
*****
Sudah 2 minggu sejak papa dan mama pergi liburan. Rumah terasa sangat sepi. Di tambah lagi Rain yang kemana mana selalu ikut aktifitas ku. Aaaaah rasanya ruang gerakku semakin terhimpit. Hubungan ku dan Joe terasa seperti di awasi. Aku merasa tidak leluasa, tidak nyaman karna Rain bertingkah seperti penguntit.
Dia seperti mencurigai sesuatu. Tapi berusaha untuk tidak menunjukkan nya pada siapapun. Tingkahnya menggambarkan segalanya. Mulai dari mengikutiku ke toko, tidur satu kamar denganku, mulai mengawasi siapa saja yang menghubungi ponselku, mengotak-atik perabotan dan barang-barang ku.
Sikap aneh itu rupanya juga menimpa pada Joe. Rain terlihat makin posessive. Selalu ngajak ketemuan, sehari bisa tiga kali. Kadang sampe tengah malam Joe masih mangkir di rumah karna di larang pulang sama Rain. Selalu ngecek ponsel Joe. Bertanya penuh kecurigaan, dan masih banyak lagi hal aneh yang selama ini gak pernah Rain perbuat.
Pagi ini pun dia masih saja menguntit ku ke toko. Beralasan ingin membantu, padahal kalaupun ada Customer dia malah acuh.
Ku simpun beberapa barang yang masih berserakan di atas meja kasir, sisa tadi malam. Saat ku buka laci, aku melihat buku diary bergambar awan pemberian Joe. Awalnya aku biasa saja. Tapi kemudian aku baru sadar harus nya buku itu tidak berada di sini. Aku ingat dengan jelas, aku menyimpan diary itu di laci meja ku di rumah. Tapi, kenapa sekarang buku ini tidur disini.
Aku melirik ke arah Rain yang terlihat cuek dengan apa yang aku kerjakan. Dia duduk di salah satu bangku di toko sambil mengotak-atik gadget nya. Apa Rain yang sudah meletakkannya disini. Kalau benar dia, itu berarti dia sudah membaca semua isi diary ini. Itu berarti dia tau semua isi hatiku, dan juga hubungan backstreet ku dengan Joe.
Seketika jantungku berdegup kencang. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba seperti memukul ku. Perasaan sakit, takut, dan panik bercampur menjadi satu.
"Sun!!!"
Panggilan Rain mengagetkan ku. Segera ku tutup laci kasir yang sedari tadi kubuka.
"Kenapa sih?"
Rain berjalan mendekatiku.
"Aaaah enggak!!"
"Enggak.... Enggak!!! tapi muka loe pucet gitu, kaya ketahuan maling tau gak muka loe itu"
Ledekan Rain seperti benar adanya. Ya, aku memang ketahuan, aku memang kepergok, menjalin hubungan di belakang nya, dengan kekasihnya. Tapi ini bukan salahku. Dia yang memulai, dia yang memaksaku berada di posisi ini. Kemudian dengan rasa tidak bersalahku ini, aku merasa harus memperjuangkan cintaku. Toh lagipula Joe gak pernah bener-bener cinta sama dia. Kalaupun ada yang harus mengalah, itu bukan aku.
Beberapa Customer memasuki toko dan memilih milih barang. Aku berjalan ke ruang belakang untuk melayani mereka.
"Ini berapa mbak?"
Aku menunjukkan harga di barcode barang. Sementara yang lain ada yang memintaku untuk membungkus parcel. Aku begitu sibuk dengan pekerjaanku. Sedang kan Rain sama sekali tidak membantu. Dari awal aku tau, tujuannya ke toko bukan untuk membantuku. Tapi hanya untuk mengawasi ku, mempersempit ruang gerakku untuk berhubungan dengan Joe.
Begitu banyak pekerjaan sampai-sampai aku tidak sadar, sejak kapan Joe disana. Termangu di hadapan Rain. Wajah nya menatap ke arah Rain seolah mendengarkan semua cerita dan curhatan pacarnya itu. Tapi aku bisa jelas melihat bahwa tatapannya kosong. Pikirannya tidak disini, entah kemana. Jauh berbeda saat Joe sedang berbicara denganku. Dia menatapku, memperhatikan ku, selalu tersenyum dan tertawa kecil jika ada yang lucu.
