tidak membalas pelukannya. Aku masih Kaku berdiri disana. Hatiku masih sedikit terluka.
Mataku mengarah ke luar jendela. Kudapati ada Rain datang memasuki toko. Dengan cepat ku lepaskan pelukan Jojoe dan berlari kemeja kasir. Jojoe sempat bingung tapi saat dia lihat Rain memasuki pintu, Jojoe seperti tau jalan dramaku.
"Joe? ngapain loe kesini pagi-pagi?" tanya Rain dengan nada agak curiga.
"Tadi dia nyari loe" jawab ku beralasan
"Ooowh, padahal gue belum kasih tau kalo gue mau kesini, mungkin karna ada ikatan batin kali ya" jawabnya sambil tersenyum genit.
"Truss loe ngapain kesini? gak biasanya?" tanyaku pada Rain
"Enggak, pengen aja kesini, di rumah sepi, gue juga lagi malas ke kampus, Sun gue ikut loe kerja ya sampai mama papa balik"
Aku dan Jojoe saling menatap. Ini seperti sebuah ancaman untuk hubungan backstreet ku dan Joe.
Tapi aku merasa Rain seperti sengaja melakukan itu. Dia seperti beralasan karna mencurigai sesuatu. Entahlah, yang pasti makin kesini hubungan ku dan Jojoe makin tidak baik.