Dari cara Joe memperlakukan Rain, makin terlihat jelas bahwa Joe tidak mencintai Rain. Dia tidak mendapat kebahagiaan dari hubungan itu. Heh, aku makin gigih untuk maju merebut Joe. Siapa takut? siapa yang salah? siapa yang memulai? Aku tidak peduli. Joe harus membayar apa yang sudah dia ambil dariku.
"Eh ada elo Joe!!" sapa ku menghampiri mereka
Wajah Joe berubah, Ia langsung tersenyum melihatku. Rain seperti menyadari itu. Rain langsung berusaha agar Joe tak mengalihkan perhatiannya. Tangan Rain meraih tangan Joe.
"Eeeem mau kopi gak?" ucap Rain mengalihkan perhatian.
Joe terlihat tidak enak untuk menolak, Joe mengiyakan tawaran Rain.
"oke" jawab ku dengan wajah sedikit kesal.
Ku bawakan 3 cangkir kopi. Ku letakkan satu di hadapan Rain. Satu lagi di hadapanku. Satu lagi di hadapan Joe. Tapi tangan Joe menyenggol cangkir dari tanganku. Membuat kemeja Joe basah karna kopi itu. Tidak, aku yakin betul Joe sengaja melakukannya.
"Aduuh Sun gimana sih!!" ucapan Joe meninggi.
"Gue gak mau tau, sekarang juga loe bersihin kemeja gue" lanjutnya
Aku agak bingung. Ku lirik Rain yang sibuk mengelap meja. Kemudian ku tatap Joe, matanya berkedip satu. Aku mulai tahu jalan dramamu, Joe.
Aku mengikuti Joe yang berjalan duluan ke toilet belakang. Ku ambil tisu yang menggantung di dinding samping washtaffle. Aku mengelap kemeja Joe yang kotor karena kopi. Astaga tindakan konyol apa ini. Semua orang tau noda itu tidak akan bersih hanya dengan di lap tisu. Joe hanya beralasan.
Joe memegang tanganku. Menatapku dalam, kemudian tersenyum. Aku kembali melempar senyum sambil terkekeh. Menertawakan drama kecil kita barusan. Selalu perlu sedikit drama untuk kita agar bisa saling bertemu, saling mengobrol dan tertawa kecil bersama.
"Lucu?" tanya nya
"Apanya?"
"Barusan..."
"Heheh..." aku terkekeh lagi, memperlihatkan gisul kecilku.
"Aku kangen kamu, Sun! kangen ketawa bareng kamu, kangen jalan sama kamu, sampai kapan kita terus sembunyi begini?"
Aku diam, wajahku termangu pada sosok Joe. Aaaah aku juga kangen, batinku selalu menjerit setiap kali melihat kamu bersama Rain. Andai aku bisa mengatakannya di hadapan Rain.
"Udah, entar Rain curiga" ucapku sambil berlalu.
Joe menarik ku, mencium keningku, lalu hidungku, lalu bibirku. Aku tersenyum, tanpa membalas ciumannya. Aku berjalan keluar toilet dan sekilas aku seperti melihat seseorang dari balik pintu. Aku mempercepat langkahku, memastikan itu bukan Rain. Tidak, tidak ada siapapun disana. Aku lega.
Aku kembali ke meja depan. Rain masih disana. Ia tersenyum tipis sambil berkata
"Gimana? udah kamu bersihin?"
"Udah" jawabku.
Ku tatapi wajah Rain, Ada bekas airmata di pipinya yang berusaha ia tutupi. Aku langsung berpikir apa Rain melihat ku dan Joe tadi. Aku berusaha meyakinkan diriku kalau Rain tidak mengetahui apapun tentang huhungan kita. Tapi makin kesini, situasi nya makin jelas. Sikap Rain, Kata-katanya semua kecurigaannya seperti gambaran jelas bahwa sebenarnya aku dan Joe sudah kepergok.
Joe keluar dari toilet, menghampiri kami dengan kemeja nya yang sedikit basah karna ia bersihkan dengan air. Rain tersenyum.
"Gue antar pulang aja yuk, loe kayanya harus ganti baju deh" ucap Rain
Joe mengangguk, merekapun pergi keluar toko. Dari jendela ku tatapi mereka yang terus bergandengan sampai masuk ke mobil. Aku tidak bisa bayangkan perasaan Rain kalau saja dia benar-benar tau hubunganku dengan Joe. Pasti perlu hati yang sangat kuat untuk berpura-pura tidak tau seperti itu